a Retrieval of something that bothers my mind
Gw terbangun di sela-sela tidur siang gw karena sebuah telefon sebenarnya. Sebetulnya tidur siang gw juga tidak sebegitu nyenyaknya sih. Banyak yang gw pikirkan. Ketika gw terbangun ya pikiran itu masih terus menghantui gw aja. Sudah agak lama hal ini terjadi sama gw dan gw mulai membenci kondisi ini. Jujur gw sangat amat terganggu oleh semua pikiran-pikiran ini.
Salah satu masalah terakhir yang terjadi di hidup gw sebetulnya bisa saja dikategorikan sederhana, hanya untuk mensugesti sih. Ada kalanya gw merasa ya gw memberat-beratkan ini semua aja. Mungkin gw belum terbiasa aja, belum mampu menerima aja. Gw bisa menertawakan hal ini atau menghina secara sinis, tetapi ya faktanya tetap saja ini masih mengganggu dan cukup menyakiti hati gw.
Mungkin sebenarnya memang ada hal-hal yang belum sempat tersampaikan saja dan ada hal-hal yang belum gw temukan jawabannya. Bukan gw menahan untuk berbicara atau bertanya, tapi buat apa? Kadang-kadang gw harus sadar ya sudahlah sudah lewat juga, rasionalisasikan lagi semuanya. Nggak baik juga buat gw terlarut terus-menerus dalam masalah seperti ini.
Setiap hari gw bangun dan gw mensugesti diri gw sendiri untuk maju, berdiri, dan menghadapi semuanya dengan senang-senang saja..senyum aja. Bahkan mungkin secara tidak sadar gw melakukan hal tersebut bukan hanya day to day tapi second to second.
Sebenarnya pada saat gw terjerembab dalam masalah ini awalnya cukup terguncang. Tapi waktu yang gw butuhkan untuk mengembalikan kepala gw ke “atas” tidak lama. Gw cukup logis untuk mengembalikan semuanya ke batas normal dan gw bisa senyum-senyum aja dengan semuanya. Gw bisa menghadapinya dengan tenang, memanage smuanya dengan rapi, bahkan menyelesaikannya dengan kepala dingin.
Masalah ini pun selesai ya karena memang gw yang memutuskan untuk selesai. Tentang bagaimana cara yang gw pilih untuk menyelesaikannya pun gw sebenarnya tidak mengerti apa itu salah atau benar. Tapi salah dan benar kan sesuatu yang hanya bisa dilihat nantinya bukan? Gw hanya melakukan hal itu dengan dasar pemikiran setiap gw melakukan sesuatu paling tidak harus ada benefit di balik itu. Nggak lucu gw memutuskan melakukan suatu hal yang bahkan gw nggak tau apa gunanya dan apa untungnya untuk hidup gw ke depannya. Gw bukan tipe orang yang menyia-nyiakan akal berpikir yang dikaruniai Tuhan.
Salah satu teman gw cukup heran dengan cara gw menyelesaikannya. Dia berpikir lebih baik memilih cara yang kasar untuk menyelesaikannya, paling tidak itu amat sangat memberi pelajaran bagi subjek yang sudah membuat masalah ini terjadi. Waktu itu gw hanya menghela nafas panjang dan tertawa kecil mendengar jawabannya. Ada cara-cara yang cukup anggun dan berkelas untuk menyelesaikan semua hal. Buat apa memilih cara yang kasar, ya katakanlah mengkomunikasikan masalah ini dengan marah-marah, menghina, dsb. Subjek tersebut juga berkata kalau reaksi gw dalam penyelesaian masalah ini di luar dugaan dia. Gw juga hanya tersenyum mendengar jawabannya. Ya ampun seberapa banyak sih orang-orang yang senang memperkeruh masalah yang sudah ada?
Mungkin dengan cara gw menyelesaikannya membuat si subjek mendapati kelegaan yang luar biasa, bersyukur, atau entah apalah itu. Ya faktanya memang begitu, subjek tersebut memang mengutarakan apa perasaannya setelah berdiskusi masalah tersebut dengan gw. Sebenarnya gw cukup kesal sih, ya harapan gw paling tidak dia mengakuilah kalau dia memang salah atau paling tidak menyadari deh. Gw amat sangat berharap dia 100% menaruh atensi, mengerti, dan mendengarkan semua yang gw katakan. Karena entah kenapa, ya subjektivitas gw aja sih, yang gw tangkap si subjek hanya ingin mendengar jawaban-jawaban yang dia inginkan aja, semacam confirmation bias, hanya mau menerima asupan yang memang sudah ada dalam pikirannya sendiri dan menolak asupan lain yang nggak mendukung hipotesis yang udah dia punya itu. Entah sepertinya hal itu membuat si subjek merelievedkan dirinya sendiri rasanya. Kadang-kadang ego orang untuk tidak ingin dipersalahkan memang besar. Tapi, semoga saja tidak sih, semoga gw hanya emosi, semoga..
Tentang memberi pelajaran sendiri sih ya gw hanya bisa berpikir memangnya gw Tuhan memberi pelajaran kepada seseorang? Lagipula usia kronologis gw juga lumayan jauh lebih muda ketimbang dia. Walaupun sudah terbukti dan sudah teruji kalau usia tidak banyak mempengaruhi tingkat kematangan berpikir katanya. Gw rasa subjek orang yang cukup cerdas untuk mengambil insight dari semua ini. Seharusnya sih, mungkin ini bentuk pembelajarannya. Gw juga tidak tahu. Gw tidak suka mengajar-ngajari orang apa yang baik dan tidak untuk hidup mereka, gw hanya suka memberi saran saja bila dibutuhkan.
Gw hanya tidak ingin menjadi sebuah lelucon saja dalam hidup si subjek atau menjadi sebuah cerita yang memalukan saja. Normal kan kalau orang ingin diingat orang lain dalam hal yang baik? Makanya marah-marah bukan pilihan komunikasi pertama yang gw lakukan dengan banyak orang.
Anggap saja masalah ini adalah alat bantu gw untuk ke depannya. Dengan adanya masalah ini dan gw bisa senyum-senyum saja dan menertawakannya membuat gw bisa bangun kembali menjadi orang baru, pribadi yang lebih lengkap, dan membantu gw menyikapi segala macam hal dengan lebih tenang. Salah seorang teman lama gw yang namanya sassy pernah berkata bahwa dia mengenal gw sebagai pribadi yang ketika dijatuhkan gw akan berdiri cepat dengan gengsi yang gw miliki dan akan jauh meningkatkan harga diri gw dari sebelumnya, thank you sass.
Proses merasionalisasikan semua hal ini memang tidak mudah, tapi ya harus, gw punya hidup yang berharga untuk dijalani bukan hanya untuk didiamkan dan ditangisi. Faktanya gw memang bukan tipe orang yang melarikan diri atau melampiaskan semua hal dengan selalu menangis. Biarpun teman-teman gw bilang bahwa itu membantu gw sesaat. Tapi ya gw nggak butuh sesuatu yang sesaat, lebih baik waktunya gw gunakan supaya bisa melakukan hal lain yang lebih ada gunanya bagi pemecahan masalah gw, singkatnya gw selalu mengusahakan apa yang bokap gw pernah bilang, yaitu berpikir taktis pada banyak hal.
Mungkin hal yang gw rasakan sekarang hanya emosi sesaat. Kadang-kadang kita teringat kan sama hal-hal yang buruk? Apalagi belum lama terjadinya. Ketika memori buruk itu dikeluarkan lagi dari dalam otak memang tidak menyenangkan, membuat senyuman gw berhenti sebentar. Tapi ya nikmati sajalah, mungkin fase yang sekarang ini belum cukup membuat gw bisa menghadapi semua hal tenang-tenang saja. Setidaknya sekarang gw belajar untuk lebih tenang.
Gw memilih untuk melarikan pikiran gw ini dengan menuliskannya. Ya ini bagian dari katarsis gw, daripada berlama-lama gw pendam dan makin membuat gw gelisah? Ya gw tuliskan saja, ini mungkin sesaat sih, tapi bergunalah Insya Allah. Haha kontradiktif, tadi gw bilang gw nggak suka sesuatu yang sesaat, paling enggak gunanya lebih banyak ketimbang menangisi nggak penting. Yah iya sih harus diakuin kadang-kadang kita melakukan hal yang kita nggak suka juga kan? hehe
Segitu saja deh, maaf sulit dimengerti, tapi pasti ada yang bisa mengerti tulisan gw ini hehe. Ya yang pasti seperti sebuah kalimat yang gw lihat dari sebuah majalah, bunyinya begini, “Don`t cry because it`s over, smile because it`s happened.” Susah sih, tapi bisa lho dicoba, bisa jadi penerapan juga buat temen-temen 2007 psiko, itu lho penerapan facial feedback theory yang soalnya si Darwin itu, yang kemaren ada di UAS haha dan gw jawabnya salah, tapi semoga prakteknya nggak salah hehe. Oh iya maaf ya kalau ada yang tersinggung, gw nggak bermaksud, hanya ingin menulis aja kok hehe-fin

Recent Comments