Posted by: saskhyaauliaprima on: June 18, 2008
“Pertanyaan terakhirnya adalah apakah dia type orang yang mencari aman atau berani menghadapi tantangan?”, Gw terkesiap luar biasa sama kalimat pertanyaan dari Smita beberapa hari yang lalu. Ya, adalah sebuah masalah yang gw ceritakan kepada dia terus disimpulkan dengan kalimat pertanyaan tadi dan nggak gw jawab. Soalnya jelas banget subjek yang diomongin ini jenisnya yang mana dan nggak etis kalau panjang-panjang diceritain.
Pertanyaan si Smita tadi cukup menghantui gw berhari-hari sih. Belakangan juga banyak temen-temen gw yang punya masalah dengan hal-hal serupa. Maksud gw, masalah-masalah yang terjadi bisa saja dikaitkan dengan keberanian seseorang menghadapi sebuah tantangan atau tidak. Paling gampang bisa dilihat dari cara mereka menghadapi masalah-masalah yang ada hubungannya dengan lovelife sih, ya wajar aja soalnya yang banyak diceritain mereka ke gw adalah hal-hal seperti itu.
Dari cerita-cerita yang gw dapet, gw teringat sama sebuah teori yang beberapa hari lalu baru gw baca. Teori yang gw baca didapat dari sebuah buku berjudul Adversity Quotient (AQ) karangannya Paul Stoltz. AQ ini mengarah kepada kecerdasan mental dan kemampuan seseorang dalam menghadapi suatu tantangan. Disebutkan kalau kesuksesan seseorang tidak hanya bergantung pada IQ dan EQ yang mereka miliki, AQ juga sangat diperlukan untuk mencapai kesuksesan. Stoltz membagi type orang menjadi 3, dia menganalogikannya dengan 3 type pendaki gunung. Ada yang namanya Climbers, Campers, dan Quitters.
Ada cerita dari teman gw, anggap saja teman gw bernama Jati. Ia merasa bersalah dengan seseorang pada masa lalunya yang sekarang ketika dia ingin mendekati orang ini lagi, agak sulit, karena sekarang terdapat tembok batas yang besar di antara mereka berdua. Orang di masa lalunya ini kelihatannya sudah nggak ingin mengulang apapun dengan si teman gw ini. Jati putus asa dan jadi tidak ingin melakukan apapun juga, padahal dia tau apa yang seharusnya dia lakukan, dia punya tujuan lain, tapi dia nggak mau melakukannya, ia sudah menyerah duluan, merasa semuanya nggak mungkin. Udah nggak ada jalannya lagi dan sekarang malah hidup berhari-hari depresi sendiri, sendu terus, tanpa mengusahakan apapun.
Dari kejadian tadi gw jadi inget type orang yang digolongkan sebagai Quitters. Gw hanya baca sedikit sih, Quitters di sini maksudnya orang-orang yang berhenti di tengah jalan dalam proses pendakian. Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan. Lebih jauh lagi dicirikan dengan pribadi yang tidak mau bekerja keras, maunya yang mudah, tanpa tantangan, mudah stress, mudah melarikan diri dari masalah.
Menurut kesimpulan gw dengan amat sangat sedih gw bilang Jati, kok dia jadi quitter gitu ya? Gw menjelaskan ke dia apa maksud dari pertanyaan gw dan dia nggak bisa menjawab apapun. Dia lagi stress dan melarikan masalah-masalahnya ke hal-hal yang sifatnya kesenangan sementara, intinya nggak bagus buat kesehatan fisik dan mentalnya dia lah. Dia berhenti di tengah jalan dengan nggak ingin melakukan apapun, dia pasrah aja, padahal gw tau dia punya potensi yang banyak yang bisa dia gunakan untuk terus berjalan ke depan dan mendapatkan hasil yang baik. Ya tapi dia memilih untuk menjadi begini saja dan gw tidak bisa memaksa orang, biar nanti dia sendiri yang sadar dan menjalaninya, gw pun nggak pernah tau apa hal ini benar dilakukan atau tidak untuk ke depannya, gw nggak mau menyalahkan keputusan orang untuk memilih menjadi sesuatu.
Beberapa waktu lalu juga gw sempat mendengar masalah di mana salah seorang teman gw sudah dekat lama dengan seseorang, sebut saja namanya Mawar, tetapi kemudian malah si Mawar memutuskan untuk menjalin relationship dengan orang lain. Dia bilang si Mawar hanya tiba-tiba mendatangi dia untuk meminta maaf karena memilih orang lain. Mawar bahkan tidak bisa menjelaskan kenapa dia lebih memilih orang lain, padahal si Mawar tau jelas-jelas dari banyak aspek teman gw ini istilahnya kualitasnya lebih bagus. Teman gw jadi bingung dengan penjelasannya, agaknya si Mawar memilih orang lain karena orang ini entah lebih membutuhkan dia atau apapun alasannya nggak jelas.
Tadinya gw berpikir mungkin itu hanya excuse-nya si Mawar aja bilang kalau temen gw lebih dari aspek manapun, tapi ternyata si Mawar berterus terang kepada sahabatnya memang itulah pendapat jujurnya, bahkan sebelum si Mawar minta maaf si teman gw ini sudah diceritakan begitu. Eh si Mawar malah minta maaf dan bilang sejujur-jujurnya, gw kira itu hanya alasan yang dibuat-buat biar nggak terlalu sakit aja teman gw, ternyata beneran aja lho.
Gw tertawa mendengar cerita teman gw ini, teman gw yang mengalami peristiwa ini berjenis kelamin pria. Gw pikir biasanya hal-hal itu dilakukan oleh cowok, ternyata cewek juga bisa melakukan hal itu. Yah, pengalaman yang pernah gw alami agak beda-beda tipis sih sama si teman gw ini. Gw jadi maklum dan mengerti perasaanya dikalahkan sama seseorang yang menurut penilaian orang-orang lain dan mungkin juga diri sendiri, nggak lebih baik dari dirinya. Itu ngeselin banget emang, tapi mau gimana lagi kadang-kadang nggak bisa juga memahami secara penuh jalan pikiran orang-orang yang melakukan hal ini, mereka punya alasan sendiri yang nggak usah capek-capek untuk dimengertilah, emang bikin pusing soalnya.
Gw setuju banget waktu teman gw bilang, “Gw nggak butuh dibilang nggak ada kurangnya,dsb.” , karena gw sempat juga mencetuskan kalimat itu. Ada sebuah quote entah dari siapa gw lupa, kira-kira bunyinya begini, “Women wish to be loved not because they are pretty, or good, or well breed, or graceful, or intelligent, but because they are themselves.“ Jadi aneh aja kan udah ada semua malah nggak berefek apapun, jadi seperti malah dengan kualitas yang ada malah nggak bisa diterima aja dan mungkin cowok-cowok juga kayak gitu kali ya, gw kurang mengerti, tapi kalimat itu cukup menggambarkan apa yang pernah gw rasakan.
Dalam kasus si Mawar ini gw bisa menggolongkan dia sebagai seorang camper. Ya dalam kasus gw, ya subjek yang berhubungan dengan gw ini bisa dikatakan camper juga sih. Di mana ciri-ciri seorang camper adalah bekerja keras sebatas yang menurut dia mampu dia lakukan, cukup-cukup aja gitu, nggak usah lebih lagi, padahal mereka punya potensinya. Ibarat kata moto hidup mereka “Ngapain capek-capek” atau “segini juga udah cukup“. Kalau diibaratkan dengan pendaki ya mereka ini pekemah yang nggak usah sampai puncak sudah puas, padahal inti yang paling penting sih mereka nggak menyelesaikan apa yang sudah dikerjakan. Setingkat di atas quitter sih, tapi tetap saja, kerjaannya nggak selesai.
Orang-orang ini tau apa yang lebih baik untuk hidup mereka, apa yang lebih mereka butuhkan, tapi nggak ngerti juga entah karena alasan takut atau nggak sanggup atau merasa nggak paslah mereka melakukan kegiatan camper ini. Gw juga nggak bisa menyalahkan orang-orang yang nggak mau jadi Risk-taker, karena ya mungkin emang mereka lebih penting merasa aman dan nyaman sendiri pada saat ini. Nggak tau deh ke depannya apa masih akan nyaman dan aman? Hehe.
Sebenarnya ciri-ciri camper yang paling mudah bisa dilihat dari teman-teman yang sekarang baru lulus SMA dan nggak berani ikut tes PTN dengan alasan udah nggak mau belajar lagi, udah capek, dsb, udah cukup di mana saja yang mau menerima dan mereka mensugesti diri mereka dengan bilang kalau tempat di mana mereka berada nggak buruk-buruk amat. Waktu beberapa teman gw yang mengalami hal ini bercerita kepada gw, gw jadi merasa yah sayang amat, padahal gw tau mereka pinter-pinter, mereka pasti bisa, Cuma nggak mau banyak usaha dan males ambil risk-nya aja. Tapi, yaudahlah kan pilihan mereka, gw juga nggak tau dan nggak bisa memastikan ke depannya akan terjadi apa kan? Siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi besok, coba ?! Good Luck lah buat kalian ya, hehe.
Terakhir, gw punya cerita yang cukup menarik untuk dihubungkan dengan mereka yang memiliki type sebagai Climber. Climber dicirikan sebagai seseorang yang selalu optimistik, selalu melihat harapan, dan selalu menetapkan sasaran-sasaran baru dalam kehidupan. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yang menghadang. Namun, di balik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan. Gw sempat membaca kalau motto hidup mereka itu kira-kira begini bunyinya, pantang menyerah, sukses = Gagal + 1, dan Gagal = berhenti mencoba.
Salah satu teman gw pernah menyukai seorang cewek dan baru akhirnya bisa mendapat si cewek ini setelah 3 tahun. Teman gw ini, sebut saja Mahoni namanya. Cewek yang dia dekati emang oke banget, dia pintar, attitude-nya bagus, dan physically juga oke, sementara mungkin pada awalnya si Mahoni minder karena dia nggak merasa punya quality sebanyak si cewek yang ingin didekatinya ini.
Mahoni sudah mengalami banyak cobaan, mulai dari pada saat mendekati si cewek ini nggak mau sama sekali, smsnya nggak dibales, telfon nggak diangkat, disapa aja susah. Kebetulan cewek ini teman baik gw juga, jadi gw tau seberapa nggak sukanya dia sama Mahoni. Kemudian berlanjut lebih melas lagi pada saat temen gw yang cewek ini jadian sama orang lain. Si Mahoni sedih sih, tapi dia nggak menyerah begitu saja, dia nggak mengganggu hubungan si cewek ini dengan pacarnya, tapi nunggu aja sambil berusaha berteman lagi setulus mungkin. Salutnya, emang si Mahoni nunggu dan nggak ngapa-ngapain, nggak ganggu hubungannya lah.
Tau-tau si cewek ini putus dengan pacarnya karena perbedaan keyakinan. Hebatnya Mahoni datang lagi ke kehidupannya dan memulai lagi dengan lebih baik, belajar dari kesalahannya. Lalu, nggak lama mereka akhirnya jadian dan ceweknya jadi sayang banget sama dia.
Gw salut banget sama kegiatan si Mahoni ini. Pada awalnya gw juga ngerasanya nggak mungkin banget dia bisa dapetin si cewek ini, ya tapi usahanya emang oke banget. Empat jempollah buat Mahoni hehe. Sesuai banget kan teman gw yang satu ini digolongkan sebagai seorang climber yang optimistic dan selalu melihat adanya harapan. Dia pantang menyerah banget, semua risk dia jalanin, walaupun nggak mudah tapi dia bisa menyelesaikannya dengan baik dan hidupnya jadi bahagia.
Hm, dari hal-hal yang gw certain di atas, sebenarnya masih banyak pertanyaan juga dari gw. Gw nggak tau gw jenis orang yang mana dan gw juga nggak tau jenis mana yang benar untuk dijalani. Gw nggak bisa dan nggak mau men-judge type camper, quitter itu salah dan climber yang benar. Faktanya, gw juga nggak tau. Udah gitu gw juga nggak tau analisis gw ini bener apa nggak, karena gw bacanya juga Cuma sekelebat aja, ini perspektif gw aja.
Yah well gw cuma mau bilang namanya juga orang hidup, mereka memilih sendiri mau jadi apa dalam hidupnya. Kalau ada yang ingin gw pilih ada sih, gw memilih type yang mana, tapi ya gw juga nggak tau apa gw sudah melakukan praktek-praktek yang sesuai sama type yang gw pilih itu, makanya gw nggak mau bilang gw type quitters, campers atau climbers, gw lebih ingin mengarahkan diri gw ke suatu type yang menurut gw lebih baik untuk dijalani. Yah, kalau kata si bapak gw sih, “Life is a matter of choice.”-fin
gw pnah tu sas awalny kalah saingan sm org lain..tp ujung2ny si cowo ke gw jg..hehe
yup.. life is a matter of choice.. choice is a part of life..!
goood writing..very very light much of an entertainment for the readers.. goooood job!!
June 21, 2008 at 5:06 pm
mau bgt deh gue nih dikenalin sama mbak MAWAR..