Posted by: saskhyaauliaprima on: June 21, 2008
Beberapa minggu yang lalu gw baru menonton ulang film Nagabonar Jadi 2. Gw emang suka banget sama film itu, jadi nonton itu berkali-kali juga nggak membuat gw bosan hehe. Anyway, point yang mau gw sampaikan bukan itu sebenarnya. Kalau nggak salah ingat di salah satu scene-nya ada bagian di mana si Deddy Mizwar bertanya kepada Wulan Guritno alasan apa yang membuat dia menyukai si Bonaga (Tora Sudiro)? Waktu itu Wulan Guritnonya menjawab dengan alasan bahwa Bonaga ganteng, pintar, kaya, dsb. Hal-hal tersebut cukup membuat si Bonaga disukai oleh wanita-wanita. Nah, gw setuju banget sama jawabannya Wulan Guritno, mencintai seseorang butuh alasan, buat gw itu undeniable.
Jawaban dari Wulan Guritno itu mengingatkan gw dengan diskusi beberapa bulan lalu antara gw dengan bapak gw. Waktu itu bapak gw protes dengan pertanyaan gw mengenai sesuatu. Kalau nggak salah sih gw bertanya tentang menyukai seseorang itu sebenarnya butuh alasan atau tidak? Kayaknya fakta yang ada di sekeliling gw lebih mengarah kepada statement “mencintai apa adanya”. Akhirnya setelah diskusi dan perdebatan yang panjang disimpulkan bahwa kalimat “mencintai apa adanya” itu benar. Ya emang benar, kalau kalimat itu sebenarnya pada intinya kalau kita mencintai seseorang dengan modalitas yang ada pada dirinya notabene apa yang ada dalam dirinya. Jadi statement-nya sama, dengan pemaknaan yang berbeda.
Agak membingungkan emang kalau gw hanya menjabarkan dari kalimat itu saja. Gw sempat membaca salah satu teori ekonomi, gw lupa nama teorinya apa. Kalau nggak salah berhubungan dengan tingkat kepuasan pelanggan. Ada perbedaan antara tipe-tipe apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pelanggan dan pengaruhnya terhadap perbedaan tingkat kepuasan mereka. Tipe-tipe tersebut dapat dibagi menjadi Basic Quality, Performance Quality, dan Excitement Quality. 3 tipe ini yang akan gw pakai sepanjang tulisan gw kali ini. Menurut gw tiga tipe ini cukup bisa dijadikan indikator alasan kita menyukai seseorang, semoga gw nggak sok tau.
Quality pertama adalah dari segi basic. Basic ini penjelasannya adalah sesuatu yang sudah menjadi persyaratan utama si customer. Dalam artian apabila tidak ada akan menimbulkan rasa ketidakpuasan, tetapi kalau kuantitasnya ataupun kualitasnya ditambah tidak meningkatkan kepuasan, semacam sesuatu yang wajib ada.
Contoh yang paling mudah dapat dilihat dari kebiasaan kebanyakan orang Indonesia yang memakan nasi sebagai makanan pokok. Pokoknya kalau makan harus pakai nasi, kalau nggak ada nasi kurang, tapi kalau nasinya ditambah terus-menerus tidak meningkatkan kepuasan kita.
Basic dalam topik yang gw bahas kali ini, sepanjang yang gw perhatikan biasanya terdapat pada hal-hal yang ada hubungannya dengan physically seseorang. Perlu gw tegaskan bahwa standard setiap orang berbeda-beda, mungkin saja ada orang yang menganggap physically bukan sebagai basic. Tapi gw akan menjabarkan menurut perspektif gw dulu.
Pernah nggak mendengar teman-teman sekitar bilang, “Gw pingin punya pacar tinggi” atau “Gw pingin yang putih”, dsb? Itu yang gw maksud dengan basic quality. Ya kalau gw sih memandang paling tidak sih si pria harus lebih tinggi dari gw, mau tingginya 170 atau ditambah jadi 180 dst sih nggak ngaruh, yang penting lebih tinggi dari gw. Kalau lebih pendek rasanya ada yang kurang aja, iya nggak? Menurut gw sesuai banget sama pemahaman dari basic quality sendiri dimana hal tersebut harus ada, kalau nggak ada pasti ada perasaan dissatisfied, tapi kalau ditambah kepuasannya juga nggak akan bertambah. Bisa saja orang punya banyak standar basic yang harus dipenuhi. Itu tergantung masing-masing sih.
Berikutnya gw akan membicarakan tentang Performance Quality. Performance di sini memiliki pengertian sebagai sesuatu yang menyebabkan respon linear dimana adanya peningkatan kualitas dan kuantitas dari suatu hal secara langsung akan berpengaruh searah dengan peningkatan kepuasan si customer. Semakin ditambah, semakin tinggi tingkat kepuasannya.
Kalau basic tadi gw contohkan dengan nasi, gw akan mencoba menganalogikan si performance ini sebagai lauk. Kalau kita makan dengan suatu lauk yang enak ketika lauk itu ditambah kita akan merasa semakin senang dan puas bukan?
Performance dalam diri seseorang untuk gw mungkin mengacu pada jalan pikirannya, wawasannya, tingkat kedewasaannya, caranya menjalani hidup, dan struggle of life-nya. Sekali lagi, setiap orang berbeda-beda standarnya. Ketika seseorang memiliki wawasan semakin luas dan dia berbicara dengan gw, gw akan merasa semakin senang. Ini bisa gw sesuaikan dengan perbandingan linear dari pemahaman performance quality yang apabila ditambah, tingkat kepuasan juga akan bertambah.
Terakhir adalah mengenai Excitement Quality. Excitement dijabarkan sebagai rasa kepuasan yang dihasilkan dari hal-hal yang tidak mereka ekspektasikan, bonus, semacam surprise, atau mungkin paling gampangnya tambahan. Kalau ada disyukuri, nggak ada juga ya nggak apa-apa lah.
Analogi paling gampang itu kerupuk. Kalau kita makan ada kerupuk kan asik tuh, nambah puas, tapi kalau nggak ada yang nggak apa-apa, nggak nambahin kepuasan, nggak ngurangin juga. Bukan begitu teman-teman?
Buat gw excitement seseorang bisa macam-macam. Misalnya, kemampuan seseorang dalam bidang seni, entah itu bermain musik, menyanyi, dsb. Atau bisa juga Interest-interestnya sama dengan yang gw miliki, misalnya suka menonton film jenis apa, atau suka artis siapa, dsb. Kalau physical-nya mungkin pakai kacamata, kalau kata temen-temen kuliah typical cucugan (culun-culun ganteng) haha atau rambutnya gimana, gayanya gimana, ya gitu-gitulah. Hal-hal tersebut merupakan excitements buat gw.
Sebenarnya dari quality-quality yang gw sebutkan itu bisa saja berbeda-berbeda untuk tiap orang. Pastinya emang beda sih. Bukan hanya berbeda dari jenisnya tapi juga penempatannya. Mungkin saja hal yang bagi gw excitement di orang lain menjadi basic ataupun sebaliknya. Ya tiap orang kan punya indikatornya masing-masing. Sebetulnya, secara nggak sadar kita melakukan ini, hanya saja banyak yang nggak terpikir atau tidak menemukan diksinya. Gw dapat banyak sanggahan dari pendapat gw yang satu ini, tapi nggak apa-apa gw juga nggak bisa memastikan bahwa ini 100% benarnya, gw bukan professor tapi doakan gw menjadi professor amiiiin.
Statement “mencintai apa adanya” menjadi statement yang menurut gw bisa diakui kebenarannya ketika bisa dideskripsikan dan dijabarkan dengan jelas. Semua harus ada alasannya menurut gw, semua bisa dirasionalkan dalam hal-hal ini, kalau hal-hal mistis, gaib, metafisik, dsb sih jangan diargumentasikan sama hal-hal ini lah ya.
Ketika kita bilang “mencintai apa adanya” ya itu berarti mencintai modalitas seseorang, apa yang ada dalam seseorang. Oke, kalau disanggah dengan kalimat, “Mana ada orang yang perfect yang memenuhi standard qualities tadi secara penuh?”, memang nggak ada. Coba cermati, setiap type punya lebih dari 1 jenis, misalnya saja dari basic mungkin seseorang punya 5 jenis kriteria, tapi kalau sampai criteria ke-3 sudah terpenuhi, 2 yang lainnya tidak ada, ya udah diterima aja. Itu baru namanya mensyukuri.
Hal-hal yang gw sebutkan tadi sebenarnya merupakan standard minimal. Bukan standard yang benar-benar “wah” atau perfect. Coba deh disadari pasti sebenarnya kita punya banyak kriteria kan? Tapi paling enggak memang harus ada standard minimalnya. Paling gampangnya nilai ujian, pasti punya target paling enggak minimal dapet B misalnya. Sama bukan? Ya, menurut gw sih kalau mau dicermati lagi itu sebenarnya tidak berbeda. Ini semua kan cuma common value aja.
Dengan menyadari hal-hal tersebut sebenarnya kalu dipikirkan lebih jauh lagi itu mempermudah kita untuk menghasilkan output yang sesuai. Input dan process yang dijalani harus sesuai untuk menghasilkan output yang diinginkan, bukan memaksakan output yang ada sebagai sesuatu yang diinginkan. Makanya jadi lucu kalau ingat jaman dulu waktu SMP atau mungkin SMA semuanya based on chemistry, nggak beralasan, jadi irrational, nggak jelaslah intinya kalau alasan yang bisa disebutkan hanya itu saja. Contohnya apabila ingin membuat tempe goreng. Bahannya adalah tempe+minyak+bumbu (dimasak) = tempe goreng. Jangan memaksakan tahu+minyak+bumbu (dimasak) = tempe goreng, itu nggak sama, maksa namanya.
Maksud adanya basic, performance, dan excitement ini bisa dipakai untuk teman-teman yang emang punya tujuan tertentu dengan seseorang ke depannya. Salah seorang senior gw menjabarkan dengan diksi, “nikah-able“. Itu terjadi ketika teman-teman gw sedang berdiskusi mengenai apa yang mereka harapkan dari seorang yang menjadi pacarnya atau seseorang yang ingin mereka jadikan pacar. Dengan mempunyai indikator yang jelas tentang hal-hal yang bisa membuat seseorang menjadi nikah-able misalnya, input , proses, dan output yang dihasilkan bisa sesuai dan nggak maksa kan?
Sekian dulu postingan gw kali ini. Sama seperti sebelum-sebelumnya, ini hanya perspektif gw yang gw sesuaikan dengan apa yang gw lihat saja. Semoga bisa membantu yang membaca. Kalau ada sanggahan atau tambahan boleh lho bilang-bilang, gw akan sangat berterimakasih, kan gw masih belajar juga hehe. Terima kasih banyak atas atensinya.-fin
terima kasih saski… tapi berkat baca blog lo gw jadi agak tercerahkan sedikit… gw tertarik dengan teori kualitas lo itu.. hehee…
tapi proses yang biasanya terjadi ketika kita mulai menyukai seseorang adalah basic-excitement-performance.
pertama-tama liat tampilannya dulu (basic), klo lumayan tertarik dan ternyata embel2nya bagus (excitement) baru deh dilanjutkan dengan mengobrol (performance), kalo udah ngobrol dan ternyata kepribadian, wawasan, dsb oke baru deh kita menilik ulang si basic-performance-excitement itu sekali lagi. haha. segaknya, itu yang terjadi sama gue kalo gue mulai ‘tertarik’ sama seorang cowo
- D! -
ooo ga maksa koq. its real. ya emang there is always a reason 4 everything. teruskan doktrin2 lo sas. kayaknya gw juga agak kedoktrin neh hehehe.
ukh, berat bgt tulisannya!
reason to love, indicate that we use our brain to love someone.. but actually love is not just ’bout reason and mind.. it’s ’bout our feeling
it’s the fact that we can’t control ’bout when to love or stop loving someone..
feeling has its own reason
feeling has its own logic or ‘reason’, so the consequence is the people just can’t expain their feeling! not ‘but’! haha..
you believe that feeling in many logical ways, can u explain that?? =)
yeah, I bet that’s only your false belief.. I was experince this phase too =)
Give up your false belief
Accept the truth
Accept yourself
Accept your feelings
=)
June 22, 2008 at 1:40 am
love is a strange thing, huh?
hmm nice thought anyway,
really get it to the core, hehe
“Kalau physical-nya mungkin pakai kacamata, kalau kata temen-temen kuliah typical cucugan (culun-culun ganteng)”
–sebenernya agak2 gimana gitu dengan kalimat ini, haha