Posted by: saskhyaauliaprima on: June 25, 2008
Tulisan ini gw persembahkan untuk salah seorang teman terbaik gw. Teman yang cukup mengenal gw dengan amat sangat baik. Terimakasih, karena amat sangat begitu mengertinya tentang gw. Tulisan ini, jadinya lama banget soalnya gw nggak mau mengecewakan, paling enggak di sini hal-hal yang belum gw sampaikan bisa dibaca dan terima kasih telah bercerita ke gw. Ini adalah hal-hal yang belum sempat gw sampaikan, semoga membantu dan semoga semua cepat selesai dengan baik, amin.
Beberapa minggu yang lalu gw bertemu dengan seorang teman lama gw. Teman gw ini adalah sosok yang gw kenal sebagai orang yang mudah bergaul dengan siapapun, punya sense of humor yang bagus, aktif dalam banyak organisasi, musisi, puitis dan juga berbakat dalam bidang olahraga. Akademispun tidak kalah bagusnya. Dia pribadi yang menyenangkan, mudah disukai banyak orang, walaupun terkadang bisa sangat melankolis. Dia idealis, tapi dia wise, dia salah seorang teman berdiskusi yang menyenangkan. Dia punya banyak kelebihan yang membuat gw kagum pada sosoknya.
Setelah beberapa tahun nggak bertemu ternyata gw melihat banyak perubahan yang terjadi, paling utama sih dari sisi physically. Tapi ada yang aneh, kelihatan ada sesuatu yang berubah dari si teman gw ini, tapi gw memilih untuk tidak menanyakannya, gw hanya menyapanya dan basa-basi sedikit. Gw memegang baju yang dipakainya yang tampak longgar dan tidak berani melihat sinar matanya yang memancarkan kesedihan, tapi gw berpikir positif, mudah-mudahan gw salah mengira, mungkin dia sedang kelelahan saja, gw juga sudah lama tidak berbicara banyak dengan dia, gw nggak berani mengira-ngira ada apa dengan dia.
Pertemuan itu hanya berlangsung sekitar 5-10 menit dan kemudian gw pergi meninggalkannya. Dia hanya melambaikan tangan sedikit dan tersenyum, senyumnya aneh. Rasanya gw ingin mengembalikan kata-kata dia sekitar 3 tahun yang lalu. Dia pernah bilang, “Jangan senyum-senyum, nggak suka gw ngeliat orang senyum dipaksa.”, tapi ya sudahlah, dia punya hidup sendiri sekarang dan gw nggak berhak mencampurinya.
Beberapa hari setelah itu gw bertemu dia lagi di dimensi yang berbeda. Maksud gw kita berbicara lewat bantuan dunia maya. Tiba-tiba saja dia menyapa gw. Awalnya hanya basa-basi aja, bilang lama nggak ketemu, lama nggak ngobrol, dsb. Entah karena apa gw mulai memberanikan diri untuk bertanya hal-hal tentang dia yang ada dalam kepala gw.
Gw sampaikan ke dia, hal-hal yang menurut gw aneh, nggak biasanya, hanya intuisi gw saja sih sebenarnya. Dia yang sekarang berbeda dari orang yang gw kenal beberapa tahun lalu. Nggak usah yang gede-gede, dari fisiknya aja kelihatan banget rapuh. Oke, memang dia bukan jenis pria yang badannya berisi, tapi dia energic, bukan yang sepertinya bila disenggol sedikit akan jatuh. Jatuhnya juga menurut gw bukan karena nggak punya tenaga, tapi lebih ke arah pasrah.
Matanya menerawang seperti sedang memikirkan hal yang berat-berat setiap detiknya. Entah kenapa kayaknya ada sesuatu yang “mati” di matanya, nyala matanya berbeda. Dulu dia bersemangat, bukan seperti yang gw lihat terakhir kali. Sedih rasanya. Gw melihat dia hanya sekejap dan gw nggak mengerti kenapa gw merasa dia berdiri bukan dengan kedua kakinya, nggak tau kenapa dia masih bisa berdiri. Menurut gw, dia seperti orang tidur yang sedang mengigau dengan berjalan-jalan. Dia kelihatan lelah banget, capek banget, nggak tau kenapa.
Gw bilang ke dia, raut mukanya berbeda. Ekspresinya menunjukkan seperti “tertampar” sesuatu. Gw nggak mengerti sepertinya dia sedang tidak ingin melakukan apapun, sedang tidak ingin berjalan ke depan. Gw hanya melihat dia diam dalam “kotak”nya sendiri dan memilih untuk menyimpan banyak hal yang entah baik atau buruk di dalam “kotaknya” untuk bisa terus menemani dia. Semacam menonton film-film yang sama berulang kali dan dia puas akan hal itu, nggak ingin melangkah ke depan. Entah kenapa gw menangkap ekspresi ketakutan dan kecemasan yang amat sangat besar pada dirinya. Dia seperti kehilangan sesuatu yang amat sangat berharga dalam hidupnya.
Beberapa menit kemudian kekhawatiran gw terjawab. Dia cukup kaget gw bisa menebak hampir benar semua kondisi yang ada pada dirinya saat ini. Dia bilang sejauh ini dia udah berusaha nutupin semuanya dan bingung kenapa masih bisa ketauan. Dia bilang gw hebat, sayangnya gw sedih banget ternyata prediksi gw tepat. Sejujurnya gw berharap itu hanya intuisi aja, perasaan gw aja.
Dia bilang sekarang dia kurang tidur, mungkin itu yang membuat pengaruh besar dalam perubahan fisiknya. Dia sadar banget gw menangkap hal yang berbeda dari dia, dia “ngeh” dengan ekspresi gw yang sepersekian detik saja gw keluarkan. Ternyata, kita berdua masih cukup saling mengenal dengan baik walaupun sudah lama nggak saling menceritakan apapun, sudah lewat 2 tahun lebih kita berdua nggak membicarakan hal apapun yang berkenaan dengan hidup masing-masing. Teman gw ini salah satu teman berdiskusi gw yang sangat amat menyenangkan, dia bisa berpikir dalam terhadap banyak hal, banyak pelajaran yang bisa gw ambil ketika berdiskusi dengan teman gw yang satu ini. Mungkin karena beberapa faktor yang nggak gw sadari juga membuat kita berdua sempat jauh dan sulit berkomunikasi.
Dia bilang sekarang dia sudah merasakan hidup sendiri, mandiri, dan banyak pelajaran yang bisa dia dapat di lingkungan barunya. Dia punya banyak waktu untuk memikirkan kembali kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan pada masa lalunya. Dia berubah, harapannya ke arah yang lebih baik. Dia menyadari banyak hal dan dia membangun dunia barunya untuk menjadi seorang pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Entah kenapa tiba-tiba kegiatan dia merenungkan kesalahan-kesalahannya untuk kemudian diperbaiki dengan melangkah ke depan itu malah tiba-tiba menjadi senjata makan tuan. Tiba-tiba dia menyadari suatu hal, suatu kesalahan yang mungkin sampai sekarang ini masih dia sesali, cenderung seperti tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia sampai bilang, “Gw dulu menanam bibit yang jelek, sekarang gw dapet buah yang jelek juga.”
Dia merasa telah menyakiti dan mengecewakan seseorang di masa lalunya yang akhirnya dia sadari sebagai seseorang yang berharga setelah dia pendam selama sekian tahun. Jelasnya, dia pernah berada dalam relationship dengan seseorang dan akhirnya selesai karena banyak faktor kesalahan yang disebabkan oleh dia. Setidaknya menurut dia begitu. Mungkin di sini kalimat, “You don`t know what you`ve got till` it`s gone” amat sangat berlaku, klise tapi memang itu fakta yang harus diterima. Dia menerima, hanya saja rasa penyesalannya tidak habis-habis, mungkin malah semakin bertambah, entah bagaimana cara menghentikannya.
Menurut dia, kesempatan untuk dia membuktikan telah menjadi pribadi yang lebih baik di depan seseorang pada masa lalunya ini sudah tidak ada. Semua sudah terlambat. Subjek pada masa lalunya ini sudah tidak ingin mengetahui apapun dan bahkan sudah menutup kesempatan dari sisi manapun, entah apa alasannya. Tapi gw cukup mengerti, ada kalanya kita tidak ingin mengulang apapun yang menyakitkan dan memang sulit memberi kepercayaan dan kesempatan ke-2 untuk seseorang, berat rasanya. Ibaratnya piring yang sudah pecah, disambung lagi pun retakannya masih terlihat, ya sudahlah dibuang saja. Bagaimanapun juga itu mungkin salah satu cara untuk menerapkan kalimat “life goes on”.
Teman gw bilang dia berdiri memang bukan dengan kedua kakinya, dia berdiri dengan kesabarannya, kesabaran untuk tetap menunggu kesempatan itu bisa datang lagi ke dia. Anehnya, dia yakin kalau hal itu nggak mungkin terjadi. Gw jadi nggak mengerti, apa sebenarnya yang ingin dilakukan oleh teman gw ini. Gw menghela nafas panjang dan berkata ke dia, lebih tepatnya memohon untuk tolong reduksi cara berpikir menggunakan hatinya terus-menerus, dia menutup logikanya, totally.
Gw mencoba untuk membuat dia berpikir dengan kepalanya. Meminta dia untuk mensugesti dirinya agar otaknya bisa kembali lagi, tertekan dan sulit memang, dia juga bertanya, “Gimana caranya?”. Dia bilang sekarang otaknya tabrakan sama hatinya. Gw menyanggah dengan bilang kalau dia pake 90% hati dan 10%-nya nggak jelas dia pake otak atau mimpi. Sayangnya dia menjawab 10% sisanya itu mimpi. Gw semakin bingung, gw mulai kehilangan sosok asli teman yang gw kagumi ini. Dia memang melankolis, tapi ini lebih daripada biasanya.
Dia bilang dia sudah memikirkan semuanya, tapi kayaknya semakin dia berpikir yang dia dapet malah pertanyaan-pertanyaan kenapa dulu dia bisa melakukan semua kesalahan tersebut dan sekarang nggak ada tindakan yang bisa dia lakukan. Dia seperti orang yang sedang tidur, bermimpi, dan nggak mau bangun. Nggak mau bangun untuk melihat realita yang ada, dia bilang, “Biar aja gw mimpi, kali aja kalo gw bangun mimpinya jadi kenyataan, MUNGKIN.” Dia memilih bermimpi karena paling enggak kalau dia bermimpi dia masih bisa tertawa-tawa.
Gw bingung harus bilang apa, gw nggak ngerti kenapa dia memilih untuk bermimpi. Kalau dia mimpi terus, apa yang bisa dia rubah? Dia jadi nggak kemana-mana. Oke, mungkin kondisinya sulit, mungkin meyakinkan si subjek kembali luar biasa sulitnya. Tapi di dunia ini banyak pilihan. Dia bisa pelan-pelan bangun berjalan ke depan untuk membuktikan kalau dia memang sudah berubah dan mungkin bisa saja merubah orientasinya untuk menuju tujuan yang lain. Dia bisa membuktikan dari “kepompong” untuk bisa berubah jadi “kupu-kupu”, tapi dia malah bilang dia mungkin udah jadi “kupu-kupu”, tapi dia nggak punya warna, semacam kupu-kupu akibat revolusi industri. Dia seperti nggak punya tujuan, kalaupun ada, dia bilang itu nggak mungkin.
Sayang, hidupnya terhambat hanya karena hal ini. Mungkin ini masalah yang lebih dari 50% kapasitasnya yang membuat dirinya tidak bisa maju selangkahpun. Dia seperti kehilangan warna-warna dalam hidupnya, yang tersisa cuma hitam dan putih, atau malah mungkin hanya satu warna. Sedihnya, dia bilang warna-warnanya memang sudah dibawa dan diserap habis oleh subjek pada masa lalunya, dia nggak ingin mewarnai buku gambarnya, bahkan dia bilang mungkin dia udah nggak punya buku gambar.
Gw nggak ngerti bagaimana mekanismenya sampai dia membiarkan semua warnanya dibawa lari orang lain. Dia butuh menyelamatkan dirinya dengan rasionalisasi lagi pikiran-pikirannya. Dia sedang tenggelam dalam kolam 10 meter dan malah senang bermain-main di dalam situ dan nggak ingin melihat ke daratan. Tapi dia manusia, bukan ikan, habitatnya nggak di situ, sampai kapan dia mau menyelam dan nggak muncul ke permukaan? Dia bilang kalau dia muncul di permukaan, dia nggak bisa jujur terhadap perasaannya. Ahh gemes banget gw sebenarnya.
Ada yang belum gw sampaikan ke dia. Manusia selama hidupnya pasti pernah melakukan kesalahan kan? Itu biasa, itu manusiawi. Syukuri aja kalau ternyata kita bisa menyadari kesalahan yang pernah ada, nggak banyak orang yang bisa mengakui itu. Tapi kesalahan bukan sesuatu untuk menghambat hidup. Kesalahan membuat orang membuka mata dan pikirannya, membuat orang berubah, seharusnya. Hidup itu pembelajaran, nggak mungkin dalam sebuah pembelajaran kita nggak pernah melakukan kesalahan apapun. Masalahnya mungkin nggak banyak orang yang mau “bangun” untuk berubah dari kesalahan yang dia ciptakan. Entah nggak mau “bangun” karena memutuskan untuk resisten terhadap semua kesalahannya dengan menganggap dan menutupi fakta yang ada bahwa itu bukan kesalahan atau membiarkan dirinya terus tidur dan bermimpi terlarut dalam penyesalan akan kesalahan-kesalahannya.
Bapak gw pernah bilang ke gw untuk jangan pernah bertanya, “terus gw harus ngapain lagi?” atau, “harusnya gimana lagi?”, “Gw udah nggak tau lagi”, dia nggak suka mendengar hal-hal itu. Kalau gw belum memecahkan sebuah masalah, walaupun sudah lebih dari ratusan cara gw coba, berarti cara yang gw coba belum cukup, gw harus terus mencari cara lain tanpa pernah pasrah, menyerah, dsb. Susah banget, sampe sekarang aja gw menahan diri luar biasa untuk terus mencoba nggak mengatakan hal-hal itu, paling tidak gw mencoba untuk menguranginya sehingga semakin lama kalimat-kalimat tersebut terhapus dalam perbendaharaan kata buku hidup gw.
Untuk teman gw, cobalah untuk “bangun” jangan terus-terusan menonton film drama yang sama berulang-ulang dan terus terpaku di situ. Lo punya hidup sendiri, lo lahir sendiri, mati juga sendiri, buku gambar dan warna-warnanya ada di lo sendiri, lo aja lupa meletakannya di mana, coba dicari lagi. Banyak detik-detik berharga lo yang bisa terbuang percuma hanya untuk menyesali dan menyesali. Sekarang fakta yang ada penyesalan memang selalu di akhir dan lo nggak mungkin bisa mengembalikan waktu lagi. Realita yang ada bukan untuk diingkari tapi untuk dihadapi, gw yakin lo bisa, coba kembalikan kepalamu pada tempatnya teman, pasti bisa. Gw pernah berdebat dengan salah seorang teman gw yang bernama tegank, gw bilang, “Adaptasikan hati lo dengan otak lo, jangan sebaliknya.” Gw harap lo bisa mengerti kalimat ini.
Gw baru membaca di buku quote gw dan menemukan sebuah paragraph yang cukup bagus, gw lupa dari siapa, begini bunyinya:
“The hardest thing to do is watch the one you love, love someone else. Life goes through changes so fast, you think your life is great, than one of your best friends dies. Then you think you found someone you truly love, only to figure out, she doesn’t love you back. You cry and cry and cry, but nothing changes. You realize, that you must accept things for what they are, and what they have made you become. Everything in life changes you in some way. Even the smallest things. If you do not accept these changes, you do not accept yourself. For through these changes brings new and greater things to you, making you wiser, as time progresses. To avoid these changes is a loss. You only live your life once. Do not waste a minute of it avoiding things. Let them come to you, and learn from them. There’s always tomorrow.”-fin
hahahhaa gokill bgt sas tulisannya haha
gue stuju bgt saaas sm bagian yg “Lo punya hidup sendiri, lo lahir sendiri, mati juga sendiri, buku gambar dan warna-warnanya ada di lo sendiri, trus Banyak detik-detik berharga yg bs terbuang percuma hanya untuk menyesali dan menyesali. Sekarang fakta yang ada penyesalan memang selalu di akhir dan lo nggak mungkin bisa mengembalikan waktu lagi” hehe bnr bgt ituuu!
*buat tmn lamanya saski mending bner deh ikutin kt dia hehe lo harus nyoba buat bangun dan ga gini terus* hehe oke
ceritanya bagus saaass! hehe..tp dari sisi pandangan gua ttg temen co lo ini….hmm gni, ga semua teori atau kumpulan kata dalam bentuk sebuah kalimat, dengan gampang nya bisa diterapkan di dalam hidup, hal tersebut cm teoritis..buka realistis..mnurut gua, temen lo ini sangat realistis malah, dia udah tau klo smua yang dia harapkan itu ga mungkin terjadi, coba lo mikir, knp dia bisa bilang “ga mngkin”. itu krn dia realistis sas..bukan di dalam mimpi..mimpi bisa aja dateng bisa aja ngga, tp bgn pagi, juga hilang ingatan ttg mimpi itu.itu sudah menjadi psikologis manusia..gua rasa org ini punya semangat yang besa dan yang pasti punya rasa yg sgt besar kepada subjek si org ini..karena itu lah, dia memilih jalan untuk kaya gtu..apapun akan dia lakukan untuk “memastikan” rasa sayang nya..sas lo mungkin dengan gampang bisa bilang di lg mimpi atau lg nyelam..itu salah besar..mimpi hanyalah sebuah buah dari tidur, dan yang pasti mimpi tidak bisa merubah org bagaimana pun..yg bisa merubah org hanya lah pengalaman, penyesalan, pergaulan dan rasa yang kita miliki..temen lo gua yakin bgt, dia itu ga tdr..gua arasa dia juga ga mau memendam perasaan ky gni..memendam perasaan itu seperti bom waktu, yang kita tidak tahu kapan akan meledek nya..m dan satu hal lg, temen lo ini pasti byk blajar ttg hidup.. kekecewaan, sakit hati dan penyesalan adalah prolog dari sebuah buku pelajaran ttg hidup..tiga hal itu yang bisa membuat org berubah…semakin seorang manusia mengalami cobaan yang berat bagi dia, semakin byk pula hal yg dia dapat…
yang terakhir..ini prinsip2 yang gua pegang, dan mungkin berguna buat temen lo itu…
“Jika kita makan, makan lah makanan yang pahit, jangan makan yg manis manis saja, karena tidak semua org bisa kuat, tahan dan makan yang pahit pahit..”
“Jika kita naik gunung, jangan sekalipun melihat ke puncak gunung, karena hal itu akan membuat kita akan menyerah (kalah sebelum bertanding), tapi hal yg harus dilakukan adalah, menaiki tangga setapak demi setapak, tanpa melihat puncak gunung, hal itu lah yang akan membuat kita mencapai puncak gunung tersebut..”
“Hidup memang susah, tapi jangan dibikin susah..”
“Jalani semua dengan apa adanya, biarlah waktu BICARA bawa TAKDIRNYA..buatlah hidup ini semudah mungkin, tak perlu disesali, bikin saja happy..mengalir, nikmati, jangan menyiksa diri..”
emm emmm gue gatau mau nulis apa. tapi yah memang yang namanya perubahan itu suka susah diterimanya, karena seringkali keadaan yang lama sudah begitu nyamannya jadi kita gabisa melihat kemungkinan-kemungkinan bahwa keadaan yang baru mungkin bisa jadi lebih baik. bukankah begitu? gue sendiri sampe detik ini masih mencoba untuk menerima perubahan besar yang terjadi dan membiasakan diri menikmati itu semua, membiasakan ya, BUKAN memaksakan.
sambil terus menerus mencari (atau menunggu?) kesempatan mumculnya hal-hal indah dari keadaan yang baru ini. lelah sih, tapi gatau kenapa akhir-akhir ini gue jadi lebih optimis
mungkin temen lo harus mencoba berpikir dari sudut pandang berbeda, atau mungkin dia sudah tau ada sudut pandang yang berbeda itu, cuma ya emang itu, dia belom tau apakah sudut pandang yang baru itu bisa menghadirkan hal yang indah-indah juga ga kaya yang lama.
- D! -
“Adaptasikan hati lo dengan otak lo, jangan sebaliknya.”
nasehat yang bagus sas.. gue setuju.. yaa walaupun terkadang gue sampe sekarang masih suka menjalankan ‘yang sebaliknya’..
saskiuu. gue suka banget “adaptasikan hati lo dengan otak lo” benar-benar setuju karna gue percayaa manusia bisa kontrol segalanya pake otaknya sebagai ibaratnya pusat pemerintahan.
kewen~
June 26, 2008 at 5:49 pm
“You don`t know what you`ve got till` it`s gone” is my favourite quote for all time sas. hahaha