Memberi, Menerima, Yah senyumin ajalahh…
Sebelumnya terimakasih untuk Sarah, Smita, dan Dhea yang pada hari Sabtu kemaren membawa gw ke dalam obrolan ini di tengah-tengah penantian melihat Pure Saturday yang tidak kunjung main-main juga. Obrolan kecil sambil duduk-duduk di tangga malem itu membuat gw berpikir tentang hal-hal ini.
Salah satu yang menarik dari sekian obrolan adalah tentang memberi, topik ini sebentar sih diomonginnya, tapi cukup kepikiran gw hehe. Waktu ngobrol sih nggak kepikiran diksi memberi emang, cuma curhat-curhat biasa segala macam hal. Hmm, namanya “memberi” itu wujudnya ya bisa macam-macam. Pertama, memberi dalam bentuk fisik, yang ini kayaknya paling gampang. Misalnya memberi duit kepada temen yang lagi bokek, atau mungkin memberi kelinci kepada temen yang seneng binatang. Yang nggak bagus kalo kita memberi kutu, apalagi kutukupret, yang diberi dijamin bakalan gak ngasih ucapan terima kasih. Habisnya, sampe sekarang gw belom pernah ketemu manusia penyayang binatang yang pelihara kutu, sekalipun dia aktivis WWF (Taelah alay banget haha). Kedua, memberi dalam bentuk yang abstrak. Misalnya memberi salam, memberi perhatian atau memberi senyum dll. Mungkin yang nggak boleh kalo kita memberi tawa tanpa sebab, salah-salah bisa kena damprat atau bahkan kena gampar, gara-gara lo dikira ngeledek.
Masalahnya mungkin tidak kalo kita memberi tanpa berharap imbalan? Misalnya kita ketemu cowok ganteng, ato cewek cantik (bagi yang pria) trus kita beri senyum, tanpa berharap dia kasih respon. Atau kita ketemu Pak Dosen (biar nggak ganteng sekalipun) trus kita kasih senyum tanpa berharap agar kita diampuni kalo nggak bikin tugas.
Salah satu temen gw, sebut saja namanya Ani (astagaa klasik gila namanya) akhir-akhir ini jadi uring-uringan, gara-garanya setelah Ani putus hubungan dengan mantannya gak bisa normal layaknya kayak hubungan antar “manusia”. Maunya temen gw, putus ya putus, tapi mbok ya jangan cuek-cuekan gitu, kan nggak enak. Dia sudah coba “memberi” perhatian, mulai nyapa duluan (sambil senyum-senyum), sementara si mantan tidak memberikan usaha yang sama, maksud gw usaha terlihat hanya dari satu pihak. Lama-lama temen gw jadi sebel, jengkel, kesel, lha si mantan kok gak ngasih respon positif seperti yang diharapkan? Sehingga dia berhenti untuk memulai usaha-usaha perbaikan selanjutnya. Mungkin ini yang disebut besar pasak daripada tiang, harapannya terlalu besar, mungkin ya tapi mungkin. Bagaimanapun juga harapan tiap orang kan beda-beda.
Udah jadi sebuah petuah yang amat sangat klasik kalo ada yang bilang, “Kenapa nggak lo yang mulai duluan? Mulai bersikap baik duluan?”, yang kemudian akan disambut dengan jawaban : “Udah tapi dianya nggak pernah ngusahain balik, masa gw ngusahain terus?”, dan sebenernya ditepis dengan sebuah kalimat pertanyaan yang tambah bikin bete lagi untuk dijawab yaitu, “Ya kenapa enggak?”
Gw cukup mengerti perasaannya, ngeselin emang kalo pada saat awal terjadinya sebuah masalah kita duluan yang mengusahakan perbaikan tapi setelahnya juga masih harus kita yang me-maintain itu. Ya, berteman dan berhubungan baik bagaimanapun usaha bersama, masalahnya di sini siapa yang disakiti menjadi lebih tidak mudah untuk menjalaninya, mungkin.
Yah however butuh waktu yang cukup panjang untuk sampai ke tahap memberi tanpa mengharapkan sesuatu. Namanya juga sakit hati kan kayak pahatan di batu, nggoresnya dalem, lamaaa untuk dibikin halus lagi. Pernah dengar kalimat semacam ini, i`ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel. Nah mungkin di situ deh susahnya.
Teman gw yang lain lagi anggap saja namanya Tuti (gw nggak kepikiran nama lain lagi menn). Suatu hari tiba-tiba pacar si Tuti mendiamkan dia tanpa dihubungi sedikitpun, berkali-kali si Tuti mencoba menghubungi pacarnya tapi tak kunjung berhasil sampai akhirnya si Tuti menelfon dan diangkat dan semua terselesaikan dengan baik. Gw salut banget sama Tuti, dia nggak pantang menyerah, dia berusaha berkali-kali mengusahakan perbaikan dan nggak mengeluh kenapa si pacarnya nggak mulai duluan. Sebenernya case-nya simple banget, si pacar Tuti ini merasa ada suatu ketidakcocokan dan ketidaknyamanan, dia diam berharap semua tiba-tiba suatu saat nanti back to normal. Sekali lagi apa sih yang bisa lo rubah kalo lo diem? Nggak ada kan? Ya walaupun si Tuti menyanyi-nyanyi mengapa harus aku yang mengalah, tapi nyanyinya sambil ketawa-ketawa haha.
Gw juga belum lama ini mengusahakan perbaikan kondisi dengan seseorang. Kenapa gw bilang gw yang mengusahakan? Karena emang temanya adalah gw yang berusaha memulai menyelesaikannya dengan sebaik mungkin. Gw nggak suka tindakan pergi tanpa pesan. Tadinya gw pikir pada saat gw bicara dengan orang ini semuanya bakal berantakan, karena gw kelewat kesel waktu itu, cenderung sakit hati aja. Tapi refleks gw bekerja untuk menghadapi perbincangan itu dengan tenang-tenang saja dan akhirnya gw melegakan orang.
Ya memang gw juga pernah bertanya pada bokap gw, kenapa harus gw yang ngalah lagi? Bikin orang lega lagi? Dan lagi dan lagi, lalu si bokap menjawab dengan cueknya, “kenapa tidak?” gw belajar banget dari jawaban bokap gw, berat tapi gw belajar pelan-pelan untuk menerima segala sesuatunya. Marah-marah membutuhkan energi yang lebih besar ketimbang tenang-tenang aja dan mencoba mendiskusikannya dengan kepala dingin. Jujur aja, waktu itu gondok juga si orang ini malah lega sendiri padahal harusnya dia yang melegakan gw haha tapi yaudahlah di dunia ini ternyata banyak BAYI BESAR yang harus setiap saat kita siap ngalah dan nggak ada salahnya juga kan? Yah terima aja, senyumin aja, sok cool aja..
Dulu sekali pernah ada sebuah kejadian di mana salah satu teman terdekat gw, anggap saja namanya Budi (Ada ani ada Tuti pasti ada Budi haha) menusuk gw dari belakang. Dia membuat gw dijauhi beberapa orang secara sengaja, kongkretnya gw dibilang merusak nama baik orang dengan menyebarkan gosip yang tidak benar. Karena rasa bersalahnya ia bahkan sampai tidak berani berbicara bahkan bertemu dengan gw. Cukup sakit hati, karena pada akhirnya kasusnya itu cuma fitnahan aja buat gw, itupun ketahuan setelah sekian bulan kemudian.
Beberapa minggu setelah itu si Budi berpapasan dengan gw di sebuah acara makan-makan bersama dan untuk pertama kalinya setelah 2 minggu lewatlah kira-kira, dia menyapa gw, secara refleks gw membalas sapaannya dan tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya, hati dan otak gw berkutat banget, bisa saja gw nggak usah memaafkannya dan mendiamkan dia sampai entah kapan, tapi gw orangnya emang nggak suka manjang-manjangin masalah, jadinya yaudah gw berusaha menerima dan biasa aja. Kegiatan perbaikan hubungan antara gw dan Budi membuahkan hasil yang positif, sekarang-sekarang ini kalau kita ketemu nyantai banget, udah nggak kayak awal-awal dulu dan gw sudah bisa tersenyum tulus banget sama dia, walaupun mungkin memang susah berteman sedekat dulu lagi, baik karena faktor internal maupun eksternal.
Kadang-kadang emang harus terima-terima aja, senyumin aja, waktu itu pikiran terpendek gw adalah gw juga akan jarang ketemu dia untuk ke depannya, ya sudahlah buat apa gw berlarut-larut sinis-sinisan. Dia nggak pernah minta maaf ke gw dan gw sudah tidak perduli lagi. Tidak pernah ada percakapan antara gw dan dia tentang permasalahan waktu itu sama sekali sampai akhirnya hubungan kita membaik dan untungnya gw tidak kebingungan bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa? Usaha gw bersikap baik juga ke dia tidak mengharapkan apapun, ya namanya juga saling kenal, menyapa, berbicara, bercanda, dsb merupakan hal yang wajar buat gw.
Yahh capek juga hidup kalo tiap hari mikirin give and take, mengurangi kebahagiaan hidup menurut gw. Ada sebuah quote yang baru gw baca isinya gini, ” It is explained that all relationships require a little give and take. This is untrue. Any partnership demands that we give and give and give and at the last, as we flop into our graves exhausted, we are told that we didn’t give enough.“Gw jadi mikir, mungkin ini emang bener, kita semua nggak tau apakah kita sudah cukup memberi untuk mengusahakan segala perbaikan? Bisa jadi kapan-kapan gw malah menyesal kenapa dulu gw nggak mengusahakan itu malah mengharapkan untuk ada timbal baliknya sehingga nggak terjadi perubahan apapun?
Pada intinya memang cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa memberi secara ikhlas. Kalo diliat lagi bagaimana juga kita bisa menerima apa yang kita harapkan kalo kita sendiri nggak memberi? Ya benar mungkin, memberi dulu baru menerima, pelan-pelan dan sabar. Tapi ya itu malah memperbanyak supply energi yang masuk ke dalam tubuh kita dan mempermudah kita berjalan ke depan, mengarah menuju tingkat kedewasaan yang lebih tinggi levelnya, dan menambah pengalaman cerita hidup haha. Itu lebih menguntungkan ketimbang menghabis-habiskan energi dengan uring-uringan kenapa usaha kita tidak terbalas bukan?-fin

Recent Comments