Archive

Archive for July, 2008

Memberi, Menerima, Yah senyumin ajalahh…

Sebelumnya terimakasih untuk Sarah, Smita, dan Dhea yang pada hari Sabtu kemaren membawa gw ke dalam obrolan ini di tengah-tengah penantian melihat Pure Saturday yang tidak kunjung main-main juga. Obrolan kecil sambil duduk-duduk di tangga malem itu membuat gw berpikir tentang hal-hal ini.

Salah satu yang menarik dari sekian obrolan adalah tentang memberi, topik ini sebentar sih diomonginnya, tapi cukup kepikiran gw hehe. Waktu ngobrol sih nggak kepikiran diksi memberi emang, cuma curhat-curhat biasa segala macam hal. Hmm, namanya “memberi” itu wujudnya ya bisa macam-macam. Pertama, memberi dalam bentuk fisik, yang ini kayaknya paling gampang. Misalnya memberi duit kepada temen yang lagi bokek, atau mungkin memberi kelinci kepada temen yang seneng binatang. Yang nggak bagus kalo kita memberi kutu, apalagi kutukupret, yang diberi dijamin bakalan gak ngasih ucapan terima kasih. Habisnya, sampe sekarang gw belom pernah ketemu manusia penyayang binatang yang pelihara kutu, sekalipun dia aktivis WWF (Taelah alay banget haha). Kedua, memberi dalam bentuk yang abstrak. Misalnya memberi salam, memberi perhatian atau memberi senyum dll. Mungkin yang nggak boleh kalo kita memberi tawa tanpa sebab, salah-salah bisa kena damprat atau bahkan kena gampar, gara-gara lo dikira ngeledek.

Masalahnya mungkin tidak kalo kita memberi tanpa berharap imbalan? Misalnya kita ketemu cowok ganteng, ato cewek cantik (bagi yang pria) trus kita beri senyum, tanpa berharap dia kasih respon. Atau kita ketemu Pak Dosen (biar nggak ganteng sekalipun) trus kita kasih senyum tanpa berharap agar kita diampuni kalo nggak bikin tugas.

Salah satu temen gw, sebut saja namanya Ani (astagaa klasik gila namanya) akhir-akhir ini jadi uring-uringan, gara-garanya setelah Ani putus hubungan dengan mantannya gak bisa normal layaknya kayak hubungan antar “manusia”. Maunya temen gw, putus ya putus, tapi mbok ya jangan cuek-cuekan gitu, kan nggak enak. Dia sudah coba “memberi” perhatian, mulai nyapa duluan (sambil senyum-senyum), sementara si mantan tidak memberikan usaha yang sama, maksud gw usaha terlihat hanya dari satu pihak. Lama-lama temen gw jadi sebel, jengkel, kesel, lha si mantan kok gak ngasih respon positif seperti yang diharapkan? Sehingga dia berhenti untuk memulai usaha-usaha perbaikan selanjutnya. Mungkin ini yang disebut besar pasak daripada tiang, harapannya terlalu besar, mungkin ya tapi mungkin. Bagaimanapun juga harapan tiap orang kan beda-beda.

Udah jadi sebuah petuah yang amat sangat klasik kalo ada yang bilang, “Kenapa nggak lo yang mulai duluan? Mulai bersikap baik duluan?”, yang kemudian akan disambut dengan jawaban : “Udah tapi dianya nggak pernah ngusahain balik, masa gw ngusahain terus?”, dan sebenernya ditepis dengan sebuah kalimat pertanyaan yang tambah bikin bete lagi untuk dijawab yaitu, “Ya kenapa enggak?”

Gw cukup mengerti perasaannya, ngeselin emang kalo pada saat awal terjadinya sebuah masalah kita duluan yang mengusahakan perbaikan tapi setelahnya juga masih harus kita yang me-maintain itu. Ya, berteman dan berhubungan baik bagaimanapun usaha bersama, masalahnya di sini siapa yang disakiti menjadi lebih tidak mudah untuk menjalaninya, mungkin.

Yah however butuh waktu yang cukup panjang untuk sampai ke tahap memberi tanpa mengharapkan sesuatu. Namanya juga sakit hati kan kayak pahatan di batu, nggoresnya dalem, lamaaa untuk dibikin halus lagi. Pernah dengar kalimat semacam ini, i`ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel. Nah mungkin di situ deh susahnya.

Teman gw yang lain lagi anggap saja namanya Tuti (gw nggak kepikiran nama lain lagi menn). Suatu hari tiba-tiba pacar si Tuti mendiamkan dia tanpa dihubungi sedikitpun, berkali-kali si Tuti mencoba menghubungi pacarnya tapi tak kunjung berhasil sampai akhirnya si Tuti menelfon dan diangkat dan semua terselesaikan dengan baik. Gw salut banget sama Tuti, dia nggak pantang menyerah, dia berusaha berkali-kali mengusahakan perbaikan dan nggak mengeluh kenapa si pacarnya nggak mulai duluan. Sebenernya case-nya simple banget, si pacar Tuti ini merasa ada suatu ketidakcocokan dan ketidaknyamanan, dia diam berharap semua tiba-tiba suatu saat nanti back to normal. Sekali lagi apa sih yang bisa lo rubah kalo lo diem? Nggak ada kan? Ya walaupun si Tuti menyanyi-nyanyi mengapa harus aku yang mengalah, tapi nyanyinya sambil ketawa-ketawa haha.

Gw juga belum lama ini mengusahakan perbaikan kondisi dengan seseorang. Kenapa gw bilang gw yang mengusahakan? Karena emang temanya adalah gw yang berusaha memulai menyelesaikannya dengan sebaik mungkin. Gw nggak suka tindakan pergi tanpa pesan. Tadinya gw pikir pada saat gw bicara dengan orang ini semuanya bakal berantakan, karena gw kelewat kesel waktu itu, cenderung sakit hati aja. Tapi refleks gw bekerja untuk menghadapi perbincangan itu dengan tenang-tenang saja dan akhirnya gw melegakan orang.

Ya memang gw juga pernah bertanya pada bokap gw, kenapa harus gw yang ngalah lagi? Bikin orang lega lagi? Dan lagi dan lagi, lalu si bokap menjawab dengan cueknya, “kenapa tidak?” gw belajar banget dari jawaban bokap gw, berat tapi gw belajar pelan-pelan untuk menerima segala sesuatunya. Marah-marah membutuhkan energi yang lebih besar ketimbang tenang-tenang aja dan mencoba mendiskusikannya dengan kepala dingin. Jujur aja, waktu itu gondok juga si orang ini malah lega sendiri padahal harusnya dia yang melegakan gw haha tapi yaudahlah di dunia ini ternyata banyak BAYI BESAR yang harus setiap saat kita siap ngalah dan nggak ada salahnya juga kan? Yah terima aja, senyumin aja, sok cool aja..

Dulu sekali pernah ada sebuah kejadian di mana salah satu teman terdekat gw, anggap saja namanya Budi (Ada ani ada Tuti pasti ada Budi haha) menusuk gw dari belakang. Dia membuat gw dijauhi beberapa orang secara sengaja, kongkretnya gw dibilang merusak nama baik orang dengan menyebarkan gosip yang tidak benar. Karena rasa bersalahnya ia bahkan sampai tidak berani berbicara bahkan bertemu dengan gw. Cukup sakit hati, karena pada akhirnya kasusnya itu cuma fitnahan aja buat gw, itupun ketahuan setelah sekian bulan kemudian.

Beberapa minggu setelah itu si Budi berpapasan dengan gw di sebuah acara makan-makan bersama dan untuk pertama kalinya setelah 2 minggu lewatlah kira-kira, dia menyapa gw, secara refleks gw membalas sapaannya dan tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya, hati dan otak gw berkutat banget, bisa saja gw nggak usah memaafkannya dan mendiamkan dia sampai entah kapan, tapi gw orangnya emang nggak suka manjang-manjangin masalah, jadinya yaudah gw berusaha menerima dan biasa aja. Kegiatan perbaikan hubungan antara gw dan Budi membuahkan hasil yang positif, sekarang-sekarang ini kalau kita ketemu nyantai banget, udah nggak kayak awal-awal dulu dan gw sudah bisa tersenyum tulus banget sama dia, walaupun mungkin memang susah berteman sedekat dulu lagi, baik karena faktor internal maupun eksternal.

Kadang-kadang emang harus terima-terima aja, senyumin aja, waktu itu pikiran terpendek gw adalah gw juga akan jarang ketemu dia untuk ke depannya, ya sudahlah buat apa gw berlarut-larut sinis-sinisan. Dia nggak pernah minta maaf ke gw dan gw sudah tidak perduli lagi. Tidak pernah ada percakapan antara gw dan dia tentang permasalahan waktu itu sama sekali sampai akhirnya hubungan kita membaik dan untungnya gw tidak kebingungan bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa? Usaha gw bersikap baik juga ke dia tidak mengharapkan apapun, ya namanya juga saling kenal, menyapa, berbicara, bercanda, dsb merupakan hal yang wajar buat gw.

Yahh capek juga hidup kalo tiap hari mikirin give and take, mengurangi kebahagiaan hidup menurut gw. Ada sebuah quote yang baru gw baca isinya gini, It is explained that all relationships require a little give and take. This is untrue. Any partnership demands that we give and give and give and at the last, as we flop into our graves exhausted, we are told that we didn’t give enough.Gw jadi mikir, mungkin ini emang bener, kita semua nggak tau apakah kita sudah cukup memberi untuk mengusahakan segala perbaikan? Bisa jadi kapan-kapan gw malah menyesal kenapa dulu gw nggak mengusahakan itu malah mengharapkan untuk ada timbal baliknya sehingga nggak terjadi perubahan apapun?

Pada intinya memang cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa memberi secara ikhlas. Kalo diliat lagi bagaimana juga kita bisa menerima apa yang kita harapkan kalo kita sendiri nggak memberi? Ya benar mungkin, memberi dulu baru menerima, pelan-pelan dan sabar. Tapi ya itu malah memperbanyak supply energi yang masuk ke dalam tubuh kita dan mempermudah kita berjalan ke depan, mengarah menuju tingkat kedewasaan yang lebih tinggi levelnya, dan menambah pengalaman cerita hidup haha. Itu lebih menguntungkan ketimbang menghabis-habiskan energi dengan uring-uringan kenapa usaha kita tidak terbalas bukan?-fin

Salah Boleh, Bohong Dilarang!!!

Heyho! Belakangan lagi sering-seringnya gw mendengar kekecewaan temen-temen gw baik yang cewek maupun cowok. Biasa, curahan hati semua yang ada hubungannya dengan L.O.V.E lagi, lagi, dan lagi (Ya top list curhatan temen-temen gw udah pasti ini).

Belakangan ini yang lagi sering diobrolin adalah kalimat-kalimat yang dipergunakan untuk mutusin pacar atau ninggalin seseorang baik yang sedang didekati maupun yang sedang mendekati (tentunya dengan tujuan menjalin sebuah relationship yang lebih daripada hubungan pertemanan). Dengan kata lain merupakan sweet talking, lip-service, atau Excuse. Intinya ALASAN belaka. Well, protes aja sama gw, but anyway language is a matter of perception hahaha.

Cerita pertama ada seorang teman gw yang diputusin pacarnya dengan kalimat semacam , “You’re too perfect for me.”, “You’re too good for me.” Intinya , “Anda terlalu baik buat saya.” Wah, hebat orang-orang jaman sekarang, Udah nggak suka sama yang bagus-bagus haha, tidak berkembang hidupnya.

Ada juga yang seringnya terjadi sama gw agak sama, hanya saja kalimatnya diganti menjadi semacam ini, “I am just not the right person for you“, “You deserve better” atau “You can find someone better.” Lebih hebat lagi ni yang ngomong agak tidak punya harga diri agaknya suka menjelek-jelekkan diri sendiri atau emang dia orangnya suka nggak pede-an? Sorry aja nih, ini bisa jadi alasan paling sok tau seumur hidup. Salah satu temen gw juga pernah ditolak seorang gadis dengan kalimat jawaban, “You deserve better.” Ternyata bukan hanya gw aja yang akrab sama alasan ini.

Malahan kadang-kadang makin nggak logis. Baru aja gw mendengar sebuah kalimat dari seseorang untuk memutuskan pacarnya yang pada intinya alasan sebenarnya nggak cocok, hanya saja di-cover dengan kalimat : “Aku menyayangi kamu itu walaupun, bukan karena.” Astaga korban sinetron remaja jaman sekarang ck,ck,ck. Bahan ketawaan lain dalam hidup gw adalah kalimat yang baru gw baca barusan di internet tentang alasan seorang cowok meninggalkan seorang cewek, yaitu, “you are really sweet, but can we just being a friend for a while?“, halah,halah,halah basinyaaa, keseringan astaga. Gw sendiri pernah dikasih alasan, “Kamu terlalu logis dan realistis.”, Hore bukan !?

Biasanya di akhir kesempatan akan keluar kalimat-kalimat, “Sebenernya aku masih sayang banget sama kamu”, “tapi kita tetep temenan kan?”, “Kalo butuh cerita,temen,dll, gw pasti bakal ada di sini kok.”, dan “aku nggak bakalan pernah jauh dari kamu.”, KLISE, tapi ya kenyataan tetap kenyataan saudara-saudara.

Yah, percaya tidak percaya ini adalah yang terjadi. Boleh jadi pada saat excuse-excuse tersebut dilontarkan awalnya kita percaya-percaya aja. But then the truth will reveal.

Gw punya beberapa contoh konkretnya. Salah satu teman gw waktu dulu pernah menjalin relationship dengan seorang cowok, anggap namanya Amir. Hubungan mereka berjalan selama 4 bulan dan 2 minggu terakhir si Amir lenyap, hilang, tanpa bekas, tidak bisa dihubungi. Pada akhirnya si teman gw sampai harus menelfon dia berkali-kali baru diangkat dan diputusin aja tanpa alasan yang jelas, excuse cupu, padahal si Amir ngedeketin mantannya lagi, tapi nggak jujur. Ah payah laki-laki macam apa, kabur aja ngilang, terus bohong. Yaaah komunitas pala peang tambah satu deh.

Tidak jauh berbeda dengan seorang teman gw yang ber-gender pria. Dia pernah kesal gara-gara mantannya juga memberi alasan putus yang akhirnya diketahui tidak jujur dan berujung dengan si cewek nggak berapa lama jadian sama orang lain. Wow gw kira cuma cowok doang yang begitu.

Selain itu sering juga kejadian yang dialami baik gw maupun teman-teman gw, seorang cowok mendekati seorang cewek udah sekian lama, ngasih harapan, dll, tiba-tiba menghilang juga, lenyap, dll. Kemudian baru diketahui pada akhirnya ternyata dia menemukan atau tiba-tiba menjalin hubungan dengan orang lain. Ya sah-sah aja sih kan belum ada komitmen, cuman caranya nggak sopan ya, nggak cowok aja, kabur kayak tikus. Kata salah seorang teman gw yang berjenis pria, “A man should finish what he has started, gently.” Dengan menggarisbawahi kalau dia benar-benar pria tulen ya.

Kalaupun akhirnya orang-orang itu mengusahakan untuk menyelesaikannya adalah dengan cara mengajak bicara dan memaparkan alasan-alasan tentang kenapa mereka melakukan itu dan sejauh ini yang gw tau kebanyakan bohong, gw bilang kebanyakan ya bukan semuanya. Alasan-alasannya cuma excuse aja , lip service aja biar nggak terlalu menyakiti, payah. Sama sepertinya yang sudah gw jelaskan di atas. Biasanya juga malah si korban yang melakukan usaha awal penyelesaian masalah, bukan si pelaku. Excuse ini nantinya bukan menyelesaikan masalah malah makin tambah parah perkaranya.

Ada sebuah quote dari George Eliot, “It is very hard to say the exact truth, even about your own immediate feelings, much harder than to say something fine about them which is not the exact truth.” (Ini Teori, practicalnya? yah anda sekalian bisa menjawab sendirilahh) Atau yang favorit gue adalah quote dari Edward Murrow, “Most truths are so naked that people feel sorry for them and cover them up, at least a little bit.” Hm, mungkin emang susah untuk jujur. Banyak pertimbangan banget. Kita nggak akan pernah tau kalau benar-benar jujur apakah lawan bicara kita mampu menerima secara dewasa kejujuran yang dilontarkan? Gw sendiri juga sering banget kepikiran kayak gitu. Seperti yang dikatakan oleh Gloria Steinem, “The truth will set you free. But first, it will piss you off.”

Gw pernah berdebat dengan seorang teman tentang kenapa si mantan pacarnya nggak jujur aja sama dia kalau si mantan ini menemukan orang lain? Gw waktu itu bertanya balik, “Yakin lo nggak apa-apa kalo dijawab sejujur itu?”, kira-kira ada beberapa kali gw mendapati pertanyaan serupa dan jawaban dari para korban excuse ini adalah , “Gw akan lebih appreciate kalo dia ngaku, walaupun gw kesel.”, “Itu lebih jelas, jadi gw tau masalah sebenarnya dan gw kalahnya kenapa.”, dan “Awalnya kesel, tapi itu lebih baik ketimbang bohong.”, dkk. Yah kayak yang Blaise Pascal bilang, “We know the truth, not only by the reason, but also by the heart.”

Pernah juga gw bertanya sama teman gw yang bernama Dio tentang masalah gw dengan seseorang. Waktu itu gw bertanya kenapa si oknum ini diam saja, tidak berusaha menjelaskan apapun ke gw sejujur-jujurnya, nggak mau ngomong langsung, minta maaf secara langsung, dan menyelesaikan semuanya dengan terpelajar? Karena tentunya dia orang yang berpendidikan, harusnya dia punya banyak cara yang lebih sopan dan cerdas aja, sampai-sampai gw emosi dan bisa menganalogikan dia sebagai cucumber, cupu. I don`t mean to be rude, it`s just the fact somehow. Dio menjawab dengan tenang tapi tegas, “Ya itu karena dia tau banget dia salah sas, dia takut, emang gitu.” Wah gimana gw nggak mau tepuk tangan? Haha aneh, ternyata nggak berani ngomong, ambil hikmahnya aja, dia ngerasa salah (ini juga kalo bener haha nggak apa-apalah, hati gw kan lapang astagaa). Jelas hikmahnya adalah leluconnya kan berarti bukan gw, gw lebih classy, sorry dehhh haha. Mayan, buat memperkuat diri. Kalo kata Shandy, “Didoain aja semoga semua orang mendapatkan ganjaran yang se-PANTAS-nya.” , thank you Shand, gw doain prince William beneran jodoh lo, se-PANTAS-nya ya tapi haha.

Sudahlah teman-teman, nggak semua yang lo denger itu bener, yang bener adalah:

  1. Game over/end of the road/PUTUS
  2. I’ve found someone else
  3. Bosan
  4. Rasanya sudah menghilang
  5. I just can’t keep up with you (rada sampah, malu mungkin jadi nggak mau ngaku)
  6. dkk

Tapi, gw juga nggak bisa menyalahkan tindakan orang-orang yang memberi excuse ini sih. Mereka punya motifnya masing-masing. Biasanya sih alasan terpopuler untuk melakukan ini adalah untuk menjaga perasaan lawan bicara atau mungkin saja emang beneran jujur (jarang banget, Alhamdulillah kalau ada.) Pendapat yang bisa gw berikan sih hanya gw kurang setuju aja, yah Kalo ajarannya bapak gw sih, “Salah boleh, tapi bohong dilarang.”

Well, bagaimana dengan kalian yang lainnya? Memilih jujur (Gw tau banget ini berat banget, jujur aja deh berat kan?haha) atau meningkatan kreativitas dengan penciptaan excuse-excuse baru? Hati-hati aja sih salah satu resikonya sih apakah anda mau dijadikan diksi pengganti cupu, banci, pale peang, dsb? Misalnya, gw bilang, “Ah Amir lo!” yang berarti, “Ah pale peang lo!”, dkk. HAHAHA-fin

Korban Tabrak Lari, Kepala Peang, dan Defisit Moral

Hellohello, wahhh udah seminggu gw nggak nulis apa-apa, biasa lagi ribet hehe. Anyway, kali ini gw akan menceritakan suatu hal yang kejadian sama gw kira-kira senin kemaren tanggal 7 Juli 2008 dan hubungannya dengan keadaan yang sering terjadi di sekeliling gw.

Jadi gini, Senin kemaren gw sedang menyetir dengan santai menuju PIM untuk mengambil pesanan si ibu di toko langganannya. Waktu udah hampir nyampe di deket bunderan P.I, tepatnya di depan DEHA (Mc.D P.I) keadaan jalan agak terhambat sedikit. Semua mobil berhenti perlahan-lahan. Gw berhenti dengan tenangnya, lalu tiba-tiba datang tanpa diundang … duarr !! si Fahri, mobil jazz gw, yang selalu sabar dan ikhlas ditabrak dari belakang. Gilanya lagi saking kerasnya yang nabrak, si Fahri sampe ngelompat ke depan kayak kodok. Oke, gw shock sebentar, untungnya pas si Fahri bergaya kodok, mobil di depan gw udah maju, kalo belum maju mungkin si Fahri udah mencium mesra mobil di depannya.

Gw terus turun dan berhadapan dengan 2 orang bapak-bapak yang perawakannya agak mirip sama munar yang di Tri Mas Getir. Nakutin banget, Lalu gw pun bertanya dengan nada amat sangat normal, luar biasa nggak ngamuk-ngamuk, “ya jadi Om mau ngomong apa?”, ehhhhh, masa dijawab kayak gini, “Yaudah kita jalan sendiri-sendiri aja deh, gak papa kan?! .” Pale lu peang! Brengsek dikira dia gw pacarnya apa? diputusin suruh jalan sendiri-sendiri? Ngeselinnya beneran aja lho, trus 2 bapak yang palanya peang itu, berduaan langsung kabur masuk ke mobil Avanza biru tua dan mengebut, wuzzz… luar biasa! gw yakin Power Ranger Turbo kalah cepet dan nyeselnya gw nggak sempet liat plat nopolnya, DAMN!

Kegiatan tabrak lari berubah menjadi film Dono ketika tiba-tiba beberapa detik setelah itu 3 orang satpam (yang ini palanya bulet, kagak ada yang peang) dari seberang jalan menghampiri gw dan berkata, “Yah dek kenapa ga ditahan dulu? Kita kan mau nolongin.”, gw bengong sebelum akhirnya mengucapkan terima kasih. Ya gimana coba? Harus apa lagi gw-nya? Mau gw tahan sambil marah-marah? Gw aja bingung caranya gimana haha. Sialan tuh udah bapak-bapak, palanya peang, gatau diri lagi! ck,ck,ck.

Komedinya belum selesai. Malem-malem tiba-tiba nyokap gw menghampiri gw dan menceritakan kalau mobil beliau baru saja ditabrak oleh seorang gadis seusia gw dan anaknya kabur..bur…tapi kemudian dikejar, diburu, dipepet, dan yak golllll!! Ketangkep dengan sukses si anak cewek bersama pacarnya ini oleh si supir gw Om Wondo sang dalang wayang (gw nggak bohong, supir gw yang bernama bapak Suwondo emang dalang wayang).

Ya, kasian aja dibentak-bentak nyokap gw, bukan karena dia nabrak, lebih karena dia kabur. Makin salahnya lagi anak ini alesan, bohong pula, dia bilang dia udah mau berhenti di kiri jalan tapi jalannya penuh makanya dia jalan aja, padahal jalannya lapang selapang hati gw hahahaha. Gimana si ibu nggak makin mencak-mencak?  Berhubung nyokap gw seseorang yang bekerja dalam bidang hukum disitalah KTP tuh anak, gw juga nggak tau mekanismenya gimana sampe tu anak memberikan KTP-nya dan ibu gw bilang, “Bilang ke orang tua kamu, ke rumah saya kalau mau ambil KTP”. Luar biasa, sekeluarga berkunjung ke rumah demi KTP dan melasnya si anak ini ulang tahun esok harinya. Yah kepada mbak Wulan selamat ulang tahun ya (Haha gw sebut namanya).

Anyway, emang mungkin gw lupa ini Jakarta. Gw nggak mengira aja bapak-bapak yang nabrak gw itu kabur gitu aja, gw pikir mereka cukup berpendidikan untuk menyelesaikan dengan baik-baik, sama kayak si cewek yang nabrak mobil ibu gw. Part nggak enaknya adalah bukan tindakan menabraknya, tapi kaburnya, nggak classy banget. Jadi bikin gondok, kalo salah ya ngaku aja salah, terus jangan bohonglahh, tanggung jawab apa kek.

Urusan tabrak lari kayak gini, kalo dipikir sebenernya menjadi bukan urusan yang sederhana. Masalahnya terkait dengan etika bangsa (bisa aja gw hahaha). Urusan nabrak direduksi jadi hanya masalah teknis belaka, gampangnya lebih ke arah pikiran orang-orang ini seperti, “untung gw nggak ketangkep” atau dalam kasusnya mbak Wulan, “Ah sial nih gw ketangkep”. Padahal kan ini bukan masalah teknis, masalahnya ini kan berkaitan dengan etika dimana setiap orang yang melakukan suatu kekeliuran harus bertanggungjawab.

Hal-hal kayak gini nih merupakan cerminan dari moral bangsa. Jadi kayak tema-tema korupsi, pelanggaran lalu lintas, dan kroni-kroninya jatuhnya jadi masalah teknis aja dan nggak dipikirkan dari segi ethic-nya. Nggak sangka gw orang-orang sekarang banyak yang makin memperkuat defisit moral bangsa ini.

Jadi, kalo dalam mata kuliah logika, ergonya adalah orang yang nabrak lari, melanggar hukum, korupsi, ingkar janji, termasuk ngebohongin orang lain kek pacar kek, dkk selain kepalanya peang dia adalah orang yang tidak memiliki etika atau tidak beradab. Terutama yang nabrak gw HAHAHAHAHA!!!!-fin

Categories: In My Life

Matematika Abad 22

Beberapa hari yang lalu bapak gw semangat banget menunjukkan salah satu email yang dia dapet dari temennya. Niat banget sampe di-print segala. Menurut dia isinya lucu dan menyuruh gw untuk memahaminya.

Pas gw baca agak sedikit ketawa sih, nggak deng banyak haha. Judulnya matematika abad 22. Isinya lucu, isinya tentang persamaan-persamaan matematika gitu, tapi variabelnya diganti pake kata kerja sama subjek. Isinya menjelaskan kegiatan yang umumnya dan mungkin juga harusnya dilakukan pria dan wanita.

Dibuat persamaan antara pria dan wanita dengan keledai. Gw juga nggak tau kenapa harus keledai bandingannya. Yah yang kepikiran itu mungkin atau ya image keledai yang kita kenal selama ini kan nggak jauh asosiasinya dari binatang yang bodoh. Berikut ini gw tuliskan persamaan-persamaan yang dikirim sama temennya bapak gw itu.

Persamaan 1

Manusia = makan + tidur + kerja + hura-hura
Keledai = makan + tidur

Maka,

Manusia = Keledai + kerja + hura-hura

Maka,

Manusia – hura-hura = Keledai + kerja

Maka,

Manusia yang tidak tau hura-hura = Keledai yang bekerja / Kerja seperti
Keledai

Nah, dari persamaan pertama ini bisa dilihat secara umum dalam hidup yang paling sering dilakukan manusia dalam kesehariannya memang makan, tidur, kerja, dan hura-hura. Karena keledai emang binatang ya setiap hari yang pasti dikerjakan emang makan dan tidur.

Soalnya menurut persamaan tersebut kan kalau keledainya bisa hura-hura nanti jadi manusia, jadi apakah iya sebenernya setiap harinya ada sisi dari seekor keledai dalam diri manusia? Nah, pengangguran yang tidak melakukan apa-apa dan hanya diam di rumah, makan, dan tidur itu berarti keledai berwujud manusia? Apakah benar? Ya gw juga nggak berani menegaskan begitu sih. Kan siapa tau ada orang-orang yang memilih untuk hidup menjadi seperti keledai bukan?

Manusia yang tidak tau berhura-hura sama dengan keledai yang bekerja. Wah berarti keledainya rajin? Keledai pekerja keras? Tapi setelah dipikir-pikir karena mungkin emang keledai kelewat bodoh, iya-iya aja disuruh ngapain aja, pasrah aja, ikut aja, gitu terus. Sama kan sama orang yang bekerja terus tanpa henti? Entah apa yang dikejar, mereka bekerja tiada henti, mungkin maksudnya agar bisa hidup bahagia dan sejahtera, tapi coba deh dipikir lagi, kalau mereka nggak pernah hura-hura sedikitpun bagaimana bisa merasa bahagia, mungkin wajah-wajah pekerja terlalu keras ini akan mengerut setiap harinya dan sulit tersenyum, bisa jadi hidupnya malah tertekan kan? Lama-lama jadi sebodoh keledai. Jadi hura-hura sedikitlah teman-teman jangan belajarrrrrr mulu, serius banget, ntar sama kayak keledai deh haha.

Persamaan 2

Pria = makan + tidur + cari duit
Keledai = makan + tidur

Maka,

Pria = Keledai + cari duit

Maka,

Pria – cari duit = Keledai

Maka,

Pria yang tidak tau cari duit = Keledai

Nah ini salah satu persamaan favorit gue. Emang bener udah ada di hukum agama juga, pria wajib bekerja menafkahi istrinya. Jadi gw setuju banget kalau pria-pria di dunia ini harus tau caranya mencari uang, cari cara secerdas-cerdasnya supaya nggak disamakan sama keledai haha.

Benar kan? Pria yang nantinya akan memimpin sebuah keluarga dan mereka yang menghidupi seluruh anggota keluarganya. Kalau istri berpenghasilan dan bekerja kan hasil uangnya berjenis bantuan bukan kewajiban. Dimana bisa dikatakan bantuan itu seIKHLASnya, jadi mau dikasih apa enggak ke suaminya itu kan terserah, egois HAHA. Salah satu temen gw yang cantik dan cerdas bernama Tami (cie…) pernah bilang gini, “Duit istri, duit istri, duit suami, ya duit istri.” Gitu katanya, dan gw cukup tercengang juga dengernya, dan habis itu kita tertawa ramai-ramai. Gw nggak tau juga bener apa enggak ya?

Persamaan 3

Wanita = makan + tidur + belanja & habisin duit
Keledai = makan + tidur

Maka,

Wanita = Keledai + belanja & habisin duit

Maka,

Wanita – belanja & habisin duit = Keledai

Maka,

Wanita yang tidak tau belanja & habisin duit = Keledai

Kalau persamaan yang ini gw ada suka ada enggaknya nih, tapi nggak apa-apa sih. Emang sih umumnya wanita-wanita senang menghabiskan uangnya untuk belanja entah untuk kebutuhannya atau ya sifat konsumtif semata aja dan itu nggak bisa dipungkiri banget.

Gw pernah baca buku Why Men Don`t Listen and Women Can`t Read Maps, di situ juga dijelasin kalau belanja itu ada dalam bagian otak wanita, namanya bagian love of shopping, cukup besar pula proporsinya, kalau nggak salah di bagian bawah. Tapi di buku Psikologinya Carole Wade dan Carol Tavris memang ada perbedaan antara otak wanita dan otak pria dari aspek anatomisnya seperti otak wanita memiliki lebih banyak sel korteks yang berhubungan dengan pemrosesan informasi auditif, perbedaan ukuran korteks frontal, perbedaan jumlah lipatan kortikal di lobus frontal dan parietal, dll.

Intinya, sebenarnya perbedaan bagian di otak ini mempengaruhi pria dan wanita dengan kemampuannya mengerjakan tugas-tugas tertentu, contohnya adalah kebanyakan wanita memiliki kemampuan verbal yang lebih tinggi daripada pria dan kebanyakan pria lebih pandai dalam matematika ketimbang wanita. Untuk hal-hal yang sifatnya khusus seperti shopping, gossip, romance, sports, dll itu belum pasti benar dan bisa dibuktikan secara ilmiah ada bagian-bagiannya secara anatomis. Bisa saja ada pria-pria yang juga suka menghabiskann uangnya dengan berbelanja, sekali lagi gue juga nggak bisa memastikannya.

KESIMPULAN:

Dari Persamaan 2 dan Persamaan 3 :

Pria yang tidak tau cari duit = Wanita yang tidak tau belanja & habisin
duit.

Kata lain :

Pria cari duit AGAR wanita tidak menjadi Keledai ! (Postulat 1)

Dan, Wanita belanja & habisin duit AGAR pria tidak menjadi Keledai !
(Postulat 2)

Jadi, kita sampai pada ….

Pria + Wanita = Keledai + cari duit + Keledai + belanja & habisin duit

Maka … dari Postulat 1 dan 2, kita dapat simpulkan :

Pria + Wanita = 2 Keledai yang hidup berbahagia selama-lamanya. ..!!!!

Ini kesimpulannya, happy ending bukan? Lucu juga tapi dengan pernyataan pria yang tidak tau cari duit disamakan dengan wanita yang tidak tau belanja dan menghabiskan uang. Mungkin maksudnya jadi melas aja, hidupnya jadi nggak jelas buat apa karena nggak tau hal-hal yang pada umumnya dilakukan.

Menguntungkan banget nih pria cari duit supaya wanita nggak menjadi keledai dan wanita menghabiskan duit agar pria tidak menjadi keledai . Tapi ya balik lagi ke kewajiban pria sih, emang pria harus mencari nafkah bukan? Kan itungannya KEWAJIBAN tuh haha.-fin

Categories: In My Life