Living in my La La LanD!!!

Ibu Kolmus

Posted by: saskhyaauliaprima on: February 6, 2009

Namanya Ibu Kolmus Matulessy. Sejujurnya gw tidak tahu  ejaan nama beliau yang benar. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada almarhumah saya mencoba menuliskan beberapa hal yang membuat saya bergidik mendengar cerita mengenai Beliau.

Jadi, beberapa hari lalu, gw sedang dalam perjalanan menuju salah satu SMP Islam di Jakarta untuk mendaftarkan adik gw yang sudah mau lulus SD. Gw mengantar Ibunda ke sana. Sepanjang jalan gw sempet ngobrol bebrapa hal, tapi topik mengenai Alm. Ibu Kolmus ini berkesan banget buat gw. Ibu Kolmus itu kepala sekolah SD-nya ibu gw. Mama dulu sekolah di Semarang, SD Gergaji namanya. Sekolah non-muslim pokoknya. Ibu Kolmus ini berasal dari Belanda.

Jaman Mama SD, Beliau umurnya udah 80-an katanya. Beliau pendiri sekolah Gergaji ini, kepala sekolah juga, bahkan wali kelas juga, juara banget ya. Orangnya strict, galak, suka aneh-aneh kadang katanya, Beliau nggak takut sama apapun termasuk sama pejabat negara. Siapapun anak yang disekolahkan di sekolahnya, untuk Beliau adalah tanggung jawabnya, tidak perduli siapapun orang tuanya. Beliau pernah berkata keras pada salah seorang pejabat negara di Semarang yang mungkin minta anaknya diistimewakan. Kata Ibunda gw Beliau bilang, “Ini sekolah saya, anak Bapak ada di sekolah saya, jadi di sini saya yang berkuasa, terserah kalau di luar Bapak bisa berkuasa, kalau Bapak tidak suka, bapak boleh bawa anak bapak ke luar dari sekolah saya!” Coba bayangkan kalau sekarang? Haha nggak bisa bayangin gw.

Ibunda gw bilang, beliau setiap hari mengawasi semua anak-anaknya satu per-satu. Kerapihan, kedisiplinan, dan semacamnya benar-benar ditegakkan. Beliau tidak menerima ketelatan, menguap, mengulet di kelas, lupa membawa barang yang seharusnya dibawa, dll. Berat kan jadi anak SD-nya? Beliau benar-benar ingin menrapkan kedisiplinan terhadap semua orang mulai sejak dini. Beliau tidak perduli anak muridnya menangis kalau tidak ditemani orang tua. Kata Mama dulu setiap belajar kalau melakukan kesalahan lebih dari 5 kali akan dihukum mengerjakan tugas yang sama sebanyak 10 kali dan seterusnya, pokoknya dilipatgandakan, tujuannya supaya si anak mengerti dan paham beanr dengan materinya. Dengan metode tersebut, Beliau berhasil membawa anak-anaknya lulus 100% setiap ujian negara.

Buat gw kedengerannya menakutkan jaman SD ada pengajar seperti itu, tapi sekaligus gw merasa Beliau hebatnya luar biasa. Beliau berhasil menerapkan value-value kehidupannya dan membuat anak-anaknya terbiasa menjalankan value-value positif itu. Salah satu contohnya adalah Ibu gw. Ibu gw perfeksionis, apa-apa rapi, disiplin banget. Bangun selalu tepat jam adzan shubuh, nggak pernah siang. Mama kalau ngerjain apa-apa niat. Kata Mama, ibu Kolmus punya pengaruh besar terhadap kebiasaan-kebiasaannya ini, begitupun yang terjadi dengan teman-teman SD ibu gw setelah mereka dewasa, sudah terbawa budayanya. Hm, coba deh pasti ada beberapa hal dari masa lalu kita yang membuat beberapa perilaku kita menetap. Misalnya gw, dari jaman kelas 1 SMP, di Labschool Kebayoran diterapkan bahwa sampah dibuang pada tempatnya, kalo nggak gw bisa kena seri, kena hukuman. Sampai sekarang semua sampah yang gw lihat di hidup gw selalu gw buang ke tempat sampah, terutama sampah gw, kalo nggak ada tempat sampah gw simpen dulu. Gw cenderung kesel sama yang main buang sampah dimana aja. Dulu gw pernah ngomelin temen gw yang bernama Tegank pada saat dia membuang sampah sembarangan di jalanan kampus di depan mata gw. Gw bilang, “Genk, kalo semua mahasiswa kayak lo, bisa-bisa negara kita jadi tumpukan sampah!” terus gw ambil sampahnya gw buang ke tempat sampah. Hahahahha, gw rasa Tegank masih inget, soalnya dia pernah nulis di facebooknya itu sebagai salah satu quote yang pernah gw berikan ke dia.

Menurut gw, hal-hal yang menetap itu merupakan keberhasilan bagi seorang pendidik. Tentunya hal-hal positif yang melekat sih. Dikarenakan waktu ada mata kuliah psikologi belajar terdapat beberapa definisi mengenai belajar, diantaranya:

-     Belajar adalah perubahan yang relatif permanen pada khasanah perilaku organisme yang merupakan hasil dari pengalaman. (Wittig, 1981:2)

-     Belajar adalah perubahan dalam kapasitas perilaku manusia yang merupakan hasil dari pengalaman. (Lieberman: 34)

Jadi, paling nggak buat gw Ibu Kolmus sukses besar dalam mengajar. Melatih kedisiplinan dan guru-guru Sekolah gw sukses besar melatih kebersihan dalam hal buang sampah hehe.

Satu hal yang membuat gw bergidik mendengar cerita Beliau. Kata Mama, setiap kali diwawancara dimanapun, Beliau selalu berkata bahwa Beliau mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk mendidik anak-anak di Indonesia karena merasa berdosa bahwa bangsanya pernah menjajah bangsa Indonesia sangat lama. Beliau tidak menikah, bangun dari tempat tidurnya yang nyaman jauh-jauh ke sini, Semarang pula, terus mengajar, sampai hampir ajal menjemput Beliau barulah Beliau dipulangkan ke Belanda, itupun dijemput sanak saudaranya dalam keadaan tidak sadarkan diri, Beliau menderita sakit, berhubung sudah sepuh juga.

Anyway, sejujurnya agak malu gw. Seseorang dari bangsa lain saja sebegitu niatnya memajukan anak-anak di negeri ini. Sampai nggak menikah, nggak balik ke tanah kelahirannya, semasa Beliau sadar hidup, dedikasinya penuh untuk pendidikan bangsa ini. Sedangkan disini, berapa banyak ya orang merelakan kehidupannya kayak begitu? Seberapa niatnya ya guru-guru kita menjalankan perannya sebagai pendidik? Gw nggak pernah tau. Berdasarkan pengalaman gw sih, nggak ada yang secanggih ibu Kolmus. Semua rata-rata fokus pada hasil akhir, hasil UAN, hasil SPMB. Sehingga kadang-kadang mungkin lupa pendidikan nggak hanya tercetak dengan angka-angka. Makanya mungkin bahkan dalam satu pelajaran gw bisa nggak memahami sama sekali isinya, lupa, orientasinya nilai. Padahal banyak hal lain yang harus dibenahi untuk banyak orang di negeri ini, termasuk gw tentunya. Banyak pendidikan lain yang harusnya bisa diterapkan. Bangsa lain maju bukan karena nilainya A semua kan? Bukan juga karena nilainya 100 semua kan? Kepribadian mereka, perilaku mereka, vitalitas kerja, produktivitas, dan kedisiplinan banyak ngaruhnya kan? Iya nggak ya? Seenggaknya menurut gw begitu.

Mungkin gw terkagum-kagum berat sama Ibu Kolmus soalnya memang gw tertarik dengan dunia pendidikan. Sehubungan dengan memang gw seneng banget sama anak-anak. Dulu waktu kecil gw pernah bercita-cita jadi guru juga sih. Pas udah gede, paling yang gw ajar apaan ya? Gw ngajarin adek gw, waktu SMA sih dulu paling saling mengajari teman sendiri, sama mengajari menari haha. Sekarang sih gw emang masih tertarik sih sama dunia itu. Hm, yah coba didoakan saja gw bisa melakukan sesuatu dengan ketertarikan gw itu haha.. aduh bisa nggak ya? Nggak mau janji-janji ah ntar omdo lagi, haha semoga gw bisa mengusahakan sesuatu, doakan ya…amin. -fin

4 Responses to "Ibu Kolmus"

Saskya,
Ibu JP Matulessy (yang kemudian menggunakan nama mudanya JP Kolmus) adalah sosok dg kedisiplinan dan semangat mendidik yang luar biasa… Tanya mama, masih ingat dengan ‘makanan kambing’ yang harus dibawa sekali seminggu nggak? Salam kenal.

terimakasihhh tante atau ibu sekarr dong ya berarti manggilnya??hehe..iya masih inget..dia juga sempet cerita disuruh bawa makanan buat kelinci dan binatang-binatang lain..saya kagum banget setelah mendengar ceritanya ibu kolmus ini, saya coba cari di google tapi nggak dapat berita apa-apa..salam kenal juga ya tante..

What a passion!

Emang pengaruh pendidikan anak s.d. SMP itu nerap bgt. Kata ayah edy mah, masa kritis mendidik anak. Kalau ibu Kolmus ngajar anak SMA, bisa dilawan tuh. Hehehe…

ya kalo sma sihh nyerahh deh mang haha emanggg oke banget ya beliau..passionnya luar biasa hoho

Leave a Reply


Days in a Life

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Previously on my La La Land

Categories

Facebook Profilo

Saskhya Aulia Prima's Facebook profile

Twitter Updates

Blog Stats

  • 9,142 hits