Recovery #1 : tulis, tulis, dan tulis aja
Kemarin sore Afi menghampiri dan menanyakan ke gw, ”Sas lo maunya apa sih? Gw butuh kepastian nih, seneng banget lo ngegantungin orang.” Gw hanya menengok dan menjawab dengan ogah-ogahan, ”Maaf banget Fi di dunia ini nggak semuanya bisa langsung dijawab dengan pasti.” Terus Dithi lewat di antara kita berdua dan mengatakan, ”Yang pasti itu ya ketidakpastian.” dan dia ngeloyor pergi gitu aja. Disambut dengan kebingungan orang-orang di sekitar kita. Gw dan Afipun tertawa. Dasar Afi brengsek, subtle banget messagenya yang disampein ke gw haha. Sebenernya itu cuma masalah gw jadi pergi sama dia apa enggak sih, kata-katanya aja tuh haha. Dan ketidakpastian dalam kehidupan membuat gw menjadi gloomy berhari-hari…
Belum lama ini gw menyadari bebrapa kelemahan gw yang terhitung fatal. Pertama, gw akan menjadi sangat nervous dan sangat tidak percaya diri kalau gw disuruh menjelaskan sesuatu yang nggak gw kuasai dengan baik. Gw nggak bisa nggak prepare apapun, gw kurang spontan dalam beberapa hal. Kedua, gw mudah gelisah dan tertekan saat menghadapi situasi yang sama sekali baru, yang gw nggak pernah sama sekali. Dan itu berbahaya, di dunia ini apapun bisa terjadi, semua nggak pasti, dan gw harus siap.
”Hmm, he won`t last long actually.”
Itu adalah sms yang dikirimkan seorang teman kepada gw beberapa hari sebelum salah satu anggota keluarganya dipanggil oleh Sang Pencipta.
Gw datang mengunjungi teman gw dan melihat betapa tegarnya dia, betapa luar biasanya, walaupun terlihat lebih diam tapi dia berusaha semaksimal mungkin nggak menunjukkan dia seberduka itu. Gw masih ingat gw sempet memeluk dia cukup lama dan rasa-rasanya gw ingin menangis. Dan kemudian satu hal itu mengubah segalanya bukan? Merubah semua perencanaan hidup dia, merombak ulang langkah-langkah yang harus dia jalani, dan itu luar biasa membuat drop. Membayangkan itu terjadi di gw, gw nggak tau gw akan sehancur apa. Gw takut sekali.
Gw berada dalam titik dimana intuisi gw mulai mengontrol segala pikiran dan sikap gw. Illogical banget dan sugestif luar biasa. Luar biasa mendistract banget. Belakangan gw banyak ragu-ragu, belakangan gw banyak takut ngapa-ngapain, belakangan feeling gw nggak enak terus. Setiap gw mau melakukan sesuatu, langsung ada distraksi-distraksi kecil dan mengganggu di kepala gw.
Gw merasa intuisi-intuisi gw jarang meleset, sehingga itu mendominasi semua kegiatan gw. Setiap gw merasa ini nggak akan berhasil, walaupun tanpa alasan yang jelas, gw cenderung mengikuti dan nggak jadi kemana-kemana. Udah stop, udah kelamaan gw merasa begitu.
“I`m not capable of doing this, i`m not qualified, I can do nothing, I am nobody.”
And those words distracted me a lot. Become a cumulative anxiety and i`m affraid I can`t control it. Banyak hal yang gw lepaskan atau gw lakukan dengan setengah hati karena-keragu-raguan yang muncul dari perasaan-perasaan yang kayak gitu. Gw punya masalah dengan rasa kepercayaan diri gw haha. Gw ketakutan sendiri dengan bayangan-bayangan yang nggak perlu mungkin.
I`m affraid i can`t be a good daughter for my parents, i`m affraid to move forward, i don`t think i have those potentials to become someone who my parents want me to be.
“Kamu nggak bisa dong ragu-ragu terus, minderan terus, sementara di depan sana banyak hal dalam hidup ini yang nggak bisa diprediksi kan?”, Kemarin pagi, bapak gw berkata seperti itu ke gw. Membuat gw teringat kata-kata Didi sehari sebelumnya, “Ya sekarang terserah kamu, kamu mau jadi orang hebat yang sanggup mengatasi ketakutan kamu apa mau jadi orang gagal terus tenggelam di sini?”
Akhir-akhir ini, sekitar semingguan ini gw tenggelam dalam ketakutan atas intuisi-intuisi gw yang mendistract semua kegiatan yang gw lakukan. Gw takut ngapa-ngapain, nggak yakin ngapa-ngapain. Terdictract irrelevant thoughts.
Gw disadarkan dengan omelan ibu gw yang mengatakan kalau dia aja bisa jadi sesuatu seperti sekarang padahal kondisinya dulu nggak lebih baik ketimbang kondisi gw. “Kelas 1 SMA, bapaknya mama tuh udah meninggal, mama sekolah dari dulu pake duit sendiri, kamu udah ada semua tapi malah suka nggak percaya diri, mama dari dulu nggak pernah kayak kamu gitu, yakin aja, jalanin aja semua, pikiran kamu, kata-kata kamu, itu kan doa kamu.” Dan gw dengan segala fasilitas yang ada malah takut keman-mana, takut nggak bisa apa-apa, gw sempet kehilangan tujuan sebulan ini. Hilang banget sampe gw takut. Gw nggak boleh kehilangan tujuan gw.
Nyokap gw emang suka keras banget kalo ngajarin sesuatu, bokap gw juga kayak gitu, tapi rasa-rasanya emang gw perlu ditampar kayak gitu. Gw belakangan payah. Berlindung di dalam kotak kenyamanan gw terus menerus. Gw bukan orang yang kayak gini, gw melembek jauh. Entah kapan gw jadi peragu luar biasa dan takut berlebihan sama hal-hal yang mungkin di luar perkiraan gw.
Hm, yah mungkin sekarang yang harus gw pelajari ke depannya adalah mengatasi ketakutan gw sama semua hal yang nggak pasti. Gw harus menerima nggak semua hal bisa dilakukan di bawah kontrol gw saja. Susah sih nggak tau lagi gimana caranya. Beberapa hari yang lalu bapak gw mengirimkan sebuah sms, “Pasti kudoain, this is your game, you can do it.”, dan Beliau benar, gw sanggup menyelesaikan sesuatu dengan baik dan pada saat itu gw berjanji gw akan menjalani recovery untuk diri gw sendiri, agar gw nggak terganggu dengan intuisi-intuisi sampah gw yang mungkin muncul karena gw sama sekali nggak merasa punya kompetensi apapun dalam diri gw.
Kata Didi, “Everyone`s been there before, been in this kind of situation, i`ve been there and successfully through the phase, i`m sure you will too, ayo Sa kamu kontemplasi, kamu pasti bisa mengatasi kebingungan kamu, pasti ya.”
Terimakasih Di
Recovery number 1 : Writing is the best solution to spill out my negative feelings.-fin

Recent Comments