Posted by: saskhyaauliaprima on: November 16, 2009
“Pengambilan keputusan yang tergesa-gesa akan mengurangi kualitas dari keputusan tersebut.”
Kira-kira begitulah sepenggal kalimat yang gw dengar berbulan-bulan yang lalu. Kalimat tersebut ditujukan langsung untuk gw dari seseorang. Waktu denger itu gw cuma diem aja menerawang, santai sih, nggak terlalu dipikirin. Tapi belakangan mungkin agak men-distract pikiran gw.
Gw mungkin termasuk orang yang lama banget mikirin ini itu, memutuskan ini itu dan apalah namanya. Gw cenderung bertahan untuk nggak menjawab apapun. Tapi ya tapi pada suatu hari gw harus menentukan satu jawaban pasti untuk setiap stimulus apapun yang dateng ke gw.
Gw inget suatu hari di akhir 2008, gw memutuskan untuk mundur teratur dari beberapa situasi. Gw mulai menyendiri. Keputusan tersebut gw ambil karena gw nggak bisa mengkonfrontasikan apa yang gw rasakan dengan beberapa pihak tertentu. Gw berhasil menjuh dari beberapa hal, situasi, dan orang-orang tertentu. Menyesal? Nggak tau, gw masih dalam proses membenahi pikiran-pikiran gw.
Dalam hal lain suatu hari seorang teman baik bertanya, ”What does it take from me to be your man?”, jangan disalahartikan pertanyaan tersebut memang hanya pertanyaan mau tau aja, nggak ada maksud tertentu, paling tidak yang gw tangkap begitu. Gw bengong beberapa detik memilah apa yang ingin gw jawab. Kebetulan orang ini punya beberapa qualities yang menarik buat gw, tapi gw emang nggak expect apa-apa, akhirnya gw hanya menjawab, ”As long as you know what you`re going to do, have a great drive to reach it.” And he said, “Well, that`s why I won`t be able to stay with you anyway.” Gw hanya tertawa kecil mendengarnya dan segera mengganti topik pembicaraan.
Di waktu lainnya gw mendapati seorang teman gw mengaku seberapa tertariknya Dia dengan gw. Sekali lagi dia hanya mengaku nggak minta apapun, dia hanya bertanya apakah gw keberatan untuk mungkin perlahan dia mendekat lebih dari teman. Gw si anak yang cenderung tidak suka menjawab akhirnya memilih jawaban aman yaitu, “Kalo sekarang sih gw keberatan.” Dan akhirnya disalahtangkapkan dengan sebuah kalimat, “Okay, i`ll wait.” Dan menjerumuskan gw untuk menjauh dari dia belakangan ini. Damn it, gw kehilangan teman lagi.
Sekarang ini gw diingatkan oleh seseorang karena menurut Dia gw terburu-buru memutuskan sesuatu. Gw dianggap tertekan dengan pemikiran-pemikiran gw sendiri. Gw membatasi diri sendiri dengan option-option nggak jelas yang datangnya dari gw sendiri. Dan semuanya hanya karena sebuah decision yang gw tetapkan untuk dijalani. Sehingga membawa kualitas keputusan gw menjadi tidak sebaik itu..
Tolong, untuk sekali ini jangan ada intervensi atau interupsi apapun dalam kehidupan gw, biarkan gw memutuskan bergerak berdasarkan kemauan gw sendiri. Sekarang ini gw memberikan kepercayaan lebih dari 50% untuk mengambil jalan-jalan ini. Ditanya apakah gw menyesal dengan semua hal itu? Insya Allah nggak, gw merasa ada dalam track yang semestinya.
Sejujurnya gw bingung apakah hal ini benar atau salah? Tapi benar-salah nggak mugnkin keliatan sekarang kan? Kadang-kadang gw kesel kenapa menyesal selalu datang belakangan, kenapa nggak dia muncul di depan? Jadi gw bisa mengantisipasi jalan yang gw ambil. Tapi itu bukan hidup namanya sih haha.
Gw memutuskan nggak ingin terburu-buru dalam banyak hal lagi. Gw akan lebih hati-hati, gw nggak akan membiarkan kejadian tahun lalu terulang lagi, gw down lagi, cukup sekali aja. Tapi susah, karena gw bukan peramal. Gw mau nunggu aja kira-kira Tuhan memberikan petunjuk apa. Satu hal yang gw putuskan dengan yakin hanyalah memperbaiki kehidupan akademis di kehidupan gw.
Gw penat banget. Rasa-rasanya gw ingin keluar paling nggak sebulan aja dari kehidupan gw biasanya. Gw ingin tinggal di luar kota entah dimana hanya untuk sendiri dulu aja. Tapi Cuma rasa-rasanya sih. Gw nggak boleh lari. Hah Face it like a true human being.-fin