Archive | February, 2011

Zona Nyaman dan Rekan-Rekannya

15 Feb

Sekitar sebulanan lebih ini gue banyak merasa perubahan-perubahan terjadi dengan begitu drastis dari yang menyenangkan sampe bikin frustrasi. Entah kenapa mungkin dari semester  tujuh ada kemandekan yang signifikan dalam kinerja gue. Mulai dari penggunaan isi kepala yang tidak maksimal, kemalasan yang tidak berujung, dan drive yang entah terbang kemana. Bahkan pada saat gue duduk di kantin kampus gue, rasanya bosan..bosan sekali..hmm sudah lewat masanya ya.

Gue nggak pernah nyangka hidup nggak pake sks cukup membosankan. Bukannya gue orang yang rajin belajar terus jadinya mau kuliah terus, tapi bener-bener itu menyerap semua energi gue hanya untuk bengong, diam, dan semakin nggak produktif. Ini udah entah periode bosan yang keberapa. Semester lalu gue memberhentikan semua kegiatan non-akademik dan yah langsung pusat kebosanan gue datang. Sekarang kegiatan gue hanya skripsi skripsi dan skripsi yang penuh keraguan dalam menjalaninya dan mandek dek, damn.

Teman-teman satu per satu mulai hilang. Ada yang udah lulus dan kerja, ada yang yah masih ngejer kuliah, ada yang fokus sama payung penelitian skripsinya, ada juga kali ya yang kayak gue terbang-terbang entah kemana. Comfort zone gue entah kemana, apa masih ada bentuknya atau nggak gue nggak tau.

Belum lama ini seseorang bertanya ke gue, “Apa orang harus selalu keluar dari comfort zone?” , detik itu gue yakin jawabannya iya dan gue memang menjawab hal tersebut. Beberapa hari kemudian gue tersadar, ‘keluar atau tidak’ bukanlah kosa kata yang paling tepat untuk masalah comfort zone. Pembaharuan, ya pembaharuan. Rekonstruksi ulang zona nyaman hidup, itu yang paling bener menurut gue lho ya. Bagaimanapun manusia butuh merasa nyaman, tapi kan zona nyaman itu nggak bisa terus dengan komponen yang tetap, akan ada masanya zona nyaman tidak lagi memenuhi kebutuhan kita dan harus terus kita rubah. Kemungkinan lain yang pasti terjadi dan harus adalah ya kita menciptakan zona-zona nyaman yang baru.

Waktu nggak berhenti, iya nggak, sama seperti sekarang gue menulis, waktunya lari-lari sampai gue tersadar gue belom konsultasi skripsi. Skripsi gue yang istilahnya itu harta benda gue yang cukup berharga untuk kemaslahatan kehidupan gue. Gue membawa itu seserius mungkin, tapi drive gue bergerak sebaliknya. Gue bosan sekali akhir-akhir ini. Sangat.

Hampir setiap malem gue kurang tenang, kebangun nggak penting dan akhirnya bengong. Mikir gue nih gimana sih maunya? Tapi sekuat tenaga gue cover ulang semua, hanya sayangnya dilakukan dengan mikir doang. Gue harus bikin target, mencari kenyamanan gue sendiri dengan diri gue sendiri. Membuat zona nyaman yang bisa mendongkrak drive gue untuk bergerak. Nggak ada lagi orang-orang hebat di semester 6 yang bisa diajak ngobrol dari maghrib sampe jam 11 malem di kantin hanya untuk mempertebal serabut-serabut otak. Padahal itu gunanya luar biasa walaupun melelahkan. Semester lalu nggak sampe jam delapan gue udah pulang, bener-bener kesedot bosen banget.

Sekarang? Ke kampus kosong gitu, kantin sepi banget. Beberapa teman-teman angkatan di bawah 2007 bahkan sampe bilang supaya kami bikin skripsi di kampus aja, karena kerasa banget kosongnya. Gue sedih sebetulnya sih. Melihat foto-foto lama, melihat kantin sekarang, melihat kondisi gue sekarang, yah zona nyaman gue nggak cukup lagi membuat kami semua nyaman.

Ada satu hal yang emang nggak berhenti untuk harus terus disesuaikan. Seperti semua hal klise yang disebutkan semua orang, “Apa yang kita dapat di masa depan bergantung kinerja yang kita lakukan sekarang.”

Jadi sekarang gue harus apa? Harus siap-siap lagi buat lari, harus, karena gue bosan membicarakan hal yang terjadi saat ini maupun yang kemaren yang diulang-ulang. Habis topik gue disitu. Gue punya banyak topik lain yang mungkin nggak penting untuk sebagian orang. Tapi apa sih penting nggak penting? Tergantung dari gimana penyikapan kita aja kan? Gue mau berpikir dan berbicara tentang besok.  Besok, besok, dan besok harus apa, konsentrasi gue harus ke situ dan gue nggak boleh goyah sedikit aja, semoga. Karena Cuma itu satu-satunya hal yang bisa merekonstruksi diri seseorang, dengan nggak membiarkan diri sendiri terperangkap di masa kejayaan sekarang dan berhenti, karena waktu nggak pernah berhenti, apalagi mundur. Nggak pernah.That’s life.-fin

Sepenggalan Saja

12 Feb

Dalam kurva distribusi normal ada data-data ekstrem yang terletak di kanan kiri ekor kurvanya. Data tersebut merupakan data yang hasilnya di luar hasil data pada umumnya, tidak terbatas nilai positif dan negatifnya pada masing-masing kutub. Ekstrem kiri dan ekstrem kanan yang jelas-jelas pasti bedanya. Dan bagaimana kalau suatu kali data dari kedua kutub ekstrem tersebut harus bertemu? Nggak kebayang gimana kelangsungan nasib kedua data tersebut.

“Gue percaya bahwa tidak ada yang namanya cocok dalam sebuah relationship, adanya mencocokkan, dan memang selalu begitu.”

Gue mengangguk-ngangguk dalam diam mendengar kata-kata dari salah satu dosen muda gue tersebut. Kemudian dia bercerita bagaimana Ia dan istrinya memiliki karakter yang sangat berbeda. Istrinya cenderung terlihat datar tidak ekspresif, sementara Ia adalah seorang laki-laki yang ekspresif, sehingga dalam beberapa interaksi yang terjadi, mereka terlihat sangat lucu sekali hehe.

Satu yang paling gue ingat adalah cerita mengenai dosen gue ini mau melamar calon istrinya, Ia sudah mempersiapkan setting dan serangkaian hal-hal romantis untuk sekedar bertanya apakah si wanita tersebut mau menjadi istrinya. Kemudian jawaban dari sang calon istri hanyalah sebuah tendangan dan sepotong kalimat  “Ya kamu interpretasi sendiri aja, kan kamu psikolog.”

Sampai saat ini gue nggak bisa lupa betapa gemesnya ekspresi dari dosen gue saat menceritakan hal tersebut, dan gue sangat tau, si calon istri tersebut pasti sebenernya bahagia sekali hehe. Gue paham karena ya gue adalah seseorang yang cukup tidak bisa menunjukkan perasaan-perasaan gue dengan gamblang. Beberapa orang teman dekat menyebut gue “Afek datar” ya sudahlah hehe.

Kembali ke soal mencocokkan, gue akhir-akhir ini berpikir apa susah ya berusaha memahami atau menyeimbangkan cara bersikap, berespon, dan berpikir seseorang? Melihat dosen gue dan istrinya pasti banyak adjustment yang dilakukan. Istrinya beruntung banget,  pikiran dosen gue pasti sangat positif jadi terima-terima aja haha. Gue berusaha begitu, berusaha mencoba untuk melihat celah positif dan itu nggak memberatkan gue sama sekali. Mungkin ada baiknya gue mencoba mempertimbangkan dan berpikir dari sudut pandang yang sangat jarang gue sentuh. Tapi apakah orang lain juga bisa gitu? Apa bisa cukup mudah dan sabar untuk melihat hal-hal yang bisa menjadi celah untuk dicocokkan. Dan apa iya gue beneran sudah melakukan hal tersebut dengan baik? Yah sama seperti tulisan-tulisan gue sebelumnya, gue selalu nggak tau.

Mungkin saja apa yang disebut nggak cocok itu bukan dari segi pembahasan atau obrolan yang terjadi. Bisa aja itu cuma output dan dijadikan tolak ukur ketidakcocokkan karena memang itu yang paling konkret. Beda keyakinan gue rasa juga bukan penyebab timbulnya ketidakcocokkan, walaupun ada value agama yang berbeda satu sama lain. Hal yang paling mendasar dan mengerikan mungkin adalah perbedaan paradigma berpikir. Bagaimana ada seseorang yang selalu berpikir hari esok dan ada mereka yang ingin waktu berhenti. Dari sebuah pemikiran itu aja, cara hidup dan hal-hal yang diperhatikan akan jadi sangat berbeda. Operasionalisasi dalam aspek apapun akan menjadi sangat jauh dan jauh dan jauh dan nabrak dan doa ajalah banyak-banyak.

Perbedaan pola pikir yang membuat gue menjadi data ekstrem entah kanan atau kiri dan kadang-kadang gue sampai menarik nafas untuk mencoba menetralisir hal tersebut. Dan itu nggak memberatkan gue sejujurnya, nggak saat ini.

Hari ini gue agak tertohok mendengar beberapa hal. Mendengar gue tidak akan pernah bisa mengerti dan gue jauh dari bisa mengerti ekstrem data gue dan begitupun sebaliknya. Gue takut sekali, yang gue takut hanyalah gue nggak ingin ditinggal pergi, I start to follow my heart and I’m scared to hell because of it. Berkali-kali gue mikir harus menyelamatkan diri gue sendiri, gue takut merasakan sakit, nggak berani, nggak enak, udah pernah, jadinya gue lumayan kesel waktu gue tau gue “Deg-degan”.

Baru kali ini seumur hidup ada yang bilang gue insensitif, nggak peka, nggak bisa ngerti, respon gue menyebalkan, dsb.  Mungkin gue terlalu larut dengan omongan orang-orang, dengan bagaimana mereka sering menghabiskan waktu bercerita ke gue karena gue nggak judgemental dan gue mencoba melihat bagaimana orang dengan komponen a,b,c, dst dapat melakukan problem solving yang berbeda sesuai apa yang ada dalam diri mereka. Ternyata gue salah. Masih ada dimensi lain yang nggak tersentuh dengan baik oleh gue. Dan sekarang itu di hadapan gue dan auranya begitu besar dan somehow menyamankan sekaligus mengkhawatirkan.

Gue ingin tau bagaimana cara kerja dari sebuah kata kerja cocok menjadi mencocokkan. Ya gue percaya dia kata kerja. Nggak bisa, orang gabisa cocok 100%, Bapak gue membenarkan hal tersebut. Kemudian semua orang tau kalau dalam sebuah hubungan apapun effort harus datang dari kedua belah pihak, nggak bisa yang satu egois terus-terusan ingin mendapat respon yang sesuai sementara yang lain sabar ngejer lari-lari tanpa dipertimbangkan kalori yang keluar dari lari-larinya.

Bila pernah bilang ke gue kalo dia dan pacarnya adalah dua individu yang sangat berbeda. Bila bilang, “Biasanya kenyamanan yang muncul dari 2 orang yang sangat berbeda terjadi karena sebetulnya kalian completed each other tapi dalam menjalaninya akan selalu aja kebentur masalah-masalah banyak karena pada dasarnya kalian berbeda.” Dan dia 3 taun lebih sama pacarnya, ampun hehe.

Bapak gue juga membicarakan hal serupa, bagaimana dia dan mama orangnya 180 derajat bedanya. Sampe guepun nggak bisa ngebayangin dulu pacaran gimana, apalagi selama nikah. Hanya saja, ayah gue mengajarkan gue dengan baik bagaimana kita harus melihat celah positif pada suatu hal yang senegatif apapun, usaha dan usaha untuk lihat celahnya. Dulu itu sulit buat gue, perlahan-lahan gue mencoba melakukannya dan nggak tau masih belum terlalu berhasil sih nampaknya.

Ternyata, masing-masing bagian yang bolong bisa saling ditutupi. Harusnya..logikanya..

Hm entah ya gimana, mungkin positifnya kondisi gue sekarang adalah gue belajar banyak hal, terutama mengenai “merasa” kali ya. Soalnya ya setelah sekian lama, hari ini lapisan kaca di mata gue retak cukup lama hehe. Terimakasih banyak..

dan semoga semua baik-baik saja dan semakin baik, amin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.