Sekitar sebulanan lebih ini gue banyak merasa perubahan-perubahan terjadi dengan begitu drastis dari yang menyenangkan sampe bikin frustrasi. Entah kenapa mungkin dari semester tujuh ada kemandekan yang signifikan dalam kinerja gue. Mulai dari penggunaan isi kepala yang tidak maksimal, kemalasan yang tidak berujung, dan drive yang entah terbang kemana. Bahkan pada saat gue duduk di kantin kampus gue, rasanya bosan..bosan sekali..hmm sudah lewat masanya ya.
Gue nggak pernah nyangka hidup nggak pake sks cukup membosankan. Bukannya gue orang yang rajin belajar terus jadinya mau kuliah terus, tapi bener-bener itu menyerap semua energi gue hanya untuk bengong, diam, dan semakin nggak produktif. Ini udah entah periode bosan yang keberapa. Semester lalu gue memberhentikan semua kegiatan non-akademik dan yah langsung pusat kebosanan gue datang. Sekarang kegiatan gue hanya skripsi skripsi dan skripsi yang penuh keraguan dalam menjalaninya dan mandek dek, damn.
Teman-teman satu per satu mulai hilang. Ada yang udah lulus dan kerja, ada yang yah masih ngejer kuliah, ada yang fokus sama payung penelitian skripsinya, ada juga kali ya yang kayak gue terbang-terbang entah kemana. Comfort zone gue entah kemana, apa masih ada bentuknya atau nggak gue nggak tau.
Belum lama ini seseorang bertanya ke gue, “Apa orang harus selalu keluar dari comfort zone?” , detik itu gue yakin jawabannya iya dan gue memang menjawab hal tersebut. Beberapa hari kemudian gue tersadar, ‘keluar atau tidak’ bukanlah kosa kata yang paling tepat untuk masalah comfort zone. Pembaharuan, ya pembaharuan. Rekonstruksi ulang zona nyaman hidup, itu yang paling bener menurut gue lho ya. Bagaimanapun manusia butuh merasa nyaman, tapi kan zona nyaman itu nggak bisa terus dengan komponen yang tetap, akan ada masanya zona nyaman tidak lagi memenuhi kebutuhan kita dan harus terus kita rubah. Kemungkinan lain yang pasti terjadi dan harus adalah ya kita menciptakan zona-zona nyaman yang baru.
Waktu nggak berhenti, iya nggak, sama seperti sekarang gue menulis, waktunya lari-lari sampai gue tersadar gue belom konsultasi skripsi. Skripsi gue yang istilahnya itu harta benda gue yang cukup berharga untuk kemaslahatan kehidupan gue. Gue membawa itu seserius mungkin, tapi drive gue bergerak sebaliknya. Gue bosan sekali akhir-akhir ini. Sangat.
Hampir setiap malem gue kurang tenang, kebangun nggak penting dan akhirnya bengong. Mikir gue nih gimana sih maunya? Tapi sekuat tenaga gue cover ulang semua, hanya sayangnya dilakukan dengan mikir doang. Gue harus bikin target, mencari kenyamanan gue sendiri dengan diri gue sendiri. Membuat zona nyaman yang bisa mendongkrak drive gue untuk bergerak. Nggak ada lagi orang-orang hebat di semester 6 yang bisa diajak ngobrol dari maghrib sampe jam 11 malem di kantin hanya untuk mempertebal serabut-serabut otak. Padahal itu gunanya luar biasa walaupun melelahkan. Semester lalu nggak sampe jam delapan gue udah pulang, bener-bener kesedot bosen banget.
Sekarang? Ke kampus kosong gitu, kantin sepi banget. Beberapa teman-teman angkatan di bawah 2007 bahkan sampe bilang supaya kami bikin skripsi di kampus aja, karena kerasa banget kosongnya. Gue sedih sebetulnya sih. Melihat foto-foto lama, melihat kantin sekarang, melihat kondisi gue sekarang, yah zona nyaman gue nggak cukup lagi membuat kami semua nyaman.
Ada satu hal yang emang nggak berhenti untuk harus terus disesuaikan. Seperti semua hal klise yang disebutkan semua orang, “Apa yang kita dapat di masa depan bergantung kinerja yang kita lakukan sekarang.”
Jadi sekarang gue harus apa? Harus siap-siap lagi buat lari, harus, karena gue bosan membicarakan hal yang terjadi saat ini maupun yang kemaren yang diulang-ulang. Habis topik gue disitu. Gue punya banyak topik lain yang mungkin nggak penting untuk sebagian orang. Tapi apa sih penting nggak penting? Tergantung dari gimana penyikapan kita aja kan? Gue mau berpikir dan berbicara tentang besok. Besok, besok, dan besok harus apa, konsentrasi gue harus ke situ dan gue nggak boleh goyah sedikit aja, semoga. Karena Cuma itu satu-satunya hal yang bisa merekonstruksi diri seseorang, dengan nggak membiarkan diri sendiri terperangkap di masa kejayaan sekarang dan berhenti, karena waktu nggak pernah berhenti, apalagi mundur. Nggak pernah.That’s life.-fin

Recent Comments