Archive | March, 2011

Just a Glance #12

21 Mar

You don’t destroy people you love.” (Grey’s Anatomy). Sejenak setelah membaca hal ini gue diem, mikir, dan sepakat. I won’t destroy people that I love, never.

***

Gue anaknya kuat. Katanya gitu sih dan gue coba berkali-kali mengembalikan diri gue sendiri untuk berpikir hal serupa akhir-akhir ini. Gue banyak bergantung pada kekuatan pikiran gue, memikirkan banyak hal-hal baik dan celah-celah yang bisa gue temui untuk menjadi lebih baik lagi. Dan kemudian pada kenyataannya akhir-akhir ini gue mudah terpuruk, feeling down, dan hilang. Dengan bahasa sederhana, gue butuh emotional support yang sangat besar.

Tapi kemudian cepat-cepat gue hapus pikiran itu dari kepala gue, karena gue nggak akan membiarkan diri gue jadi seseorang yang luar biasa demanding dan senang menyalahkan lingkungan. Maybe i’m not that strong, but I’m sure I’m not a quitter.

Gue 22 tahun, sidang skripsi periodenya sedang mendekat, masalah pekerjaan,  beberapa tawaran sudah muncul dan dibukakan pintunya, hanya bagaimana gue mau melangkah aja. Gue belakangan lebih diem, nggak terlalu pecicilan, banyak bengong. Dulu tiap hari gue meledak-ledak leloncatan dimana-mana. Sekarang segala aktivitas gue terserap habis dengan drastis dan gue berusaha terus mendekat dengan hal-hal yang menjadi tujuan gue. Kendalanya, gue ciutan, cemasan, nggak berujung, dan gue butuh bantuan. Ah harusnya gue bisa sendiri ya, iya-iya.

I believe that life should be fun and meaningful. You have fun then you should fill yourself with meaningful things so you can save your life. Akhir-akhir ini juga idea of fun orang-orang berbeda, yang mana yang bisa menjadi pelampiasan secepatnya aja, taktis. Orang-orang sudah mulai berganti orientasi pada usia sekarang ini dan itu hal yang baik. Bagaimana dengan seiring bertambahnya usia orang, apapun bisa menjadi fun tanpa harus ada pelepasan adrenaline secara besar-besaran.

And meaningful. Sesuatu yang menyelamatkan orang adalah pikirannya, logikanya kan? Ayo siapapun boleh meneriaki kalo gue sok tau. Tapi Tuhan menciptakan manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena diberikan akal pikiran, and I believe we should use it more. Kalo di mata kuliah faal, sesuatu yang terus dipikir dan dijalani dengan emosi hanya sampai pada batas hewan-hewan mamalia semacam kambing, sapi, dkk. Karena emang mereka dibatasi hanya punya sampai situ. Dan gue manusia, jadi harusnya gue bisa lebih advance cara mikirnya, harusnya.

Gue nggak mencederai fungsi perasaan, fungsi emosi, fungsi kata hati, atau hati nurani yang tidak ingin gue perdebatkan keeksitensiannya. Hanya saja akhir-akhir ini gue menyadari kalau banyak hal yang bisa sangat bias diputuskan menggunakan emosi. Salah satu faktor yang besar  mempengaruhi emosi gue akhir-akhir ini adalah ketakutan dan kecemasan. Stagnan.  Gue nggak bergerak, nggak membicarakan apa-apa, padahal gue tau gue butuh menyalurkannya.

One of my bestfriends said to me, “I let my logic wins.” , dan dia pergi meninggalkan kenyamanan yang sudah dijalankannya. Dan gue terkagum-kagum dengan keputusannya. Gue sendiri belakangan banyak berpikir mengembalikan logika gue pelan-pelan. Bagaimanapun juga kepala gue, diri gue sendiri harus bisa tersetting dengan benar sebelum gue mencoba membantu siapapun. I’m about to be back to the old me, face my fear, get on, and walk tall.

Hari ini, apa yang gue tulis sekarang sebetulnya adalah satu bagian kecil dan langkah awal dari berdamai dengan diri gue sendiri. Semoga. Gue mengharapkan perubahan yang cepat dari diri gue sendiri, berusaha menstabilkan semua hal yang ada dalam kehidupan gue. Perlahan-lahan. Gue berusaha kecil-kecil mengontrol lagi apa yang ada, entah langsung atau entah dari jauh, semua gue coba, selama itu berguna. Masalah gue sekarang satu, bagaimana gue mengatasi kecemasan gue, sukur-sukur ada yang bantu, nggak ada ya gue coba bangun sendirian.

But sometimes, I want you there, sometimes, somehow, with your complicated life and thoughts and feelings, I want you there.-fin

Being Human

2 Mar

Beberapa bulan lalu gue pernah menge-tweet sesuatu yang kira-kira bunyinya begini : “Temen gue @ardityaTegank adalah anak lebay dramatis yang cuma gara-gara bbm-nya nggak dibales bilang kalo gue udah gamau lagi temenan sama dia.” Beberapa menit setelah itu tweet gue dibales sama mas Cahyo, yang isinya cuma “Hati-hati Sa, small things, big impact.” Gue baca sebentar dan ketawa dikit, tertohok hehe.

Gue mungkin udah lama ya berpikir hal yang jauh-jauh,udah lama nggak menikmati keadaan sekarang yang di depan mata seada-adanya. Mungkin terakhir ya sekitar umur-umur  SMP gitu. Gue lupa dan sedikit mati rasa pada hal-hal sederhana yang ternyata cukup dan bahkan sangat membahagiakan untuk beberapa orang. Hal-hal sederhana yang oleh salah satu orang terdekat gue selalu ditekankan dengan kalimat, “Ya namanya manusia.”

Mm manusia ya, yang katanya butuh hal-hal sederhana supaya dirinya bisa tenang, ngerasa enak, ngerasa safe. It’s all about being human. Dan gue? Being human buat gue adalah dengan merasakan dan menjalani secara bertahap tugas-tugas sesuai dengan usia gue. Pada saat sekarang,  menjadi manusia buat gue berarti gue harus berjalan pelan-pelan mendekati apa yang gue targetkan baik jangka pendek maupun panjang di hidup gue. Gue menikmatinya, sangat menikmati sama seperti orang-orang lain yang menikmati dengan nyamannya simple things yang terjadi. Mungkin saja apa yang gue nikmati itu menjadi hal yang berat buat orang lain untuk dipikirkan, menjadi membuat gue semacam orang kaku yang sepertinya nggak ada seni menikmati hidup. Mungkin saja benar dan mungkin juga salah.

Gue lupa bagaimana hanya keindahan bentuk bulan dengan halonya di suatu malam menjadi menenangkan pikiran. Mungkin secara otomatis yang ada di kepala gue hanyalah, yailah bulannya juga besok ada lagi. Padahal kalo diliat-liat dirasain ya emang bagus, emang guenya aja terlalu apatis sama alam dan itu emang kelemahan gue. Yuscha bilang, “Mungkin kalo bulannya ada 10 kita baru ngeh Sas.” Haha ya mungkin sih. Itu emang kelemahan terbesar ketika kita dibesarkan dalam lingkungan yang membuat kita menjadi manusia rasional, mengedepankan logika hampir di semua bidang, dan sahabat-sahabat gue adalah orang yang serupa cara berpikirnya, jadi kami tidak saling membantu kalau mulai membahas hal-hal yang berkaitan dengan simple things. Simple things yang ada dalam kepala kami berbeda.

Gue lupa bagaimana hanya berimajinasi kecil-kecil mengenai sesuatu yang tidak mungkin direalisasikan seperti waktu usia anak-anak itu begitu menarik untuk dibahas. Pikiran gue saat ini mungkin lebih ke planning, bukan berkhayal, merencanakan hal-hal yang bisa jadi 3-5 taun dari sekarang gue realisasikan bersama teman-teman yang sepaham. Dan itulah simple things kami. Haha kalo gue baca ulang lumayan mengenaskan. Eh tergantung dari bagaimana masing-masing menyikapinya sih hehe, ya gue nggak tau kan dan nggak mau juga menjadi judgemental di hanya salah satu sisi pandang.

Dan gue berterima kasih kepada Tuhan. Berterima kasih pada kuasanya yang mempertemukan gue dengan seseorang yang sepintas cara berpikirnya sederhana, tapi sebetulnya sangat kompleks dan dalam. Gue bersyukur dengan ketulusan dan kespontanitasan yang gue temui dalam diri orang ini. Walaupun setengah mati gue berusaha untuk bisa memahami dan belum berhasil. Mm dan kadang-kadang sedih, sedikit merasa tolol hehe.

Gue mendapati bahwa sapaan-sapaan semacam selamat pagi begitu berarti pada beberapa orang, membuat Ia merasa bahwa itu yang tetap dibutuhkan sebagai manusia pada usia berapapun. Gue lupa sudah terlalu lama tidak menginjak ranah tersebut. Kemudian ketika gue mencoba membuka pikiran gue mengenai hal tersebut, itu menjadi tidak menyebalkan. Suatu hari gue terbangun dengan perasaan bahwa itu luar biasa menjadi menyamankan . Terima kasih banyak :) .

Tapi kan ya hidup itu pilihan. Nggak akan ada 2 orang yang berpikiran sama untuk suatu hal, sesama-samanya pasti tetap ada bedanya.  Terserah mau jadi yang mana. Masalah menjadi manusia, mungkin emang bener, nggak usah repot-repot mencari kebahagiaan, ada simple things yang bisa dinikmati dan dirasakan setiap hari kalau kita mau mencoba lebih nyaman menjalani hidup. Untuk gue, mungkin itu yang paling penting dipelajari saat ini. Gue dengan kecemasan gue setiap harinya yang cenderung tidak berhenti-berhenti mungkin perlahan-lahan dapat terobati dengan coba untuk menikmati hal-hal sederhana di sekitar hidup gue. Tapi juga bagaimana pandangan mengenai menjadi manusia harus terus jalan ke depan, nggak berhenti, menyelesaikan tugas-tugas yang emang harus dilalui di usia kita dan ke depannya juga penting. Karena sumber daya yang tidak bisa diperbaharui ulang adalah waktu bukan?

Tapi ya tapi kalo dipikir-pikir dan tentunya dirasakan, hidup mungkin akan jadi lebih seimbang dan sangat berimbang kalau seseorang mampu berpikir dan menjalani hal yang simple, tetapi tetap maju ke depan secara bersamaan. Jadinya nggak terlalu ekstrem santai dan ekstrem nggak santai. Selalu dan selalu ada waktu untuk mempelajari berbagai macam hal dan menikmatinya. Sehingga waktu yang terus berjalan bisa tetap dijalani dengan baik dan tetap dibawa nyaman nggak penuh kecemasan.

Dan mungkin tetap sama aja, yang diperlukan untuk melakukan kedua hal tersebut cuma satu, keterbukaan pikiran dan tidak menilai sesuatu dengan negatif. Itu mungkin ya yang harus dilatih ke setiap orang, agar kita nggak terlalu terganggu dan mempermasalahkan paradigma berpikir orang lain yang mungkin berbeda. Toh sesuatu yang bener-bener berbeda bisa jadi sesuatu yang enak kan? katakan saja air dan kopi, 2 zat berbeda dan kalau dicampur enak kan ya? Daripada kita mikir-mikir semua hal yang berbeda adalah air dan minyak, mungkin bisa di-set ulang pikirannya menjadi air dan kopi.

Dan sekali lagi gue berterima kasih telah bertemu orang yang cukup baik mengajarkan bagaimana hal-hal kecil bisa sangat membahagiakan buat hidup, terima kasih banyak, semoga perlahan-lahan bisa jadi kopi yang enak, amin :) -fin

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.