Bukan “Guru”

11 Jul

Suatu sore di kanlam (kantin lama) Psikologi UI

Gue : Mas, kalo misalnya lo bertemu klien dan hmm katakan saja harapan dia bisa sembuhnya hanya 5% apa yang akan lo lakukan?

Dosen Gue: Tinggalkan, apalagi kalau memang dia tidak mau menolong dirinya sendiri, masih banyak orang lain dengan persentase lebih besar untuk bisa diselamatkan. Tinggalkan.

***

“Laki-laki datang bertemu muka dan pulang bertemu punggung.” Sekitar dua bulan yang lalu Ayah gue mengatakan hal itu kepada gue. Gampangannya kalo kata orang-orang yang udah nonton catatan si boy, “Lo udah start, harus sampe finish.” Gue akan menuliskan kejadian yang menimpa gue sejauh ini. Bukan dengan maksud menjatuhkan siapapun, gue hanya mau menumpahkan segala hal, kekecewaan, kekesalan, dan tentunya dengan rasa syukur yang sangat dalam atas semua hal yang menimpa gue. Gue tidak menyesal, I’m gonna walk tall. Dan selalu ada 2 sisi dalam cerita apapun. This is from my side. Dan ini cara gue menenangkan diri.

Mungkin semuanya berawal dari kekaguman gue terhadap seseorang dari jauh. Mengagumi ciptaan Tuhan dengan sewajarnya, tanpa mengenal, tanpa mengetahui lebih dalam, hanya sekedar “Ohh oke ya.” Dan mungkin sebaliknya itu yang terjadi dari sisinya atau bukan, gue juga tidak tahu. Gue akan menyebut oknum yang akan diceritakan dengan subjek ‘dia’.

Di satu kesempatan akhirnya kami berkenalan dan dia luar biasa santun, kata-katanya bagus, bahkan mau berteriak juga ijin dulu nggak enak, padahal setau gue anaknya rame hingar bingar hehe. Datang dengan semua cerita kehidupannya dan membuat gue jatuh dan berpikir mungkin kita bisa memperbaiki semua keadaan bersama, apa yang tidak ada di gue ada di dia dan sebaliknya. Spesies berbeda. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue nggak stick to my plan, bener-bener jalanin aja.

Sampai di suatu titik beda spesies itu berarti beda kebiasaan, penyikapan, tutur kata, dan yang paling parah adalah perbedaan paradigma berpikir. Apa yang penting di gue belum tentu penting di dia dan sebaliknya, walaupun kadang sebetulnya secara garis normal beberapa hal itu penting bagi kami bersama. Time flies. Apa yang dikenal di awal berbeda dengan kenyataannya. Impresi hanyalah sekedar impresi, realita tetap tak bisa dihindari. Apa hal yang paling buruk yang pernah lo alami dalam sebuah relationship? Diteriaki dengan kata-kata kasar? Dicuekkin? Excess baggage masih mengingat masa lalu? Come on I had it all in one package man.

Pelampiasan amarah menjadi sangat mudah dilakukan, kata-kata kasar berjatuhan tanpa ada penyaring batas-batas kemanusiaan, dari mulai goblok, tolol, bego sampai sepaket kebun binatang. You don’t say those things to people, especially your spouse. Dan gue? Diem ajalah, karena bahkan dalam otak gue, gue jijik membayangkan kalau sampai gue harus mengatakan hal-hal itu ke orang lain, nggak proper dan nggak perlu. Berbicara dengan orang ini kesulitannya adalah batas-batas salah dan benar adanya bukan di distribusi normal, tapi di dirinya. Sekali gue bertingkah laku atau berbicara yang tidak mendukung wahamnya yang konon berasal dari perasaannya (maksud gue, enak di dia nggak? Menyamankan dia nggak?) maka output yang keluar adalah “Kamu sotoy”. Walaupun detik berikutnya dia akan berkata, “Ya tapi aku tau kamu bener.” Emang kadang-kadang rasio sama emosi itu untuk beberapa orang sampai tuapun nggak akan pernah bisa berimbang.

Dan hari-haripun tetap berlalu. Kesalahan gue yang terbesar adalah memang memikirkan perkataan beberapa orang terdekatnya terlalu dalam dan sering untuk sabar, memaklumi, dan segala macam yang tidak usah disebutkan detailnya. Smita bilang, “The hardest part is not forgiving others, but forgiving yourself. For letting yourslef drag  into that kind of situation”. Hmm iya. Mungkin gue juga typical yang nggak terjun langsung tapi bergerak around environment menjaga apa yang dia lakukan dan penting bagi hidupnya agar nggak gagal. Ujung-ujungnya gue disadarkan oleh beberapa orang lain bahwa itu bukan tanggung jawab gue, gue nggak bisa merubah ya bukan salah gue, salah dia yang nggak mau menolong untuk merubah dirinya sendiri. Dan guepun menghela nafas panjang, iya juga ya. Walaupun tetep diterusin. Aduuhhhh….

Spiteful words hurt your feelings..it’s a soul mutilation. Gue mendengar di depan mata gue bagaimana dia menyebutkan bahwa “Masa aku mesti nurunin standar aku buat kamu?” Oke mungkin maksudnya nggak segitunya tapi output kata-katanya gitu. Dan gue terdiam beberapa hari karena beberapa kata-kata yang gue dengar dan mungkin nggak usah dibahas. Excess baggagenya juga bener-bener nggak terkontrol. Gue tau every little detail mengenai apa yang ditulis di social networks atau foto yang diganti berasosiasi dengan masa lalunya. Menyakitkan sih  dan gue diam. Kenapa? Karena kalau gue confront tidak ada gunanya dan saat itu urusan kehidupan gue yang lain sangat penting untuk diselesaikan jadi mending gue menstabilkan emosi gue.

Waktu tetap berlari, sampai suatu hari gue mendapatkan bbm mengenai sudahlah semua diakhiri dengan rentetan kata-kata malas, capek, dan sekian hal egosentris lainnya dan tetap kata-kata kasar. Malam itu gue melarikan diri ke rumah temen gue, menenangkan diri sendiri. Lebih ajaibnya beberapa hari setelah itu dia datang tanpa penjelasan lebih lanjut, tanpa kata-kata apapun seolah-olah nggak terjadi apa-apa, Dan guepun tetap diam berusaha mengerti, “Oh mungkin kemaren kecapean atau ada sesuatu yang buruk terjadi.” Ikhlas.

Semua dimulai lagi dengan baik. Dan yah tau kan ada beberapa orang di dunia ini yang walaupun kesempatan jenis apapun diberikan berkali-kali ujung-ujungnya tetap dirusak juga? Suatu hari akhirnya dia hilang tidak berkabar. Yasudah. Sehari, dua hari dan berhari-hari. Sampai gue mendengar dari seseorang bahwa oh dia sudah tidak “berasa” lagi nih. Gue menghubunginya, untuk bertemu dengan maksud menyelesaikan dengan baik segala hal yang ada. Normal gitu udah gede. Dan nggak mau, katanya malu belum berani bertemu. Yaudahlah orang emang ada flawnya masing-masing. Beda-beda aja.

Setelahnya gue  pergi jalan-jalan mengurangi pikiran batin dan kembali. Dengan harapan ayo selesaikan semua atau mungkin benerin, apapunlah dengan baik-baik. Dan yang gue dapatkan hanyalah disaster demi disaster yang membuat kepala gue mengutuknya berkali-kali, sampai gue sadar, nggak sehat.

Masih terpeta jelas di kepala gue ketika pada momen akhirnya kalimat-kalimat ajaib yang membuat gue menghela nafas berkali-kali dilontarkan. Detailnya gausah disebutinlah yaa, ntar emosi terus jadi sama disfunctionnya heheh gabaik juga. Dan tetap sampai akhirpun gue masih diberikan wejangan sempurna dari bahasanya mengenai tolol dan teman-temannya. Dan ditutup dengan bye nih pake :) buat formalitas. And via bbm again. Ahh there’s a big difference between a jerk and a coward. Yakali jadi samsak kesalahan guenya.

Malam itu gue menyetir ke luar rumah dan dihampiri beberapa orang yang nggak tau dateng dari mana tapi Alhamdulillah. Gue pulang dan bertemu ayah gue. Gue menghela nafas mengeluarkan air mata sedikit dan berkata, “Satu-satunya hal yang gue sesali adalah kenapa gue nggak bisa membalas balik semua omongan yang kasar? Kenapa bahkan ketika gue mau mengeluarkanpun nggak mampu, gue mau meluap emosinya nggak bisa karena menurut gue itu nggak manusiawi banget, bukan gitu cara ngetreat orang lain. Dan itu membuat gue lemah karena gue diam, diam dan diam ckk.” Ayah gue cuma menjawab, “Bagus kan? Kamu dari spesies yang berbeda, value berbeda, kalo merasa nggak pantes nggak usah dilakukan, toh kualitas hidup kamu juga berbeda, dia bukan guru kamu.”

Oh iya, nggak semuanya apa yang dilakukan orang mesti dibales sama. Setidaknya gue tidak perlu mendegradasi apa yang ada dalam diri gue. Seorang teman berkata ke gue, “Gue nggak ngerti kalo gue jadi lo, how do I cope with that?” dan gue cuma senyum-senyum aja, “Yah life’s good mannn, lesson learnt uhuy.” *sambil tetep dengerin netral berisik di mobil dan ngamuk-ngamuk dikit haha ya wajarlah ya semogaaaa. Gratefully, I have a good family, teachers, and friends that lead me to a good life, amien..and they always keep my head up for everything. As Mark Sloan from Greys Anatomy told Callie Torres “All you have to do is be brave enough to get out there. You fought, you loved, you lost. Walk Tall Torres.”

Satu hal, semoga kamu tergerak untuk datang bertemu muka dan pulang bertemu punggung. Thanks for your kind words :) (and this is not only for formality dear). And for real, wish you all the best -fin

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.