Posted by: saskhyaauliaprima on: August 5, 2009
Dan gw tertawa mendengarkan ini …
Chairlift-bruises
I tried to do handstands for you
I tried to do headstands for you
Everytime I fell on you, yeah, everytime I fell
I tried to do handstands for you
But everytime I fell for you
I’m permanently black and blue, permanently blue for you.
I tried to do handstands for you
I tried to do handstands for you
Everytime I fell on you, yeah, everytime I fell
I tried to do handstands for you but everytime I fell for you
I’m permanently black and blue, permanently blue for you-ooh-ooh-ooh
For you-ooh-ooh-ooh
So black and blue-ooh-ooh-ooh
For you-ooh-ooh-ooh.
I grabbed some frozen strawberries so I could ice your bruising knees
But frozen things they all unfreeze and now I taste like….
All those frozen strawberries I used to chill your bruising knees,
Hot July ain’t good to me
I’m pink and black and blue for you.
I got bruises on my knees for you
And grass stains on my knees for you
Got holes in my new jeans for you
Got pink and black and blue
Got bruises on my knees for you
And grass stains on my knees for you
Got holes in my new jeans for you
Got pink and black and blue for you-ooh-ooh-ooh
For you-ooh-ooh-ooh
So black and blue-ooh-ooh-ooh
For you-ooh-ooh-ooh
(ahahahahaha permanently black and blue..sejujurnya lagunya enak bangettt)
Posted by: saskhyaauliaprima on: August 3, 2009
One day in a class
A : I miss the “ahhhh” moment when someone tell me that she loves me and ask me to be hers. You know some kind of a feeling that can make you say and think nothing but “yes.”
X : hmm..actually, maybe we don`t really need the “ahhhhh” moment..maybe just some lucky people who have ever felt that “ahhhhh”..
A : Have you?
X : hmm almost ahahaha
Another day in a class
Z : Dunia ini anda dan anda adalah dunia buat saya,jadi bagaimana saya percaya kalau dunia saja mengkhianati saya?
X : “arghhhh” moment
One night in a car
X : Kenapa kamu nggak pergi lagi aja? Enak kan? Bebas? Nggak usah pusing nemenin aku yang nyebelin?
Y : Hmm..kamu tau nggak kalo kamu luka digaruk aja yang dalem, nah nanti nggak bakalan sakit lagi, sakitnya berhenti
X : Ho ya?
Y : Iya berhenti selama 5 menit abis itu sakit nggak berghenti-berhenti
X : ……
Y : Ya gitu kira-kira gambarannya
X : (menghembuskan nafas pelan, jeda beberapa detik) jadi maksudnya aku koreng ?
X&Y : Hahahahaha
X : (meminum tehnya sampai habis tanpa jeda)
Then, definitely “ahhh” moment..well “drrrrrt” moment haha
hahhhhhhhhhhhhhhhhhh sial haha
Posted by: saskhyaauliaprima on: July 26, 2009
Gw akhir-akhir ini sedang khawatir sendiri nggak karuan. Takut ini, takut itu nggak jelas. Nggak akhir-akhir ini sih, seringnya gw kayak gitu. Gw orang yang cukup punya planning terhadap semua hal yang akan gw lakukan ke depannya. Gw merencanakan banyak hal dalam hidup gw, bahkan mungkin gw punya rencana apabila terjadi hal yang paling buruk menurut bayangan gw. Sampai tiba-tiba kemarin gw terdampar di Warung Pasta bersama Sadi dan Tegank, gw membaca sebuah kalimat di salah satu artikel referensi kami. Kalimatnya begini bunyinya, ”Men propose, but God Disposes”.
Gw terdiam sebentar. Bagaimana kalo ada hal-hal yang kelupaan, nggak kepikiran, atau bahkan yang nggak ingin gw pikirkan kejadian? Gimana cara gw menanggulanginya? Ya sejujurnya pertanyaan-pertanyaan semacam itu terlintas terus di kepala gw sampai suatu hari gw menyadari untuk nggak dipikirkan karena akan menghambat kemajuan diri gw sendiri. Tapi eh tapi susah juga ya nggak dipikirin.
Pertanyaan yang ada dari seputar ntar gw gimanalah semester ke depan dengan peminatan, tugas akhir, dan semacamnya. Ntar abis sarjana gw mau gimana lagi? Gw pasti stress kalo wisuda, abis itu gw mau ngapain? Mau langsung kuliah lagi takut kenapa-kenapa, entah nggak keterima, entah apa deh pokoknya, mau kerja dulu, astaga cari kerja ternyata susah lho.Pertanyaan tersebut nggak berhenti sampai sekitar semingguan lebih yang lalu gw ngobrol dengan Sarah di salah satu coffeeshop yang mulai lumutan gw duduk disana. Kami berdua ngomong ngelantur kemana-mana sampai ke pembahasan masalah relationship. Gimana caranya membuat situasi menjadi balance, nggak awkward, menjadi normal ketika sebuah relationship yang terbina cukup lama, oke lebih dari setahun harus berakhir? Gimana kalo nggak happy ending? And your ex is your bestfriend? Masih bisa bertemankah? Susah kan. Membayangkan misalnya beberapa tahun kemudian masing-masing pasangannya berbeda, berkeluarga, argh gimana coba coping-nya? Haha ya sebenernya itu nggak seharusnya dipikirin itu sih, tapi kadang-kadang merinding ngebayanginnya.
Belum lama ini gw bertanya sesuatu yang agak menekan pikiran gw, “What if we didn`t make it? Gimana kalo ternyata udah nunggu selama apapun hasilnya tetep tidak sesuai harapan? Nggak happy ending? Nggak sayang sama waktu?”, dan orang yang gw tanya hanya tersenyum sambil bilang, “Ya sayang sih sama waktu, but i`m working on it, so please, stop asking about it okay? I already know the risk, the consequences, there`ll be ways.”
Sejenak setelah itu gw teringat bude gw berkata, “Ada masa, ada akal.” Gwpun menghembuskan nafas perlahan. Ya mungkin benar nggak seharusnya gw khawatir sama hal-hal yang belum terjadi, walaupun memprediksikan sesuatu atau siap-siap menghadapi worst case scenario nggak sepenuhnya mengganggu kemajuan hidup. Tapi ya bener juga sih, ketika tiba masanya, akan ada beberapa jalan yang bisa membantu untuk menghadapi hal-hal tidak menyenangkan yang datang. Buktinya, liat semua orang di sekeliling kita aja, pasti begitu deh. Liat diri sendiri deh, pada saat UTS gw menunjukkan angka 4 gw langsung tau gw harus apa selanjutnya supaya gw lulus ujian hahahaha. Sebelum gw tau hasilnya 4, gw Cuma beandai-andai paling, kalo gw stress berandai-andai terus-terusan, gw bisa-bisa nggak jadi belajar jadinya mungkin ujian gw 2, haha plis jangaannnn…jangan 4 apalagi 2…oh no no no no no no.
Yah, biasa ngomong gampang, disuruh praktek pasti nanti gw tetep kesandung-sandung,s emoga nggak sampe lecet. Hm, yah mungkin gw harus banyak-banyak berdoa dari sekarang supaya semua hal nggak buruk-buruk amat nantinya. Mungkin kalo kepikir yang jelek banget gw akan ngomong Naudzubillahimindzalik aja kali ya.-fin
Posted by: saskhyaauliaprima on: July 14, 2009
5 Juli 2009 eyang putri gw yang bernama eyang Tjiptasih Soetardjo binti Danang Danoesoerjo meninggal dunia. Masih keinget jelas banget gimana rasanya gw terbang pagi-pagi ke Semarang, masuk ke ruang tunggu RS Elizabeth dan dokter memanggil bude,tante, bapak, dan ibu gw. Nggak berapa lama hp gw berdering. Sapaan “halo” gw disambut jerit tangis nyokap gw yang Cuma ngomong, “Sa…Uti…” dan masih kerasa banget gw langsung lari diikuti sepupu-sepupu yang ada di ruangan itu dan membuka tirai ruangan uti yang langsung pada detik dibuka tirainya Uti menghembuskan nafas terakhirnya. Gw linglung sebentar dan menangis sedikit melihat ibunda dari bapak gw akhirnya pergi pada usia 81 tahun. Dan gw nggak sanggup melihat raut wajah bapak gw. Gw patah hati.
How do you know when balance is balance?
Coba lihat sehari-sehari, ada yang dateng ada yang pergi. Pada saat uti gw meninggal hari itu juga salah satu sahabat gw bernama Resa berulang tahun. Hari itu pasti banget ada bayi yang lahir. Bagaimana setiap harinya semua orang kurang memperhatikan betapa seimbangnya rangkaian kehidupan. Ya termasuk gw yang sering mengeluh kenapa sih gw lagi gw lagi? Gw sedih lagi? Begini lagi dan bla bla bla. Tanpa pernah mau berpikir dalam jangka waktu yang bersamaanpun gw sempat merasa senang. Tapi yang kepikir yang keuingkit-ungkit ke nggak adilan hiduplah, sedihlah, dsb. Kenapa ya? Mungkin karena nggak ada gambaran nyata dan jelas apa itu balance dan kapan sesuatu dibilang balance.
Uti menunggu sampai 81 tahun menjelang kepastian dalam hidupnya. Kepastian dia kembali pada penciptanya. Karena cuma hal itu yang bisa dinyatakan dengan kata ”Pasti” di kehidupan ini. Life is full of surprises. Surprisenya nggak selalu menyenangkan kan? Pasti ada yang menyedihkan kan? Kata Papa, ”Bagaimana manusia menghadapi surprise-surprise dalam hidupnya itu yang membuat seseorang menyia-nyiakan atau tidak menyia-nyiakan waktu kepastian yang diberikan Tuhan kepadanya.” Kadangkala orang-orang berlarut-larut sedih karena merasa surprise yang datang selalu tidak menyenangkan. Termasuk gw tentunya. Tanpa melihat big picturenya, tanpa melihat ada hal-hal yang menyenangkan juga. Iya sih nggak bisa dicompare, namanya juga ngerasa sedih.
Salah satu teman sepermainan gw baru-baru ini sedang jatuh cinta dengan seseorang. Tapi sayang disayang orangnya nggak jelas dan bikin dia sedih aja. Gw mendengar beberapa kali dia berkata, ”Kenapa sih gw gini terus? Dulu gw juga kayak gini sekarang gw diginiin lagi.” dan dia tidak berhenti bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa. Padahal dia lupa menghitung, pada saat yang bersamaan dia juga membuat orang lain patah hati. Ada yang jatuh cinta sama dia dan dia tinggalkan haha. Yah manusia, pasti memiliki kesulitan menghadapi surprise yang tidak diharapkan dan tidak menyenangkan. Gwpun mengerti banget. Kan katanya John Mayer ”Bad news never had good timing” haha. Jadi ya ngerasanya semuanya lagi nggak bagus aja. Ngerti banget sih rasanya berinvestasi perasaan dengan seseorang karena orang lain itu mentrigger kita untuk berinvestasi dan dia hilang, pergi aja gitu. Haha ya lagi sial aja mungkin. Bisa sih gw ngomong gitu. Walaupun kadang-kadang pengen gw lempar pake kaleng kepala orang yang membuat gw merasa “lagi sial aja” itu haha.
How do i cope with bad surprises? Nggak tau deh, time heals, time will reveal. Tapi kan kalo dipikir lagi menghambat banget ya. Menghambat optimalisasi diri sama kemajuan perkembangan diri sendiri hehe. Mandek, macet, susah move on dari bad surprises. Damn it, dan itu pasti kejadian. Kata bapak, “Jangan sampe bad surprises menghambat semua rencana-rencana kehidupan lo.” Terus gimana cara menghadapinya? Hey man, jujur aja, gw nggak punya jawabannya hehe. Ya nikmati aja surprise-surprisenya.-fin
P.S: Semoga Uti diterima dengan baik di sisi-Nya..amiin..selamat jalan ya Uti, titip salam buat Tuhan supaya disini semua dijagain dengan sebaik-baiknya. Maaf ya Ti kemaren yang nulis nama Uti di kertas itu aku terus tulisannya nggak bagus, habis aku nggak tau lagi bisa bantu apa lagi, selamat jalan ya uti
Posted by: saskhyaauliaprima on: June 30, 2009
Entah bagaimana caranya, salah satu hal yang paling gw percaya adalah logika. Logika gw yang terpisah dari batas emosi apapun. Logika mentah gw. Gw akan frustasi setengah mati kalo-kalo gw bertindak against all my logic. Pada momen logika sama emosi gw nggak sejalan, bener-bener merepotkan.
Sesungguhnya gw benci banget yang namanya perasaan nggak bisa dinetralkan dengan logika. Mungkin bisa untuk kontrol tapi tetep aja salurannya beda dan itu mengganggu luar biasa. Perasaan gw, emosi gw adalah hal yang paling sering menjatuhkan gw seumur-umur, perkiraan tidak mendasar dan cuma karena intuisi-intuisi tertentu yang guarantee-nya eksternal. Sementara janji cuma janji, semua orang kalo punya kepentingan emang manis banget, kalo udah nggak punya? Mereka minggat aja secara dramatis? Dan gw? Gw ditemenin sama kopi lagi haha. Makanya, hal yang paling gw percaya di dunia ini adalah logika gw. Life taught me that.
Bisa salah? Tentu bisa sekali sodara-sodara, tapi paling enggak gw punya akurasi datanya. Jadi gw tau letak kesalahannya dan bisa menghentikan kata ’tapi’ dan ’kenapa’ dalam hidup gw. Secara umum, banyak hal gw menangkan atas logika gw, merasa rugi?menyesal? Well, gw udah tau dari logika gw nantinya gw akan menyesalkah atau rugikah jadinya paling gw menyendiri, berkontemplasi lagi dan lagi, mencari dan menemukan pencerahan baru harusnya gw gimana ke depannya. Percaya sama gw, itu capek banget, sejujurnya kadang-kadang gw mau menyerah aja sama logika gw. Karena gw juga nggak kuat.
“Ya sana silahkan kalo mau jalanin aja, tapi jangan merengek-rengek sama gw kalo kemudian hari lo menyesal.” Ya Tuhan bagaimana mungkin gw menjalani sesuatu yang taraf keyakinannya bisa dibilang 95% kalo significant 1 dalam hidup gw ketok palu ngomong begitu? Ngomong terserah? Logisnya, gw manusia dewasa, bisa menentukan sendiri hal yang gw ingin jalankan atau tidak. Tapi gw nggak bisa mengesampingkan mereka begitu saja. Klise kalo gw bilang orang tua selalu tau yang terbaik buat anaknya. Gw punya proposal hidup sendiri juga untuk diajuin dan didiskusikan.
Logisnya? Gw akan terus mencari titik terang, alat perang gw kurang memadai untuk dibawa ke medannya. Semuanya belum cukup. Tanpa tau pasti kapan deadlinenya. Ngeselin, bikin capek, nyakitin. Kenapa gw menjalani sesuatu yang alat perangnya belum memadai dan deadlinenya belom ada? Karena yakin sesuatu itu signifikan?
”Kadang-kadang yang dibutuhin cuma keyakinan aja.” It turns out orang yang bilang hal itu ke gw adalah orang yang mematahkan keyakinan gw untuk mengikuti feeling gw.
Hmm,
And without a doubt you`re significant for me.
Suatu hari Smita pernah bilang, ”It`s hard, but you can try.” Dan gw kembali duduk, ngopi lagi, pelarian yang nggak logis.-fin

see????