Posted by: saskhyaauliaprima on: November 18, 2009
Crazy dance, Laugh, New situations, New people, New “drrrttt” moment which sometimes you can smile or laugh everytime you remember or talk about it..
This is what i love about Piastro, it`s like living in a dream for a week..and now i have to wake up, POP!! Hey you thanks for the final thingy haha splendid!!! Thanks everyone, it`s been fun
Oh anyway it`s fun to take a pic. with this legendary malik hahaha
Oh God i miss it already..
“Piastro tuh nyebelin tapi ngangenin” (smita prathita, apa aditya mahendra? Ya salah satu dari kalian lah hehe )
Posted by: saskhyaauliaprima on: November 18, 2009
Perbincangan sore hari dengan seorang teman berinisial “P” :
Gw : Gw tuh biasanya kalo di-sms pasti bales deh, pokoknya kalo nggak berlanjut yang terminasi hubungan dan pembicaraan bukan gw, makanya gw nggak bisa banget deh sms duluan gw tuh tertekan, nanti kalo nggak dibales gw stress sendiri aduh
P : Iya Sas, tapi cinta tuh kadang-kadang nggak butuh pembalasan
Gw : rrrr lo minggat aja deh sana-sana hush hush sinetron banget astagaa
Gw & P : Hahaha
Suatu hari di sebuah kelas teori perkembangan:
Dosen: Ya kalo dalam pertemanan kamu nggak menerima balik perasaan kamu bahwa seseorang adalah sahabat ataupun teman kamu, kamu aja sedih kan? Gimana kalo itu perasaannya berhubungan dengan ”love” dan nggak balik? Nggak terbalas? Intimacy-nya nggak dapet kan?
Hari yang sama setelah perkuliahan di toilet kampus :
Gw : Tuh, bukan kadang-kadang nggak butuh pembalasan, tapi kadang-kadang memang tidak berbalas aja.
P : Haha iya sih hahahahahahha
Gw : (Geleng-geleng)
Yak semoga ke depannya kita semua belajar legowo seperti si P, sangat besar hatinya, ikhlas bangettt haha..-fin
Posted by: saskhyaauliaprima on: November 16, 2009
“Pengambilan keputusan yang tergesa-gesa akan mengurangi kualitas dari keputusan tersebut.”
Kira-kira begitulah sepenggal kalimat yang gw dengar berbulan-bulan yang lalu. Kalimat tersebut ditujukan langsung untuk gw dari seseorang. Waktu denger itu gw cuma diem aja menerawang, santai sih, nggak terlalu dipikirin. Tapi belakangan mungkin agak men-distract pikiran gw.
Gw mungkin termasuk orang yang lama banget mikirin ini itu, memutuskan ini itu dan apalah namanya. Gw cenderung bertahan untuk nggak menjawab apapun. Tapi ya tapi pada suatu hari gw harus menentukan satu jawaban pasti untuk setiap stimulus apapun yang dateng ke gw.
Gw inget suatu hari di akhir 2008, gw memutuskan untuk mundur teratur dari beberapa situasi. Gw mulai menyendiri. Keputusan tersebut gw ambil karena gw nggak bisa mengkonfrontasikan apa yang gw rasakan dengan beberapa pihak tertentu. Gw berhasil menjuh dari beberapa hal, situasi, dan orang-orang tertentu. Menyesal? Nggak tau, gw masih dalam proses membenahi pikiran-pikiran gw.
Dalam hal lain suatu hari seorang teman baik bertanya, ”What does it take from me to be your man?”, jangan disalahartikan pertanyaan tersebut memang hanya pertanyaan mau tau aja, nggak ada maksud tertentu, paling tidak yang gw tangkap begitu. Gw bengong beberapa detik memilah apa yang ingin gw jawab. Kebetulan orang ini punya beberapa qualities yang menarik buat gw, tapi gw emang nggak expect apa-apa, akhirnya gw hanya menjawab, ”As long as you know what you`re going to do, have a great drive to reach it.” And he said, “Well, that`s why I won`t be able to stay with you anyway.” Gw hanya tertawa kecil mendengarnya dan segera mengganti topik pembicaraan.
Di waktu lainnya gw mendapati seorang teman gw mengaku seberapa tertariknya Dia dengan gw. Sekali lagi dia hanya mengaku nggak minta apapun, dia hanya bertanya apakah gw keberatan untuk mungkin perlahan dia mendekat lebih dari teman. Gw si anak yang cenderung tidak suka menjawab akhirnya memilih jawaban aman yaitu, “Kalo sekarang sih gw keberatan.” Dan akhirnya disalahtangkapkan dengan sebuah kalimat, “Okay, i`ll wait.” Dan menjerumuskan gw untuk menjauh dari dia belakangan ini. Damn it, gw kehilangan teman lagi.
Sekarang ini gw diingatkan oleh seseorang karena menurut Dia gw terburu-buru memutuskan sesuatu. Gw dianggap tertekan dengan pemikiran-pemikiran gw sendiri. Gw membatasi diri sendiri dengan option-option nggak jelas yang datangnya dari gw sendiri. Dan semuanya hanya karena sebuah decision yang gw tetapkan untuk dijalani. Sehingga membawa kualitas keputusan gw menjadi tidak sebaik itu..
Tolong, untuk sekali ini jangan ada intervensi atau interupsi apapun dalam kehidupan gw, biarkan gw memutuskan bergerak berdasarkan kemauan gw sendiri. Sekarang ini gw memberikan kepercayaan lebih dari 50% untuk mengambil jalan-jalan ini. Ditanya apakah gw menyesal dengan semua hal itu? Insya Allah nggak, gw merasa ada dalam track yang semestinya.
Sejujurnya gw bingung apakah hal ini benar atau salah? Tapi benar-salah nggak mugnkin keliatan sekarang kan? Kadang-kadang gw kesel kenapa menyesal selalu datang belakangan, kenapa nggak dia muncul di depan? Jadi gw bisa mengantisipasi jalan yang gw ambil. Tapi itu bukan hidup namanya sih haha.
Gw memutuskan nggak ingin terburu-buru dalam banyak hal lagi. Gw akan lebih hati-hati, gw nggak akan membiarkan kejadian tahun lalu terulang lagi, gw down lagi, cukup sekali aja. Tapi susah, karena gw bukan peramal. Gw mau nunggu aja kira-kira Tuhan memberikan petunjuk apa. Satu hal yang gw putuskan dengan yakin hanyalah memperbaiki kehidupan akademis di kehidupan gw.
Gw penat banget. Rasa-rasanya gw ingin keluar paling nggak sebulan aja dari kehidupan gw biasanya. Gw ingin tinggal di luar kota entah dimana hanya untuk sendiri dulu aja. Tapi Cuma rasa-rasanya sih. Gw nggak boleh lari. Hah Face it like a true human being.-fin
Posted by: saskhyaauliaprima on: October 22, 2009
Suatu malam dalam perjalanan pulang setelah belajar psikometri bersama :
Gw: Itu soal Psikologi Abnormal neken hidup banget sampe bingung gw mau jawab apa di ujian tadi
Afi : Emang! Apa coba isiannya? Masa soalnya, TIDAK MAU KELUAR RUMAH merupakan salah satu ciri-ciri orang dengan social phobia dan …….. ?
Gw : (diem ngeliatin Afi)
Afi : Nggak punya uang? Bisa kan gw isi gitu? (sambil ngotot ngamuk-ngamuk)
Smita: Nggak punya pacar! (sangat semangat)
Gw: Rambut Lepek!!! (lebih semangat lagi)
Semua: hahahahahaha
(dan akhirnya kita pulang bersama dengan bahagia)
Memang displacement dari perasaan-perasaan tertekan bisa ditumpahkan lewat menjawab soal UTS sekalipun..selamat belajar UTS teman-teman =) -fin
Posted by: saskhyaauliaprima on: October 22, 2009
Oke, gw mengalami kemandekan untuk ingin menulis sesuatu yang banyak berkecambah di kepala gw. Bukan karena nggak ada ide, ide banyak banget sampe ketumpuk di handphone bahkan mungkin gw buang nggak tau kemana. Masalahnya adalah gw merasa waktu yang ada mulai membatasi keinginan gw untuk menyalurkan apa yang gw pikirkan ke dalam bentuk tulisan. Biasanya gw cepat terganggu oleh beberapa masalah yang berujung untuk dituliskan sebagai bentuk dari self defense mechanism gw haha. Dulu gw bisa menargetkan dalam seminggu gw harus menulis 1 hal paling nggak supaya gw nggak kelabakan, atau nggak males mikir. Ya tapi apa mau dikata, semester ini ada beberapa goal-goal yang ingin gw kejar dalam waktu singkat, sehingga banyak priority lain yang mesti gw dahulukan.
Sekarang ini gw memasuki tahun ke-3 gw berkuliah di psikologi. Gw mulai merasa banyak yang menarik. Nggak baru mulai sih kayaknya term yang tepat, hmm ya mungkin bisa dibilang semakin menarik. Kenapa gw bilang menarik? Karena setiap membaca buku gw mendapati bahwa inilah kesalahan gw selama ini ataupun perasaan kayak ”iya juga sih”. Cukup mengganggu tapi berharga dan menyenangkan juga kok rata-rata. Menariknya lagi adalah sudah banyak hal-hal yang bisa gw refleksi dari keseluruhan gw menjalani hidup sejauh ini.
Sehubungan dengan peminatan yang gw ambil di semester gw yang sekarang, gw banyak menjalin relationship dengan essay dan tentunya gw juga akan semakin membina kedekatan dengan buku-buku. Gw bukan anak rajin ke perpus nyariin buku atau apalah, gw baca yang bisa ajalah supaya urusan gw dilancarkan yang kuasa, bisa Tuhan bisa juga dosen haha. Gw mendapati sebuah buku berjudul How Good Parents Raise Great Kids yang harus dijadikan tema untuk essay psikologi sekolah gw. Dari sekian poin-poin yang ada gw tertancap pada satu poin yang menekankan tentang self-esteem. Basi emang, ketancep self-esteem baru semester 5 mennnnn basi banget sementara dari awal mula menginjakkan kaki di psikologi lo langsung ketemu sama kata itu. Tapi yang berbeda kali ini gw mulai mencoba buka mata buka hati untuk merefleksikan si self-esteem ini ke dalam diri gw berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ada, ciehhh… haha
Oke definisi singkatnya dari self esteem dari How Good Parents Raise Great Kids itu adalah mental picture people have of themselves, the sense of self that comes from feeling capable and competent, the inner feeling of “okayness” and adequacy that lies deep in the psyche. Hm, mungkin gampangannya bisa diterjemahin juga jadi sense of self-worth atau kepercayaan bahwa diri kita berharga. Yah liat dari komponennya dari definisi tersebut adalah feeling capable dan competent dalam menjalani hidup. Outputnya sebenernya orang-orang dengan self-esteem yang baik akan cenderung merasa bahwa dirinya sudah berharga dan dia akan merasa bahagia menjalani hidup apa adanya. Asik ya? Nggak semua orang lho bisa, contohnya gw, gw pernah ada dalam masa-masa suram dengan self-esteem rendah dalam kurun waktu yang lama haha. Percaya sama gw itu nggak baik untuk kesehatan, kalo kata bukunya sih itu bisa menjerumuskan lo ke jurang pergaulan yang tidak baik haha yah klisenya begitu, tapi rata-rata klise itu benar, ya walaupun seperti banyak klise lainnya, klise juga nggak selalu benar haha silahkan dipikir sendiri anda klise yang mana.
Hmm, suatu hari saat gw membuka-buka twitter gw menemukan sebuah tweet yang gw lupa ditulis Tasia atau Andret yang tulisannya ”Gw ingin kembali ke masa SMA gw dengan diri gw yang sekarang dan teman-teman yang sekarang”. (sorry ya Tas, ndrett gw kutip-kutip aja haha). Gw terdiam cukup lama setelah membaca kalimat itu. Mungkin sih terakadang nggak cuma masa SMA, gw mau kembali ke masa-masa dulu dengan diri gw yang sekarang, mungkin juga dengan kualitas teman-teman yang sekarang. Yah tapi nggak apple to apple sih kalo gw melihat lagi lebih dekat.
Anyway, masih terekam dengan jelas semua kejadian masa lalu yang nggak enak di kepala gw, ya yang menggembirakan juga masih terekam sih, tapi yang nggak enak kan biasanya goresannya cukup lama haha. Di beberapa buku yang gw baca, peer-pressure memiliki korelasi dengan tinggi-rendahnya self-esteem seseorang. Ketika memasuki usia-usia remaja, pendapat orang lain mengenai diri kita itu ngaruhnya banyak. Kalo liat dari gw sendiri sih banyak hal yang coba gw sesuaikan dan gw batasi walaupun nggak sesuai kata hati gw supaya ya gw nggak tersingkir-tersingkir amat dari kehidupan. Gw terganggu dengan hal-hal kecil, dengan omongan orang-orang mengenai penampilan si A si B atau si C ataupun dengan mendengar bahwa gw diomongin apalah dari belakang dan sekian hal lainnya. Dan tepat sekali komen orang-orang itu ngaruh banget dan hampir setiap hari gw mengalami anxiety yang besar dalam hal-hal kecil. Mulai dari penampilan paling gampang, pembawaan, bahkan cara berpikir. Damn it, itu salah satu kebegoan gw juga, mungkin waktu itu masih labil aja. Ketika usia 12-14an itu mengganggu, ketika 15-17 gw udah mulai bisa milih sendiri dan nggak terlalu takut. Usia 18-sekarang gw serasa lepas dari kandang berasa free free freee gw lebih bahagia. Gw yakin beberapa teman juga merasakan hal yang serupa karena udah sering diobrolin juga kan ya enak dan nggak enaknya sekarang dan dulu.
Dalam tulisan ini gw nggak akan melakukan displacement dengan menyalahkan pihak-pihak tertentu yang mendukung terganggunya self-esteem gw sehingga ada beberapa penyesalan karena tindakan-tindakan gw menjadi limited. Sisi baiknya adalah sebuah kenegativan bisa di-reframe untuk dilihat positifnya jadi gw tau sekarang untung ruginya. Lingkungan yang sekarang lebih membuat gw berpikir terbuka kalo dalam kehidupan dan kenyataan sebenarnya penampilan, pemikiran, dan pembawaan punya keunikan sendiri-sendiri bagi masing-masing orang. Ternyata what the hell banget tertekan karena merasa si A lebih cantik dari gw ataupun lebih pinter ataupun lebih anggun. Ternyata nggak semua bisa diukur cuma dari fisik, jadi gw belakangan suka ketawa kalo inget dulu gw dan beberapa temen suka serem dan waswas mendengar temen-temen gw ada yang yah mungkin suka nge-label si A jelek bangetlah, badannya nggak okelah, dan lalalala sehingga berujung pada penghindaran massal khas kelabilan kehidupan. Belom tentu men 5 taun lagi dari sekarang orang yang lo omongin itu become nothing. Gw sudah mulai sirik dengan keberadaan mereka. Mereka yang berhasil meng-improve dirinya, memaksimalkan potensinya, dan sekarang bukti nyatanya dapat dilihat dari keberhasilan mereka di dunia sosial.
Barusan adalah pembicaraan gw dengan beberapa orang baru dan teman-teman lama yang sekarang udah berubah banget karena keberhasilan adaptasinya di kehidupan yang baru. Karena itulah gw mendapatkan pencerahan. Ohh iya sih gw bodoh berlarut-larut selama ini mengasihani diri gw sendiri, mencari-cari terus kekurangan gw, ini dia kenapa masalah gw nggak selesai-selesai, nilainya C- ngulang terus, masih ada proses pembelajaran yang belom selesai. Fine sebenarnya gw tetep harus nyari, tapi mungkin sekarang gw harus bisa lebih mengakali bagaimana mengurangi ataupun menambal kekurangan tersebut. Gw mencoba mengobrol dengan berbagai macam orang yang gw nilai positive thinkingnya besar luar biasa dan gw bersyukur gw hidup dan mengenal teman-teman gw yang sekarang dan juga yang dulu. Gw nggak perlu jadi emo-emo nggak jelas tiap 5 menit sekali berkeluh kesah. Gw sudah bisa mulai mengotaki dengan lebih baik mana yang harus gw simpan dan mana yang harus gw keluarkan kalo udah mulai penuh. Terkadang gw masih ngeluh gw kurang di sana-sini tapi yaudahlah.
Seseorang ngomong sama gw, ”Bahaya lho kalo lo terus bilang ke diri lo sendiri lo nggak bisa apa-apa, lo punya potensi, kompetensi ada, tinggal gimana cara lo menggalinya aja.” Gw rasa semua orang juga begitu adanya dan sekarang gw perlahan-perlahan mencoba berjalan mencari pencerahannya dan menuju titik terangnya.
Yah intinya terimakasih kepada masa lalu gw yang berkontribusi besar terhadap reduksi self-esteem gw sekaligus berkontribusi besar dalam membuat gw berefleksi kesalahan apa yang telah gw perbuat, dari kalian gw belajar sangat banyak, so then i can move forward. Dan terimakasih masa sekarang yang dengan sangat baiknya memberitahu gw don`t get swallowed by the shadow, so that i have to produce light to shine by my ownself.
Hm, apa gw mau kembali ke masa lalu dengan diri gw yang sekarang? Haha tidak..sudah saatnya gw berbagi dengan orang lain dan nggak mengurusi diri gw sendiri lagi. Terima kasih semua teman-teman dan orang-orang yang pernah gw kenal, I love you full deh =).. semoga kadar ke-nggakpentingan pemikiran gw bisa berkurang haha .-fin