Living in my La La LanD!!!

Curhat Terpendam Mahasiswa/i Jaman Kini

Posted by: saskhyaauliaprima on: October 22, 2009

Suatu malam dalam perjalanan pulang setelah belajar psikometri bersama :

Gw: Itu soal Psikologi Abnormal neken hidup banget sampe bingung gw mau jawab apa di ujian tadi

Afi : Emang! Apa coba isiannya? Masa soalnya, TIDAK MAU KELUAR RUMAH merupakan salah satu ciri-ciri orang dengan social phobia dan …….. ?

Gw : (diem ngeliatin Afi)

Afi : Nggak punya uang? Bisa kan gw isi gitu? (sambil ngotot ngamuk-ngamuk)

Smita: Nggak punya pacar! (sangat semangat)

Gw: Rambut Lepek!!! (lebih semangat lagi)

Semua: hahahahahaha

(dan akhirnya kita pulang bersama dengan bahagia)

Memang displacement dari perasaan-perasaan tertekan bisa ditumpahkan lewat menjawab soal UTS sekalipun..selamat belajar UTS teman-teman =) -fin

Refleksi Pagi Ini : I do love you past :)

Posted by: saskhyaauliaprima on: October 22, 2009

Oke, gw mengalami kemandekan untuk ingin menulis sesuatu yang banyak berkecambah di kepala gw. Bukan karena nggak ada ide, ide banyak banget sampe ketumpuk di handphone bahkan mungkin gw buang nggak tau kemana. Masalahnya adalah gw merasa waktu yang ada mulai membatasi keinginan gw untuk menyalurkan apa yang gw pikirkan ke dalam bentuk tulisan. Biasanya gw cepat terganggu oleh beberapa masalah yang berujung untuk dituliskan sebagai bentuk dari self defense mechanism gw haha. Dulu gw bisa menargetkan dalam seminggu gw harus menulis 1 hal paling nggak supaya gw nggak kelabakan, atau nggak males mikir. Ya tapi apa mau dikata, semester ini ada beberapa goal-goal yang ingin gw kejar dalam waktu singkat, sehingga banyak priority lain yang mesti gw dahulukan.

Sekarang ini gw memasuki tahun ke-3 gw berkuliah di psikologi. Gw mulai merasa banyak yang menarik. Nggak baru mulai sih kayaknya term yang tepat, hmm ya mungkin bisa dibilang semakin menarik. Kenapa gw bilang menarik? Karena setiap membaca buku gw mendapati bahwa inilah kesalahan gw selama ini ataupun perasaan kayak ”iya juga sih”. Cukup mengganggu tapi berharga dan menyenangkan juga kok rata-rata. Menariknya lagi adalah sudah banyak hal-hal yang bisa gw refleksi dari keseluruhan gw menjalani hidup sejauh ini.

Sehubungan dengan peminatan yang gw ambil di semester gw yang sekarang, gw banyak menjalin relationship dengan essay dan tentunya gw juga akan semakin membina kedekatan dengan buku-buku. Gw bukan anak rajin ke perpus nyariin buku atau apalah, gw baca yang bisa ajalah supaya urusan gw dilancarkan yang kuasa, bisa Tuhan bisa juga dosen haha. Gw mendapati sebuah buku berjudul How Good Parents Raise Great Kids yang harus dijadikan tema untuk essay psikologi sekolah gw. Dari sekian poin-poin yang ada gw tertancap pada satu poin yang menekankan tentang self-esteem. Basi emang, ketancep self-esteem baru semester 5 mennnnn basi banget sementara dari awal mula menginjakkan kaki di psikologi lo langsung ketemu sama kata itu. Tapi yang berbeda kali ini gw mulai mencoba buka mata buka hati untuk merefleksikan si self-esteem ini ke dalam diri gw berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ada, ciehhh… haha

Oke definisi singkatnya dari self esteem dari How Good Parents Raise Great Kids itu adalah mental picture people have of themselves, the sense of self that comes from feeling capable and competent, the inner feeling of “okayness” and adequacy that lies deep in the psyche. Hm, mungkin gampangannya bisa diterjemahin juga jadi sense of self-worth atau kepercayaan bahwa diri kita berharga. Yah liat dari komponennya dari definisi tersebut adalah  feeling capable dan competent dalam menjalani hidup. Outputnya sebenernya orang-orang dengan self-esteem yang baik akan cenderung merasa bahwa dirinya sudah berharga dan dia akan merasa bahagia menjalani hidup apa adanya. Asik ya? Nggak semua orang lho bisa, contohnya gw, gw pernah ada dalam masa-masa suram dengan self-esteem rendah dalam kurun waktu yang lama haha. Percaya sama gw itu nggak baik untuk kesehatan, kalo kata bukunya sih itu bisa menjerumuskan lo ke jurang pergaulan yang tidak baik haha yah klisenya begitu, tapi rata-rata klise itu benar, ya walaupun seperti banyak klise lainnya, klise juga nggak selalu benar haha silahkan dipikir sendiri anda klise yang mana.

Hmm, suatu hari saat gw membuka-buka twitter gw menemukan sebuah tweet yang gw lupa ditulis Tasia atau Andret yang tulisannya ”Gw ingin kembali ke masa SMA gw dengan diri gw yang sekarang dan teman-teman yang sekarang”. (sorry ya Tas, ndrett gw kutip-kutip aja haha). Gw terdiam cukup lama setelah membaca kalimat itu. Mungkin sih terakadang nggak cuma masa SMA, gw mau kembali ke masa-masa dulu dengan diri gw yang sekarang, mungkin juga dengan kualitas teman-teman yang sekarang. Yah tapi nggak apple to apple sih kalo gw melihat lagi lebih dekat.

Anyway, masih terekam dengan jelas semua kejadian masa lalu yang nggak enak di kepala gw, ya yang menggembirakan juga masih terekam sih, tapi yang nggak enak kan biasanya goresannya cukup lama haha. Di beberapa buku yang gw baca, peer-pressure memiliki korelasi dengan tinggi-rendahnya self-esteem seseorang. Ketika memasuki usia-usia remaja, pendapat orang lain mengenai diri kita itu ngaruhnya banyak. Kalo liat dari gw sendiri sih banyak hal yang coba gw sesuaikan dan gw batasi walaupun nggak sesuai kata hati gw supaya ya gw nggak tersingkir-tersingkir amat dari kehidupan. Gw terganggu dengan hal-hal kecil, dengan omongan orang-orang mengenai penampilan si A si B atau si C ataupun dengan mendengar bahwa gw diomongin apalah dari belakang dan sekian hal lainnya. Dan tepat sekali komen orang-orang itu ngaruh banget dan hampir setiap hari gw mengalami anxiety yang besar dalam hal-hal kecil. Mulai dari penampilan paling gampang, pembawaan, bahkan cara berpikir. Damn it, itu salah satu kebegoan gw juga, mungkin waktu itu masih labil aja. Ketika usia 12-14an itu mengganggu, ketika 15-17 gw udah mulai bisa milih sendiri dan nggak terlalu takut. Usia 18-sekarang gw serasa lepas dari kandang berasa free free freee gw lebih bahagia. Gw yakin beberapa teman juga merasakan hal yang serupa karena udah sering diobrolin juga kan ya enak dan nggak enaknya sekarang dan dulu.

Dalam tulisan ini gw nggak akan melakukan displacement dengan menyalahkan pihak-pihak tertentu yang mendukung terganggunya self-esteem gw sehingga ada beberapa penyesalan karena tindakan-tindakan gw menjadi limited. Sisi baiknya adalah sebuah kenegativan bisa di-reframe untuk dilihat positifnya jadi gw tau sekarang untung ruginya. Lingkungan yang sekarang lebih membuat gw berpikir terbuka kalo dalam kehidupan dan kenyataan sebenarnya penampilan, pemikiran, dan pembawaan punya keunikan sendiri-sendiri bagi masing-masing orang. Ternyata what the hell banget tertekan karena merasa si A lebih cantik dari gw ataupun lebih pinter ataupun lebih anggun. Ternyata nggak semua bisa diukur cuma dari fisik, jadi gw belakangan suka ketawa kalo inget dulu gw dan beberapa temen suka serem dan waswas mendengar temen-temen gw ada yang yah mungkin suka nge-label si A jelek bangetlah, badannya nggak okelah, dan lalalala sehingga berujung pada penghindaran massal khas kelabilan kehidupan. Belom tentu men 5 taun lagi dari sekarang orang yang lo omongin itu become nothing. Gw sudah mulai sirik dengan keberadaan mereka. Mereka yang berhasil meng-improve dirinya, memaksimalkan potensinya, dan sekarang bukti nyatanya dapat dilihat dari keberhasilan mereka di dunia sosial.

Barusan adalah pembicaraan gw dengan beberapa orang baru dan teman-teman lama yang sekarang udah berubah banget karena keberhasilan adaptasinya di kehidupan yang baru. Karena itulah gw mendapatkan pencerahan. Ohh iya sih gw bodoh berlarut-larut selama ini mengasihani diri gw sendiri, mencari-cari terus kekurangan gw, ini dia kenapa masalah gw nggak selesai-selesai, nilainya C- ngulang terus, masih ada proses pembelajaran yang belom selesai. Fine sebenarnya gw tetep harus nyari, tapi mungkin sekarang gw harus bisa lebih mengakali bagaimana mengurangi ataupun menambal kekurangan tersebut. Gw mencoba mengobrol dengan berbagai macam orang yang gw nilai positive thinkingnya besar luar biasa dan gw bersyukur gw hidup dan mengenal teman-teman gw yang sekarang dan juga yang dulu. Gw nggak perlu jadi emo-emo nggak jelas tiap 5 menit sekali berkeluh kesah. Gw sudah bisa mulai mengotaki dengan lebih baik mana yang harus gw simpan dan mana yang harus gw keluarkan kalo udah mulai penuh. Terkadang gw masih ngeluh gw kurang di sana-sini tapi yaudahlah.

Seseorang ngomong sama gw, ”Bahaya lho kalo lo terus bilang ke diri lo sendiri lo nggak bisa apa-apa, lo punya potensi, kompetensi ada, tinggal gimana cara lo menggalinya aja.” Gw rasa semua orang juga begitu adanya dan sekarang gw perlahan-perlahan mencoba berjalan mencari pencerahannya dan menuju titik terangnya.

Yah intinya terimakasih kepada masa lalu gw yang berkontribusi besar terhadap reduksi self-esteem gw sekaligus berkontribusi besar dalam membuat gw berefleksi kesalahan apa yang telah gw perbuat, dari kalian gw belajar sangat banyak, so then i can move forward. Dan terimakasih masa sekarang yang dengan sangat baiknya memberitahu gw don`t get swallowed by the shadow, so that i have to produce light to shine by my ownself.

Hm, apa gw mau kembali ke masa lalu dengan diri gw yang sekarang? Haha tidak..sudah saatnya gw berbagi dengan orang lain dan nggak mengurusi diri gw sendiri lagi. Terima kasih semua teman-teman dan orang-orang yang pernah gw kenal, I love you full deh =).. semoga kadar ke-nggakpentingan pemikiran gw bisa berkurang haha .-fin

Exploration is a Good Way to Reframe Your Bad Thoughts

Posted by: saskhyaauliaprima on: October 3, 2009

070402.jpg

Ohh i`m so in love with this…

Hmm..sometimes all you need is EXPLORATION haha..-fin

Warisan turun-temurun

Posted by: saskhyaauliaprima on: October 3, 2009

10 tahun yang lalu

Mama : Kamu ni udah besar, udah tau nggak ada mbak bukannya bantuin mama kek cuci piring, bersihin rumah, siap-siapin apa kek, nggak ada peka-pekanya (dan bla bla bla bla yang bisa anda prediksikan sendiri kalimat-kalimat selanjutnya)

Dan pada saat itu gw kesel, ngedumel sendiri kenapa Mama kerjaannya marah-marah doang, nyuruh-nyuruh doang, padal gw juga bantu sih meskipun sedikit.

Mama : Kamu tau nggak dulu eyang anaknya 7 semuanya setiap hari kerja bantu rumah nggak ada mbaknya, nggak ada nih kayak kamu leha-leha nggak jelas nggak tau mau ngapain, mama juga dari SD begitu kok!

Dan gw tetap MENGGERUTU!

10 tahun kemudian

Gw : Lo nih ya Dek udah tau nggak ada mbak kalo makan cuci sendiri kek, jangan ngeberantakin kek, bantuin kek udah gede gitu nggak mau ngapa-ngapain (dan bla bla bla bla yang bisa anda prediksikan sendiri kalimat-kalimat selanjutnya)

Dan adek gw ngedumel nggak jelas sambil kadang-kadang bilang, ”Aku tadi udah lap meja, aku kan juga udah bantuin sedikit lalalalala.”

Gw : Lo nih ya dulu gw sendirian juga bantuin mama pas lo masih kecil nggak ada mbak, nggak santai-santai nggak jelas kayak lo gini, daritadi yang masak gw, yang cuci piring gw, lo bangun pagi aja susah banget sih dek! Gw dulu dari SD udah bantu, lo kan udah SMP.”

Dan adek gw makin MENGGERUTU!

Dan mungkin 10 tahun mendatang anak-anak gw akan merasakan gw sebagai si mama bikin menggerutu hahahaha..

Hm, pada intinya gw cukup sepakat bahwa “one day all the women in this world will become monsters”

Hm..coba kita lihat berapa banyak generasi monster yang akan berkembang biak..makanya tolong saling membantu coba tolong terutama yang laki-laki dimohon pengertian yang sangat besar haha.-fin

Generasi-generasi monster menggendut dan marah-marah haduhhh

Generasi-generasi monster menggendut dan marah-marah haduhhh

Masalah di Sana dan di Sini

Posted by: saskhyaauliaprima on: August 26, 2009

“Problem terbesar dari homesick adalah pikiran-pikiran berlebihan yang ada di kepala kita.” Gw mendengar kata-kata itu dari salah satu pembicara sesi materi acara di kampus gw beberapa waktu lalu. Seketika rasa ngantuk gw hilang setelah mendengar statement tersebut. Hmm mungkin nggak berlaku buat homesick doang, mungkin buat semua masalah yang terjadi di sekeliling gw dan terjadi pada gw, hal itu berlaku.

Gw sedang mengingat-ingat kejadian yang belakangan ada di hidup gw. Kebetulan akhir-akhir ini banyak teman yang bermasalah. Dari mulai masalah keluarga, masalah kuliah, masalah pergaulan, dan tentunya masalah percintaan. Entah kenapa sepertinya kehidupan orang-orang lagi berat aja dan mereka membawanya berat sekali. Gloomy berhari-hari, menangis nyaris setiap hari, bengong dimanapun berada, dan tentunya rokok dan beberapa minuman seru menjadi sahabat sehari-hari selama dirasa masalah tersebut tidak kunjung berhenti. Yah, gimana lagi, namanya juga manusia. Bebaslah ngapain aja supaya merasa lebih enteng.

Hmm gw hanya orang yang mendengarkan dan berusaha menjadi supporter dan cheerleader setiap temen-temen gw cerita masalahnya apa. Berusaha membuat beberapa hal dirasionalkan untuk dipositifkan supaya yahh biar kerasa aja ada brighter side dari semua hal. Tapi namanya orang lagi sedih kadang-kadang ngeyel banget sampe gw gemes sendiri haha. Ya iyalah gw juga susah kalo disuruh mikir positif pas lagi sedih, butuh waktu agak lama.

”Oi nggak capek apa marah-marah terus?”, suatu hari gw melontarkan kalimat itu kepada salah seorang sahabat gw, sejujurnya gw mulai lelah mengajak berpikir positif. Gw mengatakan kepada dia untuk yaudah sih di-manage lagi printilan-printilan di kepalanya, dirasionalkan lagi hal-hal di sekelilingnya, jalan aja terus, kalo stuck di satu tempat dan mengasihani diri sendiri apa sih yang selesai? Bakal muter-muter disitu aja kan? Gw tau menikmati kesedihan itu salah satu hal yang sejujurnya tanpa disadari memuaskan batin sekali. Tapi mau sampe kapan coba? Dan gw ditepis dengan sebuah pernyataan, ”Tapi lo nggak tau rasanya jadi gw kayak gini, teori kan gampang Sas.”

Hmmm ya ya ya teori memang mudah dan emang nggak semua orang progressnya cepet dalam menata kembali logikanya. Gw berkaca pada diri sendiri, sebenernya apa iya gw nggak ngerasain apa yang temen gw rasain? Gw hanya tersenyum aja pas dia bilang gitu. Hooo mungkin dia nggak tau setiap orang punya komedi satir sendiri-sendiri dalam hidupnya, termasuk gw. Kebetulan pada detik ini gw sedang malas menghayati komedi-komedi tersebut, gw lebih banyak diam dan yah seperti kata teman-teman kuliah gw, ”senyumin aja” and it works, gw lebih enteng.

Ngomong sama gw masalahnya apa sih? Masalah pernah merasa nggak tau diri sendiri siapa? Tiba-tiba nggak nyaman sama sekeliling lo? Yah gw rasa setiap orang hampir pasti pernah merasa ”hilang” seperti ini. Masalah percintaan? Apa? Dikasih harapan terus ditinggal? Astaga denger lagunya the panasdalam ”perempuan masih ada 3.000.000.021 haha, yah laki-laki juga nggak Cuma 1. Oke marahin gw kalo tetep masih pada teriak emang gampang cari yang baru? Yaudah sendiri aja dulu sambil jalan-jalan nggak apa-apa kan? Takut nggak nikah-nikah, Haduh coba jangan pake kata-kata ”udah” pakailah kata-kata ”masih”. ”Umur gw udah 20!!!” ganti deh jadi, ”Umur gw masih 20!!!” Ini teori, ya ini teori, berat diterapkan, mudah diucapkan, tapi paling nggak dengan kalimat-kalimat itu kepala kita jadi punya pikiran lain ketimbang keseret-seret gelombang nestapa hidup bukan? Ciehh haha. Oh ya lagian percaya sama gw ketika seseorang itu hilang dari hidup kita bebrapa bulan kemudian kita akan merasa bersyukur kalo dia terleminasi dengan sendirinya. Entah lo mendapati ternyata si orang ini plinplan luar biasa, cupu, kelewat drama king / drama queen. Percaya deh Tuhan emang nggak selalu memberikan pengetahuan yang Ia miliki buat kita, tapi kita pasti dapet jawabannya nggak tau kapan, dan gw masih belajar untuk menerima beberapa pengetahuan-Nya nggak dibagi ke gw dan berusaha mensyukurinya sampe sekarang.

Gw inget banget pembicara homesick itu bilang salah satu cara untuk mengurangi beban homesick adalah dengan mengganti kalimat-kalimat yang biasa digunakan dalam sms,e-mail,telfon, dll. Jangan sms orang tua kita dengan kalimat, ”Bu disini susah banget, susah makan, temen-temen juga nggak ada yang peduli.” coba kalimatnya diganti jadi, ”Bu disini cukup susah sih, tapi kayanya saya masih bisa dan sanggup ngejalaninnya.” Buat gw penjelasan pembicara tersebut lebih dari cukup. Bener banget pikiran kita mengatur segalanya.

Hmm..gw sering bilang ke temen-temen gw untuk menikmati dulu aja fase gloomynya. Tapi dibuat deadlinelah nikmatinnya, jangan kelamaan. Sayang banget jalan masih panjang. Menurut gw ngusahain untuk ngembaliin logika itu membantu banget untuk bisa bergerak bebas lagi. Salah satu temen gw ada yang bilang kalo dia mau terus bertahan di fase gloomynya sambil terus berharap, dia lebih baik stuck di keadaan ini yang dia udah tau pasti dia mau menghadapi apa ketimbang jalan ke depan yang nggak tau sebenernya mau lewat jalan mana. Teman gw yang lain seperti Lucky-baba dan Putri, masalah mereka berat mulai dari ekonomi, pendidikan, percintaan, apa deh, orang-orang ini punya masalah lebih freak daripada rata-rata semua masalah yang pernah gw dengar. Tapi Putri dan Lucky-baba menginspirasi gw untuk tetep ketawa-ketawa aja menghadapi apapun, karena pasti ada pintunya buat keluar. Dan gw malu sama mereka, karena terkadang masalah gw remeh dan gw tidak jarang pecicilan sedih sendiri, sementara mereka sehat wal afiat menghadapi apapun, gw bersyukur punya mereka di hidup gw.

Mana yang lebih baik? Seperti biasa gw tidak tahu haha, yah dipikirin aja lebih sehat yang mana buat diri sendiri. Ada yang suka gloomy-an lama-lama? Ya monggo.. ada yang mau maju terus pantang mundur? Aku mendukungmu.. haha.. Yah gw berdoa aja semoga kita semua bisa selesai masalah-masalahnya atau ya ganti pake masalah baru deh biar lebih kaya hidupnya hehe.-fin


Days in a Life

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Previously on my La La Land

Categories

Facebook Profilo

Saskhya Aulia Prima's Facebook profile

Twitter Updates

Blog Stats

  • 9,142 hits